Oleh: Mochammad Adi SaputraMahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya menjadi momentum untuk mengingat kembali akhlak, perjuangan, dan keteladanan Rasulullah. Namun, bagaimana jika perayaan Maulid justru menghadirkan tontonan yang membuat masyarakat bertanya-tanya: ini sedang merayakan kelahiran Nabi atau sedang mempertontonkan sesuatu yang justru bertentangan dengan pesan keagamaan?
Prof. Dr. Drs. Sokhi Huda, M.Ag. Guru Besar Dakwah Sufistik, UIN Sunan Ampel Surabaya Ada sebuah landmark kampus yang saat ini terasa semakin menarik untuk diresapi: di halaman depan UIN Sunan Ampel Surabaya berdiri tulisan besar “I ♥ UINSA”. Di belakangnya menjulang bangunan kampus yang menjadi ruang belajar, penelitian, pengabdian, sekaligus tempat tumbuh ribuan mahasiswa
Oleh: Azzam Zhafir Ibrahim Mahasiswa Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, UINSA Istilah Londo Ireng mendadak kembali masuk ke dalam percakapan politik Indonesia. Presiden Prabowo Subianto menggunakannya ketika berpidato pada puncak Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), 23 Juli 2026. Dalam pidato tersebut, Presiden menyinggung wartawan, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat ketika berbicara
Oleh: Ahmad Shiddiq (Mahasiswa S1 2006-2010 dan S2 2011-2013 Sunan Ampel Surabaya) Di tengah hiruk pikuk birokrasi kampus, nama Prof. Nur Syam, selalu disebut dengan rasa hormat, bukan karena jabatannya, melainkan karena sikapnya. Beliau adalah Mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya periode 2008–2012. Namun bagi Prof. Nur Syam, jabatan bukanlah tujuan akhir. Baginya, jabatan adalah
Eva Putriya Hasanah “Kalau bisa beli di warung dekat rumah, jangan jauh-jauh.” Kalimat seperti itu mungkin akrab bagi banyak orang yang tumbuh di lingkungan perkampungan atau perumahan. Dulu, ketika gula habis, minyak goreng tinggal sedikit, atau bumbu dapur perlu ditambah, ibu hampir selalu mengarahkan kita ke warung tetangga. Bukan ke pasar modern, apalagi ke pusat
Eva Putriya Hasanah Kita hidup di zaman ketika internet hadir dalam genggaman hampir setiap anak. Melalui layar ponsel, mereka bisa belajar apa saja, berkomunikasi dengan siapa saja, dan mengakses informasi dari seluruh dunia. Namun di balik kemudahan itu, ada kenyataan yang tidak bisa diabaikan: ruang digital juga menjadi tempat berbagai risiko tumbuh dan menyasar generasi
Prof.Dr.Hj. Titik Triwulan Tutik, SH., MH Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara UIN Sunan Ampel Surabaya Hari Raya Idul adha (Harai Raya Kurban) selalu menghadirkan suasana religius yang khas dalam kehidupan umat Islam. Gema takbir berkumandang di masjid dan musala, masyarakat berbondong-bondong melaksanakan salat Id, sementara halaman-halaman masjid dipenuhi aktivitas penyembelihan hewan kurban. Namun, Idul
Eva Putriya Hasanah Di tengah maraknya rumah modern dengan pagar tinggi, kamera CCTV, dan dispenser air di ruang tamu, ada satu tradisi lama masyarakat Jawa yang hampir tidak pernah ditemui di era sekarang: kendi atau gentong berisi air yang diletakkan di depan rumah. Bagi sebagian generasi muda, benda itu mungkin hanya dianggap hiasan tradisional atau
Eva Putriya Hasanah Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah hampir seluruh pola interaksi manusia. Kehadiran telepon genggam dan internet membuat komunikasi menjadi sangat cepat, praktis, dan instan. Hari ini, seseorang dapat mengabarkan secara lokasi real time, mengirim pesan dalam hitungan detik, hingga melakukan panggilan video tanpa batas ruang. Namun di tengah kemudahan tersebut, muncul fenomena
Eva Putriya Hasanah Hari ini, sampah makanan menjadi salah satu permasalahan lingkungan terbesar di dunia. Ironisnya, di saat jutaan orang masih kesulitan mendapatkan makanan, banyak makanan justru berakhir di tempat sampah. Laporan UNEP Food Waste Index Report 2024 menyebutkan bahwa dunia membuang lebih dari 1 miliar porsi makanan setiap hari. Bahkan sekitar 19%
Oleh: Unun Achmad Alimin, M.A Dosen Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Ampel Surabaya Belakangan ini, kita sering disuguhkan dengan fenomena remaja yang tingkahnya merugikan diri sendiri, mulai dari melukai diri, anti pati kepada lingkungan, keputusasaan, hingga keputusan yang sangat mengerikan. Banyak orang yang bertanya, “Kenapa bisa demikian” dan pertanyaan tersebut dilatar belakangi oleh rasa
Eva Putriya Hasanah Hari ini, istilah eco living semakin sering terdengar. Orang mulai membawa tas belanja sendiri, menanam sayur organik, mengurangi sampah plastik, hingga membangun gaya hidup ramah lingkungan. Di media sosial, hidup dekat dengan alam bahkan perlahan menjadi tren baru. Padahal kalau dipikir-pikir, masyarakat desa sebenarnya sudah menjalani konsep itu jauh sebelum
