Di Tengah Arus Berita Buruk, Kisah Neldi dan Sejin Mengingatkan Bahwa Dunia Masih Layak Dihuni
Eva Putriya Hasanah
Setiap hari, linimasa kita dipenuhi kabar tentang perang, kekerasan, krisis kemanusiaan, bencana, dan berbagai konflik yang seolah tak pernah usai. Informasi datang bertubi-tubi, cepat, masif, dan sering kali meninggalkan rasa lelah secara emosional. Dalam kondisi seperti ini, manusia perlahan bisa kehilangan kepekaan, bahkan harapan. Dunia terasa semakin keras dan dingin. Namun, di tengah derasnya arus buruk itu, sesekali muncul cerita-cerita kecil tentang kemanusiaan—dan justru cerita semacam inilah yang membuat informasi dunia masih terasa layak untuk terjadi.
Salah satu kisah yang layak mendapat ruang lebih luas adalah kisah Neldi dan Sejin yang baru-baru ini disebarkan melalui media sosial. Cerita tentang keterbatasan fisik, teknologi, dan yang paling penting: tentang empati manusia.
Kisah ini berawal pada tahun 2009, ketika takdir mempertemukan dua anak dari latar belakang dan negara yang berbeda. Sejin, seorang anak asal Korea Selatan, hidup sebagai penyandang disabilitas dengan kaki palsu atau robot-leg. Sejak kecil, ia harus belajar berdamai dengan keterbatasan fisik dan menghadapi dunia yang tidak selalu ramah bagi mereka yang berbeda. Namun, di balik keterbatasan itu, Sejin tumbuh dengan empati yang besar—barangkali karena ia tahu betul bagaimana rasanya hidup dengan tubuh yang tidak sepenuhnya diterima oleh dunia.
Di sisi lain, ada Neldi, seorang anak dari Indonesia yang juga memiliki keterbatasan pada kakinya. Sebelum mendapatkan kaki palsu, Neldi menjalani hari-harinya dengan banyak ketergantungan pada orang lain. Aktivitas sederhana seperti berjalan, bermain, atau berolahraga menjadi tantangan besar. Seperti banyak penyandang disabilitas lainnya, keterbatasan fisik tidak hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga pada rasa percaya diri dan ruang sosial.
Pertemuan mereka bukanlah pertemuan biasa. Sejin, yang saat itu sudah tidak lagi menggunakan robot-leg lamanya, memutuskan untuk memberikan kaki palsu tersebut kepada Neldi. Sebuah keputusan yang, jika dilihat sepintas, mungkin tampak sederhana: memberikan alat bantu yang sudah tidak terpakai. Namun pada kenyataannya, tindakan itu membawa dampak yang jauh lebih besar dari sekedar fungsi medis.
Kaki robot yang pernah menjadi bagian dari tubuh Sejin kini menjadi harapan baru bagi Neldi. Dengan kaki palsu tersebut, Neldi mulai belajar berjalan lebih mandiri. Perlahan-lahan, ia bisa bergerak lebih leluasa, berinteraksi dengan lingkungan, dan menjalani hidup dengan rasa percaya diri yang baru. Sebuah benda yang sebelumnya “bekas†berubah menjadi simbol keinginan hidup, empati, dan solidaritas melintasi batas negara.
Yang membuat kisah ini begitu menyentuh bukan hanya soal teknologi atau bantuan fisik, melainkan hubungan kemanusiaan di baliknya. Sejin tidak melihat Neldi sebagai objek belas kasihan. Ia melihat dirinya sendiri di dalam diri Neldi—seorang anak yang berhak memiliki kesempatan hidup yang lebih baik. Yang dimaksud dengan nilai kemanusiaan bekerja: bukan pada rasa iba, melainkan pada keberanian untuk berbagi dan memberdayakan.
Dalam banyak narasi tentang disabilitas, fokus sering kali berhenti pada keterbatasan. Kisah Neldi dan Sejin justru membalik sudut pandang itu. Keterbatasan bukan akhir cerita, melainkan titik awal bagi lahirnya empati, persaudaraan, dan perubahan hidup. Teknologi seperti robot-leg memang penting, namun tidak akan bermakna tanpa nilai kemanusiaan yang menyertainya.
Waktu pun berjalan. Keduanya tumbuh dewasa, menjalani kehidupan masing-masing, dengan jarak geografis dan realitas hidup yang berbeda. Namun kisah mereka tidak berhenti di masa kecil. Pada tahun ini, setelah bertahun-tahun terpisah, Neldi dan Sejin akhirnya ditemukan kembali dalam keadaan dewasa. Pertemuan itu menjadi momen yang mengharukan—bukan hanya bagi mereka berdua, tetapi juga bagi banyak orang yang menyaksikan kisahnya.
Dalam pertemuan tersebut, Neldi berdiri sebagai pribadi yang telah tumbuh kuat, sementara Sejin melihat secara langsung bagaimana keputusan kecilnya di masa lalu telah memberi dampak besar bagi kehidupan orang lain. Kaki robot yang dulu diberikan bukan hanya membantu Neldi berjalan, tetapi ikut membentuk jalan hidupnya. Pertemuan kembali ini seolah menegaskan bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar selesai pada suatu waktu; ia terus hidup, bertumbuh, dan kembali dalam bentuk yang tak terduga.
Lebih jauh lagi, kisah ini mengingatkan kita pada satu hal yang sering terlupakan: berita baik juga layak disebarkan. Apalagi di tengah situasi global yang penuh kecemasan, berita baik tentang kemanusiaan justru menjadi kebutuhan. Ia bekerja seperti napas—sederhana, namun vital. Ia tidak menutup mata dari kenyataan pahit, namun membantu manusia tetap waras dalam menghadapinya.
Sayangnya, algoritma media sosial dan logika industri media kerap lebih mengutamakan sensasi, konflik, dan ketakutan. Berita buruk lebih cepat viral, lebih sering dibagikan, dan lebih menguntungkan secara klik. Akibatnya, kisah-kisah tentang empati, solidaritas, dan keberanian sering tenggelam, dianggap tidak cukup “menjualâ€.
Padahal, menyebarkan berita dengan baik tidak berarti menafikan penderitaan. Justru sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa di tengah kekacauan, masih ada manusia yang memilih untuk peduli. Bahwa dunia belum sepenuhnya runtuh. Bahwa harapan bukanlah ilusi.
Kisah Neldi dan Sejin adalah contoh konkret bahwa kemanusiaan masih hidup dalam bentuk-bentuk sederhana: menerima tanpa menghakimi, mendampingi tanpa merasa lebih tinggi, dan mencintai tanpa syarat. Cerita seperti inilah yang seharusnya lebih sering kita baca, bagikan, dan bicarakan—bukan untuk menghibur diri secara semu, tetapi untuk menjaga hati nurani tetap menyala.
Pada akhirnya, dunia mungkin tidak akan menjadi tempat yang sepenuhnya aman atau adil. Namun selama masih ada kisah-kisah seperti Neldi dan Sejin, selama masih ada manusia yang memilih empati di atas prasangka, dunia ini masih layak untuk dihuni. Dan tugas kita—sebagai pembaca, penulis, dan warga digital—adalah memastikan kisah-kisah kemanusiaan ini tidak tenggelam dalam kebisingan.
You may also like


