Scribo, Ergo Sum: Menulis Sebagai Legacy
Pada saat saya bertemu dengan para dosen muda PTKI yang sedang memperkuat kapasitas akademis dalam kerangka persiapan pendidikan lanjut di luar negeri, maka saya bercerita tentang bagaimana proses kreatif dalam menulis, khususnya menulis artikel dengan jumlah kata 700 sampai 1000 kata. Acara diselenggarakan di Sekolah Pascasarjana Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Agama. 16/07/2026.
Saya selalu sampaikan di dalam forum yang menghadirkan para dosen, khususnya dosen muda, tentang ungkapan yang saya jadikan sebagai pattern for behaviour, yaitu: “verba volant scripta manent.” Dinyatakan secara lesan hilang dan dinyatakan secara tertulis akan abadi. Secara kelakar kemudian saya sampaikan: “apa bahasa Latin dari saya menulis maka saya ada.” Lalu dari salah seorang peserta menemukan di meta AI atau ChatGPT bahwa di dalam Bahasa Latin adalah: “scribo, ergo sum.” “Saya menulis, Saya ada.”
Menulis bukanlah semata-mata bakat, akan tetapi pengalaman. Semakin banyak menulis akan semakin banyak khazanah kata yang tersimpan di gudang inderawi yang pada kesempatan lain akan dapat dipanggil ulang. Sama dengan seorang guru atau seorang da’i, semakin banyak menjalankan tugasnya tersebut, maka akan semakin banyak khazanah kebahasaan yang dikuasainya. Konten mengajar atau berdakwah akan tercover di dalam sensory storage, sehingga sewaktu-waktu akan dapat dipanggil untuk diungkapkan atau diucapkan. Menulis juga sama dengan hal itu. Semakin banyak tulisannya, akan semakin mudah untuk memanggil data yang sudah tersimpan di dalam sensory storage atau gudang inderawi.
Saya menyampaikan tentang bagaimana proses kreatif itu harus dibentuk dan diciptakan. Maksud saya bahwa untuk menjadi kreatif dalam menulis diperlukan upaya untuk membiasakannya. Jadikan sebagai daily habit. Yang seperti ini tentu terkait dengan tulisan-tulisan ringan atau artikel-artikel yang merupakan respon atas situasi di sekitar kita atau apa yang dianggap penting. Bahkan juga tulisan formal, misalnya buku atau artikel. Akhir-akhir ini saya menerbitkan karya-karya di dalam kedua media sosial, Blog dan Web, nursyam.uinsa.ac.id dan nursyamcentre.com.
Saya mulai menulis di nursyam.uinsa.ac.id itu semenjak tahun 2006. Semula nursyam.iainsby.ac.id., lalu berubah domainnya menjadi nursyam.uinsby.ac.id. Blog ini sudah cukup terkenal sebab viewernya sudah mencapai angka 400-500 orang setiap hari. Lalu terdapat kebijakan mengubahnya menjadi nursyam.uinsa.ac.id dan viewernya melorot menjadi 90-100 orang setiap hari. Dan karena perubahan teknis, kemudian blog ini mengalami penurunan sangat signifikan. Sekarang tinggal 40-50 viewer setiap hari. Blog ini tetap saya pertahankan sebab jumlah keseluruhan viewernya sudah mencapai angka 1.305.092 orang dari 2318 artikel. Dan terdapat viewer dari sebanyak 148 negara. (29/07/2026). Di blog ini saya menuangkan gagasan nyaris setiap hari. Dan akhir-akhir ini lebih banyak merupakan penuangan gagasan saya atas karya tulis Syekh Imam An Nawawi di dalam kitab Riyadhus Shalihin. Bukan penjelasan hadits, fiqih atau tafsir akan tetapi penjelasan “sosiologis”.
Lalu juga web yang saya dirikan. Web ini semula untuk menampung tulisan dari mahasiswa-mahasiswa saya. Nama Web ini adalah nursyamcentre.com bukan nursyamcenter.com. Nama itu dipilih sebab saya pernah mendirikan nursyamcenter.com yang akhirnya tidak berlanjut. Pendirian web baru tersebut dilakukan untuk tujuan khusus “Menggelorakan Moderasi Beragama untuk Indonesia Hebat”. Ada banyak rubrik di sini, akan tetapi yang terus aktif adalah rubrik riset, opini, informasi, dan khazanah. Saya sudah menulis sebanyak 922 artikel. (30/07/2026). Selain itu nursyamcentre.com juga menerbitkan buku dan jurnal. Sudah sebanyak 49 buku yang terbit dan jurnal terakreditasi Sinta 4 yang terbit setahun dua kali. Semua dilakukan dalam kerangka untuk membantu para mahasiswa dan alumni PTKI yang berkeinginan menerbitkan buku atau artikel.
Dari tulisan-tulisan terserak ini sudah menjadi banyak buku. Di antaranya: “Perjalanan Etnografis Lima Benua”, “Perjalanan Etnografis Spiritual”, “Dari Bilik Birokrasi”, “Friendly Leadership: Kepemimpinan sebagai Roh Manejemen”, “Islam Nusantara Berkemajuan: Tantangan dan Solusi Moderasi Agama”, “Menjaga Harmoni Menuai Damai”, “Demi Agama, Nusa dan Bangsa”, “ dan sebagainya. Lalu dari nursyamcentre.com maka dapat menghasilkan buku: “Integrasi ilmu Madzhab Indonesia: Interdisipliner, crossdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner”, “Upacara Liminalitas di Indonesia”, “Menggelorakan Moderasi Beragama di Indonesia”, dan 15 buku lainnya.
Ada empat buku yang monumental bagi saya, yaitu: “Islam Pesisir” yang menghasilkan konsep Islam kolaboratif merupakan buku yang berasal dari karya akademis disertasi. Buku ini merupakan contoh studi crossdisipliner, Tradisi Islam dengan pendekatan Teori Sosiologi. Buku ini memperoleh citasi tertinggi dari 400 ratusan karya tulis saya di Google Scholar. Kemudian Buku “Agama Pelacur, Dramaturgi Transendental”. Kajian Crossdisipliner antara kehidupan beragama dalam perspektif teori dramaturgi. Buku yang sangat menarik karena ditulis seperti novel. Lalu Tarekat Petani, Fenomenologi Tarekat Syatariyah Lokal” yang menggunakan perspektif fenomenologi. Termasuk studi crossdisipliner. Kajian tasawuf dalam pendekatan fenomenologi. Buku ini lahir dari kerjasama antara Toyota Foundation dengan Balitbang Depag. RI., lalu buku “Madzhab-Madzhab Antropologi” yang merupakan buku dari hasil perkuliahan Mata Kuliah Pendamping Disertasi (MKPD) di Universitas Airlangga. Buku ini merupakan tugas-tugas mata kuliah yang diasuh oleh Dr. P.M. Laksono, kini professor, sebanyak 17 makalah dan kemudian saya bukukan. Kemudian yang tidak kalah menarik adalah “Model Analisis Teori Sosial” merupakan buku yang hadir dari tugas-tugas Mata Kuliah Teori Sosial yang diasuh oleh Prof. Ramlan Surbakti. Di dalam buku ini juga terdapat tulisan mahasiswa Program Doktor UINSA, dan di antara mereka sudah banyak yang menjadi Guru Besar.
Di tengah-tengah kesibukan sebagai birokrat, Dirjen Pendis 2012-2014, dan Sekjen Kemenag 2014-2018, saya tetap menulis. Setiap aktivitas adalah sebuah karya. Saya masih ingat pertama kali saya sebagai Dirjen Pendis, maka saya diminta oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA untuk mewakilinya dalam acara Peresmian Kerja Sama antara Sekolah Islam Terpadu, SD IT, SMP IT dan SMA IT, di Bekasi dengan UEA. 02/01/2012. Tulisan itu sampai sekarang masih bisa dilacak. Inilah makna Scribo, Ergo Sum atau Verba Volant Scripta manent.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like


Professorial Inaguration Ceremony: Prof. Muhammad Zakki

Kewajiban Mengembangkan Integrasi Ilmu

