Generasi Digital dan Tantangan Artificial Intelligent dalam Pendidikan
Indonesia masih kalah dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara, apalagi di Asia. Ada Singapura, Malaysia dan Thailand yang kuantitas lulusan pendidikan tingginya jauh lebih banyak dibandingkan dengan Indonesia. Di Indonesia, Jumlah Magister sebanyak 0,3 persen penduduk Indonesia. Setiap 1000 penduduk terdapat 3 orang yang lulus magister. Dalam angka jumlah magister sebanyak 405.551 orang. Jumlah doktor sebanyak 0,02 persen. Terdapat sebanyak 143 orang setiap 1 juta penduduk. Jumlah doktor sebanyak 69.209 orang. Seharusnya jumlah ideal dari penduduk Indonesia yang Sarjana, Magister dan Doktor berjumlah 30 persen populasi Indonesia.
Kita bersyukur karena kita akan memasuki jumlah orang Indonesia yang terdidik magister dan doktor. Inilah pernyataan saya dalam pembukaan ceramah ilmiah pada mahasiswa baru Program Magister dan Doktor UIN Syekh Ali Rahmatullah Tulungagung. Acara yang diikuti oleh 383 dari 411 Mahasiswa Prodi Magister dan Doktor. Acara ini diikuti oleh Rektor UIN SATU, Prof. Dr. Abdul Azis, Direktur PPS, Prof. Ahmad Tanzih, Ketua Prodi Studi Islam, Prof. Khozin, Ketua Prodi Ekonomi Syariah, Prof. Agus Edi Sujianto, Sekretaris PPs, Prof. Dr. Erna Iftanti dan Prof. Binti Maunah. 08/09/2026.
Namun demikian, Indonesia sangat membanggakan karena pemahaman dan perilaku religiusnya jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara di dunia. Hanya Turki yang memiliki religiositas tinggi, yaitu Indonesia sebesar 97 persen berbanding Turki 91 persen. Yang tidak kalah menarik adalah tentang transformasi keberagamaan. Kita tentu bersyukur bahwa masyarakat Indonesia dinilai sangat religius. Berdasarkan Alvara Research Center tentang “Indonesia Moslem Report” (2019), Bagi bangsa Indonesia, agama adalah pedoman di dalam melakukan tindakan, makanya, tidak berlebihan jika Alvara menyatakan bahwa terdapat sebanyak 80,2 persen menyatakan bahwa agama sangat penting. Dan dari survey ini juga diketahui bahwa seirama dengan pertambahan usia, maka semakin besar peluang untuk beragama.
Para mahasiswa program Magister dan Doktor di UIN Syekh Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU) yang akan belajar pada prodi strata 2 dan 3 dan akan menjadi ahli dalam bidang ilmu keislaman. Berdasarkan UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, maka terdapat enam rumpun ilmu: Ilmu agama, Ilmu humaniora, Ilmu sosial, Sains dan Teknologi, Ilmu terapan, dan Ilmu formal. Integrasi ilmu harus didasari oleh rumpun ilmu. Rumpun ilmu agama meliputi: Ilmu Alqur’an, Ilmu Hadits, Ilmu Fiqih, Ilmu Tasawuf, Ilmu akhlak, Ilmu sejarah Islam, Ilmu filsafat Islam, Ilmu bahasa Arab, Ilmu sastra Arab, Ilmu dakwah, Ilmu tarbiyah, Ilmu kalam, dan ilmu ekonomi Syariah.
Mahasiswa S1 bisa terdiri generasi Z atau Genzi. Berbeda dengan Mahasiswa S2 dan S3. Generasi Z sering dikaitkan dengan labeling generasi strawberry. Generasi Strawberry untuk menggambarkan anak muda yang dianggap mudah rapuh ketika menghadapi tekanan, seperti buah stroberi yang lembut dan mudah rusak. Digital Native Generation tumbuh ketika internet, smartphone, media sosial, dan teknologi digital sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Conscious Unbossing : paradigma/tren di kalangan Generasi Z yang secara sadar memilih untuk tidak mengejar atau mengambil posisi manajerial (seperti bos atau pemimpin tim) di tempat kerja. Manusia tikus di Cina atau lao shu ren adalah istilah tren gaya hidup saat sebagian pemuda di China memilih hidup menyendiri, nokturnal, dan bertahan di pinggiran sebagai bentuk protes terhadap tekanan kerja serta ekonomi yang berat
Secara general institusi pendidikan tinggi menghadapi era baru yaitu Era artificial intelligent (AI). Secara definitif bahwa AI adalah kecerdasan buatan dalam bidang ilmu komputer dengan tujuan untuk menciptakan piranti dalam kecerdasan untuk membantu kecerdasan manusia. Secara historis bahwa AI ditemukan oleh McCarty pada tahun 1950-an. Kemudian dilanjutkan dengan Alan Turing yang melakukan uji coba untuk menguji kemampuan teknologi yang memiliki kemiripan dengan kecerdasan manusia. Pada tahun 1980-an terdapat perkembangan yang memberikan harapan bahwa AI dapat dikembangkan untuk pengembangan manfaat AI untuk manusia. Tahun 2000-an, AI telah berkembang dengan sangat pesat dan tahun 2020-an, AI telah mengalami perkembangan yang melampaui ekspektasi manusia. (MetaAI diunduh 10/10/2025).
Generasi Milenial termasuk generasi Z, berdasarkan riset Alvara juga diketahui bahwa di antara para pengguna AI dapat ditipologikan sebagai berikut: AI Enthusiast, mereka memiliki pemahaman yang baik terhadap AI dan percaya bahwa AI bermanfaat untuk manusia, mereka juga pioner dalam menggunakan AI. AI Adopter, mereka sedikit terlambat dalam menggunakan AI, tapi masih percaya kebermanfaatan AI. AI Sceptisism, mereka menilai AI lebih banyak negatifnya dibanding sisi positifnya.
Inilah tantangan terbesar institusi pendidikan khususnya pendidikan tinggi di dalam menghadapi AI. Jika kita menggunakan AI dengan tanpa etika, sesungguhnya kita sedang menuju kepada kematian. “Killing Thinking: The Death of Rationality”. Lalu akan terjadi “Killing Thinking: The Death of Expertise” dan “Killing Thinking: The Death of University”. Jika kita berlebihan dalam menggunakan AI dalam dunia akademik, maka akan mencetak generasi yang malas berpikir. AI dapat mencetak manusia yang hanya copy paste. Generasi yang hanya mengkopi dan bukan generasi pemikir. AI dapat mencetak generasi parafraser, bukan generasi thinkingfullness. AI membuat generasi ke depan tidak mampu berpikir untuk menyelesaikan masalah dalam banyak hal. AI seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan kebaikan dan bukan kepentingan pembunuhan atas diri sendiri.
Di dalam dunia pendidikan, maka jadikan AI sebagai supporting dalam penulisan karya akademis: disertasi, tesis, skripsi, artikel ilmiah dan penulisan buku, makalah atau kertas kerja. Jangan dijadikan AI sebagai sumber utama seluruh proses penulisan karya akademis, dan jangan dijadikan AI sebagai penolong seluruh proses penulisan karya akademik. AI adalah mesin yang sesungguhnya diperlukan untuk membantu manusia di dalam banyak aspek kehidupan. Jadikan AI sebagai mitra positif untuk kepentingan penulisan akademik. Manusia lebih hebat dibanding AI karena memiliki etika dan moral yang bersumber dari ajaran agama.
Pendidikan, apalagi pendidikan Islam, memerlukan etika untuk melakukan tindakan akademis. Etika pendidikan adalah panduan yang berisi nilai dan norma yang disepakati untuk dilakukan oleh semua komponen pendidikan. Yaitu tenaga pendidik, mitra didik, tenaga kependidikan, pimpinan lembaga pendidikan dan siapa yang terlibat di dalam dunia pendidikan, misalnya birokrasi kependidikan. Etika tersebut mencakup: lingkungan pendidikan yang kondusif bagi pengembangan kapasitas kependidikan, membangun trust kependidikan, yang meliputi semua komponen pendidikan. Mengembangkan karakter berbasis pada kejujuran, transparansi, keadilan, persamaan dan tanggungjawab. Di antara etika pendidikan tersebut adalah mengembangkan sikap dan perilaku di dalam produk karya ilmiah.
Akademisian perlu menjaga Etika sosial dan akademik untuk kehidupan bersama. Etika akademik merupakan inti dari kehidupan bersama secara akademik. Akademisi tidak boleh bohong. Harus menjaga diri dari hal-hal yang merusak citra diri dan citra akademik. Akademisi jangan melakukan tindakan duplikasi, pemalsuan data dan produk akademis, serta melakukan plagiasi. Akademisi harus mengembangkan kejujuran akademis dalam kehidupan ilmiah. Akademisi harus mengembangkan perilaku amanah yang sesuai dengan kaidah akademis.
Prof. Ahmad Tanzih (2026) menghasilkan inovasi pembelajaran baru yang disebut sebagai model pembelajaran imersif. Model ini dinyatakan cocok untuk mendongkrak pengalaman belajar. Di tengah kecenderungan generasi milenial yang serba instant, serba cepat dan serba IT, maka pembelajaran imersif menjadi menarik untuk dicermati. Yang paling penting adalah bagaimana mengaplikasikan model ini untuk menghasilkan produk pembelajaran yang lebih akseptabel dan possible dilakukan.
Selain itu juga dapat dikembangkan model Discovery learning merupakan proses belajar yang mengharuskan mahasiswa aktif mencari, menyelidiki, dan menemukan sendiri konsep atau pengetahuan baru, bukan hanya menerima informasi dalam bentuk final dari dosen. Discovery learning merupakan konsep pembelajaran yang ditemukan oleh Psikolog Jerome Bruner pada tahun 1961.
Discovery learning merupakan metode pembelajaran yang mengaplikasikan inquiry-based instruction. Metode pembelajaran discovery learning dapat mendorong mahasiswa untuk menyelidiki sendiri, membangun pengalaman dan pengetahuan masa lalu, menggunakan intuisi, imajinasi, kreativitas, mencari informasi baru guna menemukan fakta atau fact finding, korelasi atau correlation, juga kebenaran baru atau novelty.
Model pembelajaran discovery learning bisa dilakukan secara mandiri maupun berkelompok. Pembelajaran berkelompok dapat memiliki berbagai bentuk, seperti diskusi kelompok, proyek kelompok, simulasi kelompok, atau eksperimen kelompok.
Selamat menjadi mahasiswa program magister dan program doktor. Tidak ada produk ekselen kecuali harus berdasarkan atas proses yang ekselen. Jadilah produk pendidikan yang berbasis pada ketekunan, kecanggihan dan mengedepankan trust untuk menghasilkan diri sebagai magister dan doktor yang hebat.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like



