Al-Qur’an, Pesantren dan Pembelajaran Bahagia
Sebuah kebanggaan diundang oleh Pesantren Nurul Falah, yang dikenal sebagai tempat belajar Al-Qur’an yang memenuhi standar sertifikasi nasional. Saya diundang oleh KH. Abdur Rahim, MPd, Direktur Utama Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah Surabaya, untuk memberikan suntikan semangat bagi para ustadz, ustadzah dan para santri serta para pimpinan Pondok Pesantren Alqur’an Nurul Falah. 30/10/2026.
Acara yang menghadirkan para guru, santri dan pimpinan ini dilakukan sebulan sekali dalam kerangka untuk memberikan masukan, pendalaman dalam bekerja dan belajar mengenai Al-Qur’an. Acara dirangkai dengan berbagai kegiatan, yaitu istighasah, wiridan, bacaan barjanzi, dan juga shalat malam dan doa bersama. Waktunya dimulai hari Jum’at dari jam 8.00 WIB- sampai jam 08.00 WIB hari berikutnya. Datang pada acara ini, team pengajar dan santri dari Pandaan Malang dan Mojokerto Jawa Timur. Hadir pada acara ini adalah Dr. KH. Umar Jaeni, Ketua Yayasan Nurul Falah, Dr. KH. Ali Muaffa, MAg., Pengasuh Utama Pesantren Alqur’an, Nurul Falah Surabaya, H. Abdurahim Hasan, M.Pd., Direktur Utama Pesantren Alqur’an Nurul Falah, Surabaya, Ust. M. Haris, S.Th.I., Sekretaris Pesantren Nurul Falah Surabaya, para direktur, Ust. Thaha Mahsun, para ustadz dan ustadzah serta para santri Pesantren Nurul Falah, yang kebanyakan adalah mahasiswa UNESA, UIN dan lainnya.
Setelah acara asyraqalan, maka giliran saya diminta untuk memberikan motivasi bagi para santri dan juga para guru di Pondok Al-Qur’an Nurul Falah Surabaya. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:
Pertama, ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, karena kita berada di dalam Pondok Pesantren yang mengusung pembelajaran Al-Qur’an. Kekhasan pesantren ini adalah pembelajaran Al-Qur’an. Suatu pesantren yang mengkhususkan untuk pembelajaran Al-Qur’an untuk kepentingan diri dalam belajar Alqur’an dan kemudian menyampaikannya kepada publik tentang apa yang sudah dipelajarinya. Nabi Muhammad SAW sangat mengapresiasi orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Disebutnya sebagai sebaik-baik dari kita semua. Hadits Nabi SAW menyatakan: “Khairukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamahu”. Yang artinya kurang lebih adalah sebaik-baik kamu (kaum Muslim) adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”. Inilah yang saya sebut bahwa orang yang belajar Alqur’an dan mengajarkannya sebagaimana di dalam pondok pesantren ini merupakan kelompok idola karena mendapatkan jaminan Nabi Muhammad SAW. Dan dipastikan bahwa reward bagi orang terbaik, khususnya dalam Alqur’an adalah akan dapat memasuki surganya Allah SWT.
Jika hadits ini dikaitkan dengan sabda Rasulullah SAW, “khairun nas anfa’uhum linnas” yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Maka rasanya menjadi sangat relevan. Bahwa orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkan Al-Qur’an adalah bagian utama dari orang-orang yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Oleh karena itu pantaslah jika kita semua mengapresiasi atas pengembangan Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah yang berfokus pada kajian Al-Qur’an. Untuk memasyarakatkan Al-Qur’an dan mengalqur’ankan masyarakat, maka ditentukan oleh adanya agen-agen yang terus menerus mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat.
Kedua, dewasa ini kita dituntut untuk menjadi orang yang berkualitas. Yaitu orang yang memiliki kemampuan khusus dalam menghadapi kehidupan. Memang diperlukan kualitas umum yang sesuai dengan kehidupan bermasyarakat, misalnya kemampuan berkomunikasi, membangun jejaring sosial, bisa hidup dalam masyarakat yang plural dan multikultural, akan tetapi kemampuan khusus itu sangat diperlukan. Penguasaan atas ilmu Al-Qur’an atau menjadi hafidz dan hafidzah Al-Qur’an itu suatu kemampuan khusus yang sungguh diperlukan akhir-akhir ini. Betapa banyak generasi muda yang hafal Alqur’an lalu mendapat priviledge untuk masuk PT ternama tanpa test. Mereka bisa masuk melalui jalur prestasi, dan itu prestasi dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu yang sungguh diperlukan adalah kemampuan atau kapasitas ilmu pengetahuan, bisa ilmu keislaman atau lainnya. Dan tentu sangat penting kapasitas khusus untuk menjalani kehidupan. Lalu kemampuan lain adalah memiliki kekuatan akhlak. Memiliki kemampuan yang baik dalam relasi dengan Tuhan, memiliki relasi yang baik dengan sesama manusia dan memiliki relasi yang baik dengan alam lingkungan. Dan yang tidak kalah penting adalah memiliki kemampuan pengalaman religius yang mendasar. Ilmu Al-Qur’an yang kita pelajari menjadi jaminan akan kemampuan religius tersebut. Melalui Al-Qur’an, maka kita akan menjadi pinter, bener lan pener. Pinter dalam kemampuan otaknya, benar atau bener dalam inteligensi emosional dan sosial, dan tepat atau pener, dalam kemampuan spiritualnya.
Ketiga, kita harus menjadi pembelajar yang happy. Happiness learning. Kebahagiaan itu sesungguhnya ada di mana-mana, termasuk di ruang kerja dan ruang pembelajaran. Menurut Mc-Kinsey bahwa seseorang bisa bahagia karena tiga hal, yaitu: memiliki tujuan dalam melakukan sesuatu, misalnya bekerja dan belajar. Tujuannya adalah untuk mencapai tujuan utama. Di dalam hal ini adalah untuk memperoleh ridhanya Allah SWT. Belajar Alqur’an pasti akan diridhai Allah, maka tujuan belajar adalah untuk mencapai ridhanya Allah SWT. Dapat menghafal Alqur’an adalah tujuan instrumental, akan tetapi tujuan utamanya adalah untuk memperoleh keridhaan Allah SWT.
Kemudian memiliki hope atau harapan. Dan dipastikan harapannya adalah untuk memperoleh keridhaan Allah. Sedangkan bisa memahami dan menghafal Al-Qur’an adalah tujuan instrumental. Yang penting memiliki harapan agar mendapat ridhanya Allah SWT. Lalu, yang tidak kalah penting adalah memiliki sahabat baik. Friendship. Ada sebuah pepatah “memiliki satu orang musuh itu lebih berat daripada memiliki 1000 sahabat”. Oleh karena jadikanlah sesama kawan belajar sebagai sahabat untuk mencapai tujuan bersama dan untuk merealisasikan harapan bersama.
Saya yakin dengan pembelajaran yang berbasis Al-Qur’an, maka segala sesuatunya akan menjadi mudah dan akan membawa keberkahan dan kerahmatan. Semakin banyak belajar Al-Qur’an akan semakin bertambah kebaikan dan akan semakin bertambah kasih sayang kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW dan sesama manusia.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like




