Bacalah Kalimat Thayyibah Untuk Fisik, Jiwa Dan Roh: Ngaji Bahagia
Suatu kalimat yang sering saya sampaikan kepada orang lain, baik individual maupun komunitas adalah bacaan: “subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar”. Empat kata: tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Empat kalimat yang berasal dari hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana tercantum di dalam Kitab Riyadhus Shalihin karya Syekh Imam An Nawawi, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Selasa pagi ba’da Shubuh, 18/08/2026, saya menyampaikan bahasan tentang bacaan tersebut kepada para jamaah dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Sebagaimana biasanya, maka ngaji ini harus menghadirkan senyum dan tawa. Minimal 17 kali. Berat atau ringan materi ceramah harus memenuhi Standart Operation Procedures (SOP) Komunitas Ngaji Bahagia. Yang biasa memberikan ceramah atau taushiyah adalah saya, Dr. KH. Cholil Uman, Dosen pada FDK UINSA, dan Ustadz Sahid Sumitro, MM., yang juga trainer SDM pada PT. Akselerasi Indonesia. Mereka semua paham SOP tersebut.
Jika pada pekan lalu, 11/08/2026, membahas tema yang berat yaitu dunia eskatologis: mau pulang ke mana, jalan pulangnya mana, apa bekal kepulangannya dan siapa yang menerimanya. Maka tema Selasa pagi ini merupakan tema yang sudah banyak dibicarakan orang, tetapi saya kira masih relevan untuk kita kaji bareng-bareng. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:
Pertama, berdoa untuk kesembuhan sahabat atau kerabat yang sedang sakit, misalnya adalah doa yang berbunyi: “Allahumma inna na’udzubika minar rihil ahmari, wa damil aswad wa dail akbar”. Doa ini dapat dibaca untuk menghalau angin merah atau ion merah, yaitu angin yang bisa membuat sakit tubuh atau fisik kita karena terkena teluh, santet, sihir dan sebagainya. Lalu daging atau darah hitam seperti penyakit-penyakit lever, kanker, dan sebagainya, serta penyakit yang berat, semisal stroke, hilang ingatan dan sebagainya. Doa ini dapat dibaca setiap hari, bisa ba’da shalat maktubah atau waktu lainnya. Ada atau tidak ada sanad yang mengabsahkan kesahihan doa ini, akan tetapi mari kita pahami maknanya dan kegunaannya. Yang penting bahwa doa itu diyakini akan sampai ke hadirat Allah melalui Nabi Muhammad SAW.
Kedua, Subhanallah artinya “Maha Suci Allah”. Walhamdulillah artinya “segala puji bagi Allah”, La ilaha illallah artinya “tidak ada ilah selain Allah” dan Allahu Akbar artinya: “Allah Maha Besar”. Kalimat ini merupakan puja dan puji kepada Allah SWT. Kalimat ini memiliki makna fisikal, yaitu puja dan puji kepada Allah untuk kesehatan fisik manusia. Nabi Muhammad SAW sebagaimana hadits yang dinukil oleh Syekh Imam Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin, bahwa: “setiap pagi ruas tulang kita memerlukan sedekah, dan sedekahnya adalah tasbih, tahmid, tahlil dan takbir”. Dengan demikian, jika kita membaca kalimat thayyibah ini, maka memiliki fungsi untuk kesehatan fisik. Bayangkan tubuh kita itu terdiri dari tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya. Di dalam tubuh terdapat jantung, hati, unsur pencernaan, otak, paru-paru dan lain-lain, dengan jutaan saraf yang saling terkait. Bahkan juga terdapat ruas tulang yang sistemik. Semuanya memerlukan asupan gizi spiritual. Seluruh saraf tubuh membutuhkan asupan gizi yang berupa buah-buahan, sayuran, karbohidrat, protein, lemak dan mineral. Semuanya diperlukan tubuh agar sehat. Tetapi pemenuhan ini semua tidak cukup, akan tetapi ternyata membutuhkan asupan spiritual berupa dzikir atau wirid. Dan ternyata Islam mengajarkannya. Berbahagialah kita bisa melakukannya. Baca 100 kali sehari, yang penting istiqamah.
Ketiga, makna substansial atau nonfisik. Semua lantunan puja dan puji kepada Allah SWT adalah suatu penyerahan diri kepada Allah SWT. Ucapan-ucapan dalam kalimat thayyibah hakikatnya merupakan penghormatan, ketawadluan dan kepatuhan kepada Allah SWT. Di kala kita membaca subhanallah, hakikatnya kita mensucikan Allah sebagai Dzat Yang Maha Suci. Manusia bukanlah entitas yang suci. Hanya Allah yang Maha Suci. Hanya Allah yang sacred, dan semua selainnya adalah profan. Di dalam diri manusia terdapat unsur Roh yang merupakan pancaran Tuhan, maka sesungguhnya di dalam diri manusia terdapat “yang suci”. Memakai huruf kecil untuk membedakan dengan Tuhan “Yang Maha Suci” dalam huruf besar. Yang Maha Suci itu Dzat yang tak terhingga. Seperti angka 0 (nol), yang tidak terhingga. Jadi Allah itu kesuciannya tidak terhingga.
Demikian pula wal hamdulillah atau Yang Maha Terpuji atau segala puji bagi Allah. Keterpujian Allah itu tidak terhingga. Meskipun manusia tidak menyucikannya, akan tetapi Allah itu maha terpuji dengan dirinya sendiri. Selain Allah tidak ada tingkat keterpujiannya yang melampaui Allah SWT. Itulah sebabnya, seluruh alam ciptaan Allah itu memuji kepada Allah SWT. Manusia biasa seperti kita tidak memahami bagaimana makhluk Allah selain manusia itu memuji Allah. Kita tidak memiliki ilmunya. Para Nabi, khususnya Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad SAW yang dipastikan memahami bagaimana puja dan puji seluruh alam kepada Allah SWT.
Tiada Tuhan selain Allah. Kalimat ini berisi kalimat nafi atau meniadakan dan itsbat atau menetapkan. Di alam roh kita semua pernah berjanji akan mengesakan Allah dan tiada menyekutukan bagi-Nya, semua roh berjanji akan hal itu. Tetapi manusia memiliki sifat pelupa dan melalaikan janjinya, maka Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menjadi pengingat. Ada sebagian yang ingat dan menjadi muslim dan ada sebagian yang tidak ingat atau kafir. Allah akan memberikan reward bagi yang muslim dan memberikan punishment bagi yang kafir. Hakikat kalimat itu adalah kepatuhan atas janji yang pernah kita ucapkan di alam roh.
Allah Maha Besar artinya kita harus patuh dan tunduk bahwa tiada kekuatan yang melebihi kekuatan Allah. Tiada kekuasaan yang melebihi kekuasaan Allah. Kekuatan dan kekuasaan Allah itu tidak terhingga. Allah adalah rabbus samawati wal ardli. Allah itu Maliki Yaumid Din. Allah memiliki sifat tidak terhingga atas semua ciptaannya.
Kalimat thayyibah ini adalah ungkapan yang sangat dicintai oleh Allah, sehingga siapapun yang membacanya akan mendapatkan reward berupa keridlaannya. Akan diperberat timbangan kebaikannya dan akan dihapus dosanya. Demikianlah Islam memberikan tabsyir atau kabar kegembiraan kepada hambanya yang patuh dan taat kepada-Nya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like

International Conference di ASEANECA: Empowering Nusantara


Professorial Inaguration Ceremony: Prof. Muhammad Zakki

