Spiritualitas Dakwah Dalam Pengembangan Ekoteologi Berkelanjutan
Sebuah international conference diselenggarakan pada Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan, dengan tema ”The 3th International Conference on Religion, Culture and Society” dengan topik khusus yang saya bahas tentang “Spiritual Dakwah as A Basis for the Implementation of Ecothelogy”. Sebagai Narasumber Prof. Dr. Harapandi Dahri dari Brunei Darussalam, Prof. Dr. Syafiq Hasyim dari UIII, Jakarta dan Dr. Ahmad Abdul Malik dari Malaysia dan Prof. Nur Syam dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Prof. Harapandi berasal dari Mataram, dan sudah selama 16 tahun menjadi dosen di Brunei Darussalam.
Hadir pada acara ini adalah Prof. Dr. Zainal Mustakim, Rektor UIN Gus Dur Pekalongan, Dr. Amat Zuhri, Dekan FUAD, Dr. Ani, WK1, Dr. Miftahul Ula, WK2, Arif Rahman, MPd., Kabag FUAD, para Kaprodi, dan sekretaris Prodi, dan perwakilan dari UINSA Surabaya, UIN Maliki Malang, UIN Walisongo Semarang, UIN SATU Tulungagung, UIN Sunan Kudus, IAI Persis Bandung, Universitas Bakti Islam Tegal, STAI Darul Hikmah Tulungagung, UIN FAS Bengkulu, para guru BK di Sekolah serta para mahasiswa.
Ada tiga hal yang saya presentasikan pada acara Internasional Conference on Religion, Society and Culture, yaitu:
Pertama, problem lingkungan yang semakin akut. Kerusakan hutan akibat illegal logging dan deforestasi sebesar 10,2 Juta hektar semenjak tahun 2015-2024 berdasarkan data FAO (Food and Agricultural Organisation) dan punahnya sebanyak 78 persen hewan-hewan di darat dan laut, serta kurban dalam banjir bandang di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh dengan jumlah korban sebesar 1.184 jiwa dan juga banyak habitat laut yang mati karena pencemaran laut.
Problem akut tersebut bersumber dari pemikiran-pemikiran yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pandangan positivisme yang beranggapan materi adalah segala-galanya, sehingga hal-hal yang di luar materi tidak perlu dipikirkan dan dipahami. Lalu lahirlah rasionalisme yaitu pandangan yang lebih bercorak untung rugi. Jika alam dapat menguntungkan, maka alam dapat dieksploitasi untuk membuat kesejahteraan. Pemikiran serba rasio menghilangkan kebajikan atas alam bahkan memisahkan dunia dan agama, kemudian lahirlah modernisme yang beranggapan manusia modern adalah manusia yang dapat melahirkan permisive style of life dan memutus harmoni antara Tuhan, Manusia dan Alam. Dan yang tidak kalah menarik adalah pemikiran capitalisme yang mengedepankan pemikiran bahwa alam dapat dieksploitasi untuk kepentingan manusia atau alam adalah komoditas.
Hal yang tidak kalah menarik adalah pandangan atau paradigma antroposentrisme, yang beranggapan bahwa manusia adalah subyek dan alam adalah obyek. Pandangan seperti ini akan mendegradasi alam sebagai ciptaan Tuhan yang dapat dieksploitasi untuk kepentingan apapun oleh manusia. Pandangan serba manusia sebagai subyek dan alam sebagai obyek akan menyebabkan terjadinya berbagai tindakan manusia untuk melakukan illegal logging, deforestasi, pencemaran lingkungan, dan merusak habitat alam. Bagi yang berpandangan seperti ini, maka manusia bisa melakukan apa saja terhadap alam. Alam merupakan materi yang benar-benar tidak ada sakralitasnya. Benar-benar profan. Alam hanyalah benda yang tidak perlu untuk dirawat. Manusia menjadi exploiter atas alam. Hanya keuntungan yang dipikirkan tanpa berpikir dampak negatif yang dihasilkannya.
Kedua, diperlukan perubahan paradigma terkait dengan alam. Pandangan antroposentrisme ke ekoteologisme. Alam bukan obyek akan tetapi subyek. Sama-sama ciptaan Tuhan yang wajib untuk dilestarikan dalam hidup berdampingan dengan manusia. Alam dan manusia merupakan equal subject. Yang seharusnya hidup dalam co-existing berbasis pada etika relasi antara manusia dengan alam. Manusia membutuhkan alam untuk kepentingan kehidupan, dan alam juga membutuhkan manusia untuk pelestarian kehidupannya. Ada prinsip etika yang tepat, simbiosis mutualisme.
Islam mengajarkan tentang relasi ketuhanan, relasi kemanusiaan dan relasi kealaman. Hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal alam. Ketiganya merupakan satu kesatuan sistemik. Tidak bisa dipisahkan. Jika hanya mengedepankan relasi ketuhanan maka akan menghasilkan kesalehan ritual. Jika hanya melakukan relasi sosial kemanusiaan maka akan menghasilkan manusia yang saleh sosial, jika keduanya tidak disatukan dalam satu kesatuan dengan relasi atas alam, maka hanya akan menghasilkan manusia yang bertindak parsial, padahal manusia harus menjadi makhluk sempurna atau insan kamil. Manusia yang mengembangkan relasi berkeseimbangan. Inilah yang saya konsepsikan sebagai relasi TAM, Tuhan, Manusia dan Alam. Manusia harus beriman dan melakukan amal shaleh (T), manusia harus melakukan kebaikan atas manusia lainnya (M) dan manusia harus melakukan kebaikan kepada alam (A).
Ketiga, diperlukan spiritual dakwah yaitu upaya untuk melakukan gerakan dakwah yang berkeseimbangan. Dakwah bukan hanya mentransfer pengetahuan keagamaan dalam berbagai ruang dakwah, akan tetapi melakukan transformasi nilai dan aksi untuk perubahan sosial berbasis trilogi relasi yakni kepada Tuhan, Manusia dan Alam. Perubahan sosial itu tidak dapat dilakukan dengan dakwah yang terjadi pada umumnya. Akan tetapi harus melalui aksi yang bervisi perubahan menuju khairu ummah. Dakwah dapat melalui bil lisan, bil qalam dan bil hal yang terfokus pada transformasi nilai-nilai keislaman dan aksi keislaman. Namun demikian ada dakwah yang lebih mengedepankan tentang bagaimana dakwah itu harus disampaikan, baik dakwah bil lisan, bil qalam dan bil hal yaitu dakwah dengan menggunakan pendekatan friendly dakwah, yakni dakwah dengan cara persuasive, dialog dan nirkekerasan. Hal yang diharapkan yakni dakwah yang menekankan pada dimensi aksi atau dakwah bil hal, seperti mentransformasikan tindakan yang berfokus pada kesalehan individual dan kesalehan sosial ke kesalehan alam atau kesalehan ekologis. Dari mengurangi sampah sampai gerakan konservasi. Dari sampah menjadi berkah.
Tantangan kita yang mendasar adalah dakwah melalui media sosial. Dakwah ini memang menghasilkan penyebaran pesan dakwah menjadi lebih massive, akan tetapi dapat berakibat pada keanekaragaman tafsir agama yang sering kali menjadi problem dalam relasi sosial. Bahkan di dalam banyak hal hanya mengejar sensasi. Akibatnya dapat terjadi disharmoni di dalam kehidupan sosial keagamaan. Pola dakwah ini akan menghasilkan algoritma religius. Siapa yang paling banyak viewer atau followernya, maka dianggap yang paling otoritatif. Dakwah melalui media sosial akan menghasilkan The Digital Religion Paradox. Di sinilah perlunya untuk menavigasi dakwah on line, yaitu upaya untuk saling memahami bahwa masyarakat Islam Indonesia itu berada di dalam multikultur sehingga terdapat keanekaragaman tafsir dan tindakam keagamaan. Selama tidak keluar dari prinsip utamanya dan tidak menimbulkan disharmoni, maka toleransi harus dikembangkan. Agree in disagrement.
Di dalam kehidupan sosial religius, yang dipentingkan adalah beragama, berdakwah dan berekologi dalam corak moderat. Di dalam konteks Indonesia disebut sebagai moderasi beragama, moderasi berdakwah dan moderasi berlingkungan. Ketiganya merupakan kesatuan sistemik. Kehidupan beragama dan moderasi berlingkungan tidak akan terjadi jika tidak terdapat moderasi berdakwah. Ke depan tentu diharapkan akan muncul agen-agen dakwah yang mengedepankan kehidupan beragama yang moderat yang memelihara dan mengembangkan alam yang berkeseimbangan. Di dalam mengelola alam ada slogan tebang satu tanam satu. Harus menjaga keseimbangan alam. Jika kita moderat dalam berlingkungan, maka moderasi beragama juga akan terwujud, dan ini semua dapat dilakukan oleh agen-agen dakwah yang berlaku moderat. Yakni da’i yang tidak menggerakkan beragama yang ekstrim, yang radikal tetapi beragama yang penuh dengan humanisme dan ekoteologisme. Di situ ada friendly dakwah, yaitu da’i yang mengedepankan pesan nilai dakwah dan aksi dakwah yang bersahabat.
Substansi untuk mengembangkan moderasi beragama, berdakwah dan berekologi terdapat pada Beragama Berbasis Cinta (KBC), sebagaimana digagas oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Menag, dengan prinsip lima cinta, yaitu: Cinta kepada Allah dan Rasulnya, Cinta kepada ilmu pengetahuan, Cinta kepada diri dan sesama manusia, Cinta kepada lingkungan dan Cinta tanah air. Jika kita bisa menerapkan lima cinta ini, maka ketiga moderasi itu akan dapat diraih di dalam kehidupan.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like

Al-Qur’an, Pesantren dan Pembelajaran Bahagia


International Conference di ASEANECA: Empowering Nusantara

