Prof. Dr. H. Nur Syam: Pejabat yang Egaliter
Oleh:
Ahmad Shiddiq (Mahasiswa S1 2006-2010 dan S2 2011-2013 Sunan Ampel Surabaya)
Di tengah hiruk pikuk birokrasi kampus, nama Prof. Nur Syam, selalu disebut dengan rasa hormat, bukan karena jabatannya, melainkan karena sikapnya.
Beliau adalah Mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya periode 2008–2012. Namun bagi Prof. Nur Syam, jabatan bukanlah tujuan akhir. Baginya, jabatan adalah amanah untuk mengabdi. Ia memilih hidup dalam kebersahajaan, bukan dalam kemewahan.
Saya masih ingat jelas suatu sore di pelataran IAIN Sunan Ampel Surabaya. Komunitas Baca Surabaya atau Kombas, sedang menggelar diskusi. Komunitas ini diprakarsai oleh senior kami, Habib Musthafa, dan disponsori oleh Direktur Toko Buku LKIS. Setiap pertemuan, kami membedah buku atau mendiskusikan topik sosial yang sedang hangat. Pesertanya beragam, mulai dari mahasiswa, dosen, pejabat, hingga masyarakat umum yang haus akan kajian.
Kala itu, narasumber kami adalah Prof. Nur Syam. Saya mengira beliau akan hadir dengan protokoler dan bersama asistennya. Nyatanya, tidak. Beliau datang tanpa canggung, lalu duduk melingkar bersama kami di atas tikar sederhana, tepat di depan toko buku. Tidak ada jarak antara seorang Rektor dengan mahasiswa yang sedang belajar.
Sebagai peserta dari unsur mahasiswa, saya terharu. Sulit membayangkan seorang pemimpin lembaga pendidikan keagamaan paling bergengsi di Jawa Timur mau lesehan, mendengarkan, dan berdiskusi setara dengan kami. Di situlah saya memahami arti egaliter yang sesungguhnya.
Keberpihakan beliau pada anak muda juga saya rasakan secara langsung. Saat saya berniat mengikuti Program Pertamina ke Jawa Barat, beliau tanpa ragu langsung merekomendasikan saya untuk berangkat bersama rombongan lainnya. Pintu kesempatan itu terbuka karena beliau percaya pada potensi anak didiknya.
Momen lain yang tak akan saya lupakan adalah ketika saya menulis artikel berupa referensi atas bukunya tentang multikulturalisme dan tantangannya di Indonesia. Tulisan itu mendapat apresiasi langsung dari beliau. Bahkan saya diberi hadiah berupa buku dan lainnya. Sebuah penghargaan kecil, tetapi maknanya besar bagi seorang mahasiswa.
Perjalanan akademik dan pengabdian Prof. Nur Syam tidak berhenti di rektorat. Saat ini, Prof. Dr. H. Nur Syam. menjabat sebagai Penasihat Ahli Menteri Agama Republik Indonesia sejak dilantik pada Agustus 2025. Di samping mengemban amanah tersebut, beliau juga aktif sebagai Guru Besar (Profesor) di UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), jabatan sebelumnya adalah Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI (2014–2018), Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama RI (2012–2014), Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya (2008–2012), Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum IAIN Sunan Ampel (2005)Sekretaris Kopertais Wilayah IV Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT (2001).
Prof. Nur Syam membuktikan bahwa wibawa seorang pejabat tidak diukur dari mejanya yang tinggi, melainkan dari kesediaannya duduk di tikar yang sama dengan rakyatnya. Beliau adalah teladan bahwa ilmu, jabatan, dan kekuasaan akan bermakna ketika dibingkai dengan kerendahan hati.

