Tubuh Perempuan, Mitos Pasca Melahirkan, dan Kuasa Budaya
Eva Putriya Hasanah
Melahirkan seharusnya menjadi momen ketika seorang perempuan mendapatkan perhatian, perlindungan, dan kesempatan untuk memulihkan dirinya. Namun dalam banyak budaya, masa nifas justru dipenuhi oleh serangkaian aturan yang harus dipatuhi. Tidak boleh tidur pagi. Tidak boleh makan makanan tertentu. Tidak boleh keramas. Tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh ini, tidak boleh itu.
Menariknya, hampir semua larangan tersebut ditujukan kepada perempuan. Seolah-olah setelah melahirkan, tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan menjadi ruang yang boleh diatur oleh siapa saja. Kita sering menyebutnya sebagai “mitos turun-temurun”. Namun jika diamati lebih dalam, mitos tidak pernah benar-benar netral. Ia bekerja sebagai norma sosial yang mengatur bagaimana perempuan harus bersikap, bergerak, bahkan beristirahat. Ketika aturan itu dipertanyakan, jawaban yang muncul hampir selalu sama: “Dari dulu memang begitu.” Kalimat sederhana itu sebenarnya menyimpan kuasa yang besar.
Ambil contoh larangan tidur pagi bagi ibu pasca melahirkan. Tidak ada penjelasan ilmiah yang mendukungnya. Sebaliknya, ilmu kedokteran justru menegaskan bahwa ibu membutuhkan istirahat sebanyak mungkin. Tubuhnya sedang memperbaiki jaringan yang rusak, hormon sedang berubah drastis, rahim sedang kembali ke ukuran semula, sementara bayi yang baru lahir belum memiliki pola tidur yang teratur. Tidak sedikit ibu yang hanya tidur satu atau dua jam sepanjang malam karena harus menyusui setiap beberapa jam.
Ketika bayi akhirnya tertidur setelah matahari terbit, kesempatan terbaik ibu untuk memulihkan tenaganya justru datang. Tetapi pada saat itulah suara-suara di sekitarnya mulai terdengar.
“Jangan tidur pagi .”
“Nanti sakit.”
“Nanti kebiasaan.”
“Orang tua dulu juga tidak begitu.”
Tidak ada bukti medis. Yang ada hanyalah keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Masalahnya bukan semata-mata benar atau salahnya sebuah mitos. Masalah yang lebih besar adalah siapa yang harus menanggung akibatnya. Bukan orang yang memberi nasihat itu yang begadang semalaman. Bukan mereka yang mengalami nyeri jahitan, kontraksi rahim, puting lecet, atau kelelahan menyusui. Yang menanggung semua konsekuensi adalah ibu yang baru saja melahirkan.
Ironisnya, ketika ibu mengalami kelelahan ekstrem, stres, bahkan depresi pasca melahirkan, masyarakat sering melihatnya sebagai kelemahan pribadi. Sangat jarang kita bertanya apakah kelelahan itu justru diproduksi oleh lingkungan yang terus menuntut perempuan menjadi “ibu sempurna” tanpa memberi ruang untuk beristirahat.
Di sinilah patriarki bekerja dengan cara yang paling halus. Patriarki tidak selalu hadir dalam bentuk larangan yang dibuat oleh laki-laki. Ia juga hidup melalui kebiasaan, nasihat, dan tradisi yang diwariskan bahkan oleh sesama perempuan. Seorang ibu menasihati anak perempuannya, seorang nenek menasihati menantunya, seorang tetangga mengoreksi ibu muda. Semua dilakukan dengan niat baik. Namun niat baik tidak selalu menghasilkan praktik yang baik.
Ketika perempuan ikut melanggengkan aturan yang membatasi perempuan lain, patriarki tidak lagi membutuhkan pemaksa dari luar. Ia telah menemukan rumahnya di dalam budaya. Karena itu, persoalan ini bukan tentang menyalahkan generasi terdahulu. Mereka menjalankan apa yang mereka yakini sebagai bentuk kasih sayang berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki pada zamannya. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa, ketika ilmu pengetahuan telah berkembang, kita masih lebih mudah mempercayai mitos daripada bukti.
Padahal ilmu kedokteran telah menunjukkan bahwa kurang tidur pada masa nifas berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi pasca melahirkan, gangguan pemulihan fisik, penurunan produksi ASI pada sebagian ibu akibat kelelahan berat, hingga terganggunya kemampuan ibu merawat bayinya. Anehnya, fakta-fakta ini sering kalah oleh satu kalimat sederhana: “Pokoknya dari dulu begitu.”
Ada paradoks yang menyedihkan di sini. Masyarakat sangat menghargai proses melahirkan, tetapi kurang menghargai proses pemulihan setelahnya. Bayi menjadi pusat perhatian. Sang ibu justru diharapkan segera kembali menjalankan perannya seperti sebelum melahirkan. Ia harus tetap tersenyum, tetap melayani tamu, tetap mengurus rumah, tetap menyusui, tetap bangun malam, tetapi jangan tidur pagi.Tubuh perempuan dipaksa terus memberi, tetapi tidak diberi kesempatan untuk pulih.
Sudah saatnya kita membedakan antara tradisi yang merawat dan tradisi yang membebani. Tidak semua warisan budaya harus ditinggalkan. Banyak tradisi masa nifas yang justru memberikan dukungan emosional, mempererat solidaritas keluarga, dan membantu ibu beradaptasi dengan peran barunya. Tradisi semacam itu layak dipertahankan. Namun tradisi yang mengabaikan kebutuhan biologis perempuan hanya karena “sudah biasa dilakukan” patut ditinjau kembali. Sebab budaya seharusnya melindungi manusia, bukan memaksa manusia mengorbankan kesehatannya demi mempertahankan kebiasaan.
Pada akhirnya, perempuan yang baru melahirkan tidak membutuhkan lebih banyak larangan. Ia membutuhkan lebih banyak kepercayaan terhadap tubuhnya sendiri. Ia membutuhkan keluarga yang berkata, “Tidurlah, biar kami yang mengurus pekerjaan rumah.” Ia membutuhkan lingkungan yang memahami bahwa istirahat bukanlah kemalasan, melainkan bagian dari penyembuhan.
Mungkin inilah mitos terbesar yang perlu kita bongkar: anggapan bahwa ibu yang baik adalah ibu yang terus mengorbankan dirinya. Padahal ibu yang benar-benar mampu merawat bayinya adalah ibu yang terlebih dahulu diberi ruang untuk merawat dirinya sendiri.
You may also like




