Gelar Karya Professor: Manusia, Agama dan Teknologi
Acara unik dilakukan oleh UIN Syekh Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU) dalam paket kegiatan Gelar Karya Guru Besar UIN SATU. Ada banyak karya yang dibahas. Karya Prof. Dr. Mujamil Qomar, Prof. Dr. Imam Fuadi, Prof. Ahmad Tanzih, Prof. Dr. Ngainun Hadi, Prof. Muntahidun dan moderator Dr. Rizqa Ahmadi. Saya diminta oleh Rektor UIN SATU, Prof. Dr. Abdul Azis, untuk mereview karya-karya tersebut. Acara dihadiri oleh para Wakil Rektor, Dekan, Kaprodi Program Doktor Studi Islam, para dosen dan mahasiswa program Magister dan Doktor UIN SATU. 03/08/2026.
Prof. Dr. Mujamil dengan karya yang berjudul: “Idiom-Idiom Islam di Indonesia, Beyond Tradisionalisme: Kritik Rasionalitas, Tradisi dan Spirit Zaman Baru, Tradisi yang Terus Bergerak: Fragmen intelektualisme NU dan Pencarian Islam Humanis, Islam Metodologis: Model, Rumusan dan Strategi”. Prof. Dr. Ngainun Naim dengan karya: “Islam dan Disabilitas: Aksesibilitas, Mediatisasi, Kekerasan Seksual dan Penegakan Hukum, Spiritualitas, Intelektualitas dan Moderasi Beragama: Ikhtiar Membangun Kerukunan dan Masyarakat Majemuk”. Prof. Dr. Ahmad Tanzeh dengan karya: “Eksplorasi Model Pembelajaran Imersif dalam Merancang Pengalaman Belajar yang Transformatif di Era Abad ke-21.” Prof. Dr. Imam Fuadi dengan karya yang berjudul: “Teologi Islam: Akar-akar Kemunculan dan Aliran-Aliran di Dalamnya.” Prof. Dr. M. Muntahibun Nafis dengan karya berjudul: “Ethno-Stream dalam Pembelajaran Studi Islam, Music and Islam Expression in Public Space: Sufi Music in Indonesia and United Kingdom.”
Sebagaimana biasa, yang menjadi keynote Speech adalah Rektor UIN SATU, Prof. Dr. Abdul Azis, MPdI, dan dilanjutkan dengan penjelasan dari penulis buku. Dimulai dengan Prof. Mujamil, Prof. Tanzih, Prof. Ngainun, Prof. Fuadi, dan Prof. Muntahibun. Acara disiapkan dengan baik. Para penulis buku sudah menyampaikan penjelasan dalam video yang terukur waktunya, dan memberikan penjelasan atas pertanyaan moderator yang memancing untuk memperdalam pembahasan. Acara tanya jawab dengan audience diselenggarakan pada tahap akhir. Banyak juga yang mengajukan pertanyaan, baik lelaki dan perempuan.
Sebagai reviewer umum, maka saya sampaikan tiga catatan penting, yaitu:
Pertama, acara ini diselenggarakan secara imajinatif-distingtif artinya melibatkan upaya secara serius untuk menyelenggarakannya tidak sebagaimana bedah buku pada umumnya. Acara dikemas dengan sangat baik dan interaktif. Peran moderator menjadi sangat vital untuk mengatur jalannya acara. Dr. Rizqa harus menyiapkan sejumlah pertanyaan untuk pendalaman dari penulis buku. Dari acara ini saya juga mendapatkan sejumlah pengetahuan, misalnya terkait dengan model pembelajaran imersif dan ethno-STREAM. Selain juga wacana Islam sebagaimana cara pandang sosiologis, seperti Islam Metodologis yang merupakan labeling atas umat Islam sebagaimana yang selama ini sudah dilakukan oleh para ahli.
Kedua, di dalam buku Prof. Mujamil yang membahas mengenai Islam metodologis, sebagai labeling atas Islam sesuai dengan metodologi keilmuan, maka akan menjadi menarik andaikan dikaitkan dengan epistemologi yang menjadi bagian terpenting dalam kajian Islam, seperti Epistemologi Bayani atau serba teks, epistemologi Burhani yang serba rasio, epistemologi Tajribi yang serba pengamatan dan epistemologi irfani yang serba intuisi atau dzauq. Selama ini di dalam studi Islam kita sudah dijajah oleh epistemologi barat, utamanya epistemologi burhani dan tajribi, sehingga epistemologi bayani dan irfani kurang disentuh. Khususnya epistemologi irfani dianggap tidak ilmiah, karena tidak memenuhi standart ilmu yang empiris, yaitu empiris rasional dan empiris sensual.
Untuk Prof. Ngainun, sesungguhnya ada dua konsep yang dikembangkan dalam memandang mereka yang dinyatakan sebagai memiliki kekurangan dalam kemampuan. Ada konsep disabilitas yang menggambarkan bahwa mereka adalah orang yang tidak mampu untuk melakukan sesuatu dan ada konsep difabilitas yang menggambarkan bahwa mereka memiliki keahlian yang berbeda. Saya pernah dikritik saat menggunakan konsep disablitas dalam tulisan di nursyamcentre.com “FYP: Disablitas Bukan Akhir segalanya”, 28 /10/2022. Saya dikritik sebab yang benar adalah kaum difabel atau different ability dan bukan disabilitas atau disability atau tidak berkemampuan.
Prof. Imam Fuadi sangat baik dalam menjelaskan tentang aliran teologi. Namun yang terpenting adalah bagaimana aliran-aliran teologis ini hidup di zaman sekarang. Bagaimana aliran teologi tersebut memiliki relevansi dengan perubahan di era VUCA. Zaman yang berubah cepat, tidak menentu, kompleks dan ambiguitas. Apakah aliran teologi yang ke depan akan selalu relevan dan memiliki masa depan yang bagus untuk menjelaskan dan menjadi pisau analisis atas situasi sekarang. Bagi saya yang penting tiga saja. Jabariyah yang serba takdir. Ini cocok untuk orang tua. Qadariyah atau serba usaha cocok untuk orang muda, dan Mixed Theology, aliran Ahlu Sunnah wal jamaah yang relevan untuk masyarakat plural dan multikultural.
Prof. Ahmad Tanzih memberikan inovasi pembelajaran baru yang disebut sebagai model pembelajaran imersif. Model ini dinyatakan cocok untuk mendongkrak pengalaman belajar. Di tengah kecenderungan generasi milenial yang serba instant, serba cepat dan serba IT, maka pembelajaran imersif menjadi menarik untuk dicermati. Yang paling penting adalah bagaimana mengaplikasikan model ini untuk menghasilkan produk pembelajaran yang lebih akseptabel dan possible dilakukan.
Prof. Muntahibun Nafis juga menghasilkan inovasi di dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran dalam bidang seni yang terkait dengan bidang studi ilmu keislaman. Di dalam penelitiannya tentang wayang di Indonesia, didapatkan satu pemahaman bahwa di dalam dunia pewayangan itu terdapat pola umum yang berlaku mendasar dan pola khusus yang berlaku mendalam. Wayang di Jawa, di Bali, di Kalimantan memiliki dua makna tersebut. Tidak hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan. Melalui pembelajaran Ethno-STREAM atau Sains, Technology, Religions, Enginering, Arts and Mathematics, maka didapatkan relasi antar bidang ilmu untuk menghasilkan produk pembelajaran yang sesuai dengan nuansa generasi milenial.
Ketiga, kita sedang hidup di era AI. Di sini diperlukan etika AI. Jangan sampai AI itu meninabobokkan kita untuk melakukan pelanggaran. Bisa dibayangkan bahwa AI dapat melakukan segalanya mulai dari merumuskan judul sampai menuliskan jawaban key informan atau informan atau jawaban responden dengan cara yang sangat cerdas. Bahkan bisa merumuskan tipology atas data yang dibuatnya. Jika kita tidak hati-hati dan secara sembarangan menggunakan AI untuk penelitian, maka ke depan akan melahirkan generasi yang menuju ke arah “The Death of Rationality”. Jika terus dipelihara, maka akan menghasilkan generasi yang menuju “The Death of Expertise, dan jika itu terus terjadi lama-kelamaan akan menghasilkan “The Death of Universities”. Bahkan juga generasi parafraser. Jadikan AI sebagai partner dan bukan sumber segalanya.
Kata kuncinya adalah integritas. Mahasiswa dan dosen harus jujur dalam menghasilkan karya akademis. Bukan tidak boleh menjadikan AI sebagai partner. Akan tetapi yang terpenting adalah berpikir dulu dan baru mendiskusikannya dengan AI. Scribo, Ergo Sum.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like




