Mengapa Semakin Banyak Anak Muda Menjadi Volunteer?
Eva Putriya Hasanah
Beberapa tahun terakhir, kegiatan volunteer atau kerelawanan semakin akrab dengan kehidupan anak muda. Tidak sulit menemukan mahasiswa yang menghabiskan akhir pekan untuk mengajar di daerah terpencil, mengikuti aksi lingkungan, menjadi panitia kegiatan sosial, atau terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat. Bahkan, banyak organisasi kini secara khusus membuka kesempatan bagi anak muda untuk menjadi relawan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga kemanusiaan.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar kesan yang muncul di media sosial. Menurut laporan World Giving Index yang diterbitkan oleh organisasi filantropi internasional CAF, Indonesia selama beberapa tahun terakhir konsisten menempati posisi sebagai salah satu negara paling dermawan di dunia. Salah satu indikator yang diukur adalah keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kerelawanan. Data Gallup bahkan menunjukkan bahwa sekitar 65 persen masyarakat Indonesia pernah menyumbangkan waktunya untuk kegiatan sukarela, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat volunteerisme tertinggi secara global.
Hal ini menarik untuk dicermati. Di tengah anggapan bahwa generasi muda saat ini lebih individualis karena lekat dengan teknologi dan media sosial, justru muncul tren keterlibatan sosial yang semakin kuat. Pertanyaannya, mengapa semakin banyak anak muda memilih menjadi volunteer? Apakah kerelawanan hanya bentuk kepedulian sosial, atau sebenarnya juga merupakan investasi untuk masa depan mereka sendiri?
Ketika Anak Muda Ingin Menjadi Bagian dari Solusi
Berbagai survei global menunjukkan bahwa generasi muda memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap isu-isu sosial. Laporan-laporan yang diterbitkan oleh berbagai organisasi internasional menunjukkan bahwa anak muda tidak lagi ingin sekadar menjadi penonton atas berbagai persoalan yang terjadi di sekitar mereka. Mereka ingin terlibat secara langsung dalam menciptakan perubahan. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui program United Nations Volunteers (UNV) bahkan menegaskan bahwa anak muda bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan aktor penting yang dapat mendorong perubahan sosial melalui keterlibatan aktif dalam masyarakat. Kerelawanan dipandang sebagai salah satu sarana yang memungkinkan generasi muda berkontribusi secara nyata terhadap pembangunan sosial dan ekonomi.
Perubahan iklim, kesenjangan pendidikan, kemiskinan, kesehatan mental, hingga isu keberlanjutan menjadi topik yang banyak mendapat perhatian generasi muda. Kehadiran media sosial juga membuat mereka lebih mudah mengetahui berbagai persoalan yang terjadi di berbagai tempat. Informasi yang dahulu hanya bisa diakses melalui media massa kini hadir setiap hari melalui layar telepon genggam. Paparan informasi tersebut melahirkan kesadaran baru. Banyak anak muda merasa bahwa kepedulian tidak cukup diwujudkan melalui unggahan atau komentar di media sosial. Mereka ingin turun langsung, berinteraksi dengan masyarakat, dan menjadi bagian dari solusi atas masalah yang mereka lihat. Dalam konteks ini, kegiatan volunteer menjadi ruang yang memungkinkan mereka mewujudkan kepedulian tersebut secara nyata.
Kerelawanan sebagai Ruang Belajar yang Tidak Ditemukan di Ruang Kelas
Meski berangkat dari semangat membantu sesama, banyak anak muda kemudian menemukan bahwa kegiatan volunteer memberikan manfaat yang jauh lebih luas. Di ruang kerelawanan, seseorang belajar bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda. Mereka belajar berkomunikasi, menyelesaikan masalah, mengelola konflik, hingga mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu ideal. Kemampuan-kemampuan tersebut sering disebut sebagai soft skills, yaitu keterampilan yang semakin dibutuhkan di dunia kerja modern. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berkolaborasi, berpikir kritis, beradaptasi, dan memiliki empati menjadi kompetensi yang sangat dihargai oleh organisasi maupun perusahaan.
Tidak mengherankan jika banyak perusahaan saat ini mulai melihat pengalaman kerelawanan sebagai nilai tambah dalam proses rekrutmen. Aktivitas volunteer dianggap menunjukkan kemampuan seseorang untuk bekerja dalam tim, memiliki inisiatif, dan mampu berinteraksi dengan masyarakat yang beragam. Dengan kata lain, kerelawanan bukan hanya aktivitas sosial, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang sering kali tidak diperoleh secara optimal di dalam kelas.
Membangun Jaringan dan Memperluas Perspektif
Menurut OECD, lebih dari 860 juta orang di seluruh dunia terlibat dalam kegiatan volunteer setiap bulan. Organisasi tersebut menilai bahwa kerelawanan bukan hanya menghasilkan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat kohesi sosial, partisipasi warga, dan pengembangan kapasitas individu. Sehingga manfaat bisa dirasakan para relawan adalah kesempatan untuk membangun jejaring sosial yang lebih luas. Dalam berbagai kegiatan volunteer, anak muda bertemu dengan mahasiswa dari kampus lain, profesional dari berbagai bidang, aktivis sosial, hingga tokoh masyarakat.
Pertemuan-pertemuan tersebut sering kali membuka peluang baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Ada yang menemukan mentor, memperoleh kesempatan magang, mendapatkan rekomendasi beasiswa, bahkan menemukan jalur karier yang sesuai dengan minatnya.
Namun manfaat terbesar bukanlah jaringan itu sendiri, melainkan perspektif yang diperoleh. Ketika seseorang terlibat dalam kegiatan sosial, ia berkesempatan melihat realitas kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Ia dapat memahami tantangan yang dihadapi kelompok masyarakat tertentu, mengenali berbagai bentuk ketimpangan sosial, dan belajar menghargai keberagaman pengalaman hidup manusia. Pengalaman semacam ini sering kali membentuk cara pandang yang lebih matang terhadap kehidupan dan masa depan.
Dari Kegiatan Sosial Menjadi Investasi Masa Depan
Sebagian orang masih memandang kegiatan volunteer sebagai aktivitas yang menghabiskan waktu tanpa menghasilkan keuntungan ekonomi secara langsung. Padahal, jika dilihat lebih jauh, kerelawanan dapat dipahami sebagai bentuk investasi jangka panjang. Investasi yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk jaringan atau pengalaman kerja, melainkan juga pengembangan karakter. Relawan belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, empati, dan kemampuan menghadapi tantangan. Nilai-nilai tersebut merupakan modal penting yang akan terus berguna dalam berbagai fase kehidupan.
Di era ketika dunia kerja berubah sangat cepat dan kecerdasan buatan mulai mengambil alih berbagai pekerjaan teknis, kemampuan yang paling sulit digantikan oleh teknologi justru adalah kemampuan yang banyak diasah melalui pengalaman sosial: empati, komunikasi, kolaborasi, dan kepemimpinan. Karena itu, kegiatan volunteer sesungguhnya memberikan manfaat ganda. Masyarakat memperoleh dukungan dari para relawan, sementara para relawan memperoleh pengalaman yang memperkaya diri mereka sendiri.
Menjadi Relawan, Menjadi Manusia yang Bertumbuh
Pada akhirnya, meningkatnya keterlibatan anak muda dalam kegiatan volunteer menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya memikirkan masa depan dirinya sendiri. Mereka juga ingin berkontribusi terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Tentu tidak semua relawan memiliki motivasi yang sama. Ada yang berangkat dari kepedulian sosial, ada yang ingin menambah pengalaman, ada yang mencari jejaring, dan ada pula yang sekadar ingin mencoba hal baru. Namun apa pun motivasinya, kegiatan kerelawanan sering kali membawa seseorang pada proses pembelajaran yang berharga.
Volunteer bukan sekadar aktivitas membantu orang lain. Ia adalah ruang bertumbuh, ruang belajar, dan ruang menemukan makna. Di sanalah banyak anak muda belajar bahwa masa depan tidak hanya dibangun melalui nilai akademik dan prestasi formal, tetapi juga melalui pengalaman memberi, melayani, dan terlibat dalam kehidupan bersama. Mungkin itulah alasan mengapa semakin banyak anak muda memilih menjadi relawan. Mereka tidak hanya sedang membantu orang lain, tetapi juga sedang membangun versi terbaik dari dirinya sendiri.
You may also like




