Epistemologi dan Aksiologi Moderasi Beragama
Saya, seperti biasa menyiapkan bahan yang berupa power point untuk memudahkan presentasi. Pada saat saya diundang oleh Rektor UIN Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU), Prof. Dr. Ridwan, 06/08/2026, maka saya persiapkan PPT yang relatif memadai, artinya dapat diperuntukkan untuk para dosen dan juga tenaga kependidikan. Ternyata yang dihadirkan oleh Panitia adalah para tenaga kependidikan. Dari sebanyak 16 slide PPT, akhirnya hanya saya sampaikan lima slide awal saja, sehingga slide berikutnya tidak saya utarakan.
Dalam penilaian saya, slide enam ke atas itu lebih akademis, sehingga tidak saya sampaikan pada audience yang terdiri dari tenaga kependidikan. Oleh karena itu, saya putuskan untuk menuliskannya di dalam artikel, sehingga akan dapat dinikmati oleh pembaca yang memiliki konsern tentang moderasi beragama dalam perspektif akademik. Ada tiga hal yang saya jelaskan berbasis pada PPT yang telah saya siapkan, yaitu:
Pertama, Untuk menemukan kebenaran Moderasi Beragama, maka diperlukan epistemologi atau how to atau cara untuk menemukan kebenaran. Kebenaran berbasis empiris sensual adalah kebenaran yang didapatkan dari pengamatan atau observasi atas fenomena yang dikaji. Kebenaran berbasis empiris rasional adalah kebenaran yang diperoleh melalui pemikiran atau berbasis pada ide, gagasan atau pemikiran. Kebenaran berbasis empiris etis atau kebenaran yang menggunakan ukuran etika untuk menyatakan kebenarannya. Kebenaran berbasis transendental atau kebenaran yang menggunakan keyakinan atau kepercayaan. Moderasi beragama dapat dikaji sebagai fenomena yang menggunakan pendekatan empiris sensual, empiris rasional, empiris etis atau empiris transendental.
Ada empat epistemologi yang dapat dipakai untuk menemukan kebenaran. Epistemologi Bayani merupakan kajian atas fenomena teks di dalam Islam. Fenomena moderasi agama atau Islam wasathiyah di dalam kajian teks atau turats. Islam wasathiyah sangat relevan dengan kajian dalam pendekatan bayani. Fenomena Islam wasathiyah di dalam teks dapat didekati dengan pendekatan berbasis empiris rasional, empiris etis dan empiris transendental. Hendaknya ditemukan teks klasik yang ditulis oleh para ulama masa lalu untuk dijadikan sebagai fenomena teks tentang moderasi beragama atau Islam wasathiyah. Ada banyak Kitab Tafsir dan fiqih yang mengkaji tentang Islam rahmatan lil alamin.
Kemudian epistemologi burhani dapat digunakan untuk mengkaji fenomena teks sosial tentang moderasi beragama. Epistemologi burhani atau pendekatan rasional dapat digunakan untuk mengkaji fenomena beragama dalam kehidupan sosial dengan menggunakan ide, gagasan atau pemikiran. Kebenaran tentang moderasi beragama didapatkan dengan melakukan sejumlah wawancara kepada masyarakat yang dikaji. Misalnya pandangan tentang kebangsaan, toleransi dan anti kekerasan. Mengkaji tentang Islam rahmatan lil alamin dalam pandangan para ulama masa kini dan seterusnya.
Berikutnya adalah epistemologi tajribi dapat digunakan untuk mengkaji fenomena empiris atau teks sosial dalam moderasi beragama. Fenomena moderasi beragama, misalnya dalam fenomena toleransi, menghormati budaya lokal, anti kekerasan dan mencintai kebangsaan tentu dapat diobservasi atau diamati di dalam kehidupan masyarakat. Para pengkaji toleransi misalnya akan dapat mengamati tentang bagaimana beroperasinya nilai toleransi di dalam kehidupan riil masyarakat. Peneliti dapat mengkaji apa yang dapat diamati tentang perilaku tersebut. Buatkan indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengamati tindakan toleransi dimaksud.
Epistemologi irfani dapat digunakan untuk mengkaji fenomena moderasi beragama di dalam kehidupan masyarakat berbasis pada dzauq atau intuisi. Bisa digunakan untuk memahami fenomena seorang ulama atau kyai yang memiliki pemahaman sangat mendalam dan tindakan yang sedemikian kuatnya untuk menghargai atas toleransi beragama. Misalnya Gus Dur, Kyai Hasyim Muzadi dan Kyai Ahmad Shiddiq. Keyakinannya tertanam dengan sangat kuat berbasis pada keyakinan mendalam agama yang dipahaminya. Bukan toleransi teologis atau menyamakan agama secara teologis yang dikembangkan, akan tetapi toleransi sosiologis atau toleransi berbasis relasi kemanusiaan.
Kedua, Yang tidak kalah menarik adalah aksiologi atau what for merupakan pandangan mendasar tentang kegunaan dari suatu aktivitas seperti moderasi beragama. Pertanyaan dasarnya adalah apakah fungsi moderasi beragama bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Adakah Fungsi moderasi beragama yang di dalamnya terdapat nilai-nilai yang akan ditransformasikan dan kemudian dijadikan sebagai aktivitas kehidupan atau aksi di dalam kehidupan.
Moderasi beragama harus fungsional dalam kehidupan individu, komunitas dan masyarakat dan relasi-relasi sosialnya. Moderasi beragama harus fungsional di dalam organisasi sosial, ekonomi, agama dan lainnya dalam relasi yang saling memahami dan membutuhkan. Moderasi beragama harus fungsional dalam rekayasa sosial dan perubahan akseleratif bagi kehidupan bersama.
Yang dibicarakan di dalam aksiologi adalah manfaat, nilai dan etika dalam aktivitas yang dilakukan. Ada nilai di dalam moderasi beragama yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia atau dalam relasi sosial. Nilai fungsional tersebut harus ditransformasikan di dalam kehidupan sosial melalui pendidikan atau pelatihan. Ada etika merupakan relasi antar manusia, dan juga terdapat relasi manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam. Relasi ketiganya disebut sebagai akhlak. Di dalam akhlak terdapat nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama.
Ketiga, Di dalam Islam terdapat nilai tasamuh atau menjaga toleransi. Nilai tawasuth atau menjaga jalan tengah. Nilai tawazun atau menjaga keseimbangan. Nilai ’adil atau menjaga keadilan. Nilai i’tidal atau menjaga jalan yang lurus. Nilai syura atau menjaga musyawarah. Nilai musawah atau menjaga keselarasan. Nilai-nilai tersebut harus fungsional dalam masyarakat yang memahami tentang moderasi beragama.
Untuk kepentingan ini, maka perlu digunakan kurikulum terintegrasi dengan langkah agar dapat dipetakan mana kurikulum yang dapat bersentuhan dan terintegrasi dengan moderasi beragama. Kiranya perlu dilakukan rekonstruksi kurikulum. Lakukan pemetaan atas perubahan kurikulum yang relevan momot moderasi beragama. Lakukan program pembelajaran, misalnya discovery learning. Mahasiswa menemukan sendiri atas konsep yang menjadi fokus kajian.
Secara implementatif ada model-model aplikasi pembelajaran yang dapat digunakan sejauh relevan dengan maksud dan tujuan pembelajaran. Kunci transformasi adalah merancang pengalaman belajar, bukan sekadar memindahkan ceramah ke platform digital. Misalnya dengan model Flipped classroom, problem-based learning, project-based learning, case method dan Team-based learning.
Wallahu a’lam bi al shawab
You may also like

Gelar Karya Professor: Manusia, Agama dan Teknologi


Scribo, Ergo Sum: Menulis Sebagai Legacy

