Eva Putriya Hasanah
Bagi jutaan orang, pertandingan sepak bola adalah hiburan. Stadion bergemuruh, layar televisi dipenuhi sorak sorai, dan jalanan dipadati pendukung yang merayakan kemenangan atau meratapi kekalahan tim kesayangannya. Namun, bagi sebagian perempuan di Inggris, malam pertandingan justru menjadi waktu yang paling mengkhawatirkan. Bukan karena hasil pertandingan, melainkan karena meningkatnya risiko mengalami kekerasan di dalam rumah mereka sendiri.
Fenomena ini bukan sekadar dugaan. Penelitian yang dilakukan Stuart Kirby, Brian Francis, dan Rosalie O’Flaherty dari Lancaster University menganalisis laporan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diterima Kepolisian Lancashire selama tiga penyelenggaraan Piala Dunia FIFA, yakni tahun 2002, 2006, dan 2010. Menggunakan pendekatan statistik yang ketat, penelitian tersebut menemukan pola yang konsisten: ketika tim nasional Inggris bertanding, laporan KDRT meningkat secara signifikan. Pada hari ketika Inggris menang atau bermain imbang, laporan meningkat sekitar 26 persen. Ketika Inggris kalah, peningkatannya bahkan mencapai 38 persen. Yang lebih mengejutkan, sehari setelah pertandingan pun angka kekerasan masih sekitar 11 persen lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasa.
Meski data statistik resmi mengenai angka KDRT selama Piala Dunia 2026 belum dipublikasikan, sejumlah pemerhati kekerasan berbasis gender menilai bahwa pola yang ditemukan pada turnamen-turnamen sebelumnya kemungkinan besar masih akan berulang. Goshawk, salah satu peneliti dan aktivis yang mengkaji isu kekerasan terhadap perempuan, menyebut bahwa tidak ada perubahan mendasar dalam tingkat misogini maupun kekerasan dalam rumah tangga di Inggris. Karena itu, ia memperkirakan angka KDRT selama Piala Dunia 2026 tidak akan jauh berbeda dengan tren yang telah diamati pada turnamen-turnamen sebelumnya. Indikasi tersebut terlihat dari meningkatnya permintaan bantuan selama kompetisi berlangsung. Salah satu organisasi amal di tingkat regional bahkan melaporkan bahwa jumlah masyarakat yang menghubungi layanan bantuan KDRT meningkat sekitar 20 persen sepanjang penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Temuan ini menunjukkan bahwa, meskipun data kepolisian masih menunggu rekapitulasi resmi, kebutuhan korban untuk mencari perlindungan dan dukungan telah meningkat secara nyata selama berlangsungnya turnamen.
Temuan ini sering disalahartikan seolah-olah sepak bola adalah penyebab kekerasan. Padahal, para peneliti justru menegaskan sebaliknya. Sepak bola tidak menciptakan pelaku KDRT. Pertandingan hanya menjadi pemicu yang memperbesar kemungkinan kekerasan pada individu yang memang telah memiliki kecenderungan untuk melakukan kontrol, intimidasi, atau kekerasan terhadap pasangannya. Emosi yang memuncak, konsumsi alkohol, tekanan sosial, hingga kekecewaan akibat kekalahan menjadi faktor yang memperburuk situasi yang sebelumnya telah rapuh.
Fakta bahwa angka kekerasan juga meningkat ketika Inggris menang memberikan pelajaran penting. Kekerasan bukan semata-mata dipicu oleh rasa kecewa. Ledakan emosi, baik berupa euforia maupun frustrasi, sama-sama dapat menjadi pemantik bagi pelaku yang selama ini menggunakan kekerasan sebagai cara melampiaskan emosi dan mempertahankan kontrol atas pasangan. Dengan kata lain, masalah utamanya bukan pada pertandingan, melainkan pada relasi yang telah diwarnai ketimpangan kuasa.
Dari sudut pandang perempuan, penelitian ini mengungkap kenyataan yang jauh lebih memilukan. Sebuah pertandingan sepak bola yang bagi banyak orang identik dengan hiburan,ternyata dapat berubah menjadi ancaman keselamatan bagi sebagian perempuan. Saat jutaan orang menantikan gol berikutnya, ada perempuan yang justru menghitung waktu sambil berharap pasangannya pulang dalam keadaan tenang. Ketika media membahas peluang kemenangan tim nasional, sebagian perempuan sibuk memikirkan bagaimana melindungi diri dan anak-anak mereka apabila situasi berubah menjadi kekerasan.
Kerentanan perempuan dalam situasi ini tidak lahir begitu saja. Dalam banyak kasus KDRT, kekerasan merupakan bagian dari pola hubungan yang telah berlangsung lama. Pelaku memanfaatkan berbagai situasi untuk menunjukkan dominasi dan mengendalikan pasangan. Pertandingan besar hanya menyediakan momentum ketika emosi memuncak dan hambatan sosial terhadap perilaku agresif menjadi lebih lemah. Karena itu, tidak semua laki-laki yang menonton sepak bola menjadi pelaku kekerasan. Jutaan orang menyaksikan pertandingan yang sama, mengalami hasil yang sama, tetapi hanya sebagian kecil yang memilih melukai pasangannya. Pilihan melakukan kekerasan sepenuhnya merupakan tanggung jawab pelaku, bukan akibat olahraga itu sendiri.
Temuan tersebut kemudian mendorong berbagai lembaga di Inggris meningkatkan kewaspadaan setiap kali berlangsung turnamen besar. Kepolisian, lembaga pendamping korban, hingga organisasi perlindungan perempuan menyiapkan kampanye khusus menjelang pertandingan tim nasional. Mereka menyampaikan pesan yang sederhana namun penting: sepak bola bukan alasan untuk melakukan kekerasan, dan tidak ada hasil pertandingan yang dapat membenarkan seorang laki-laki menyakiti pasangan atau keluarganya.
Bagi masyarakat yang lebih luas, penelitian ini mengajarkan bahwa kekerasan terhadap perempuan sering kali tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa yang tampak biasa. Kita mungkin menganggap pertandingan sepak bola hanya sebagai hiburan, tetapi bagi sebagian korban KDRT, malam pertandingan bisa menjadi malam yang penuh ketakutan. Kesadaran seperti ini penting agar masyarakat tidak lagi memandang KDRT sebagai urusan privat, melainkan sebagai persoalan sosial yang membutuhkan kepedulian bersama.
Pada akhirnya, peluit panjang yang menandai berakhirnya pertandingan seharusnya menjadi penutup sebuah laga, bukan awal dari penderitaan seseorang di rumahnya sendiri. Sebuah gol, kemenangan, atau kekalahan tidak pernah memiliki kuasa untuk menciptakan kekerasan. Yang melakukannya adalah manusia yang memilih menggunakan kekerasan sebagai cara mengekspresikan kemarahan dan mempertahankan kuasa. Karena itu, fokus utama bukanlah menyalahkan sepak bola, melainkan membangun budaya yang menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Sebab, tidak ada pertandingan apa pun yang lebih berharga daripada rasa aman seseorang di dalam rumahnya sendiri.