NU, PTNU dan Tantangan Global (2)
PTNU menghadapi tantangan yang sangat besar, baik tantangan internal maupun eksternal. Tantangan internal, misalnya adalah kepemimpinan. Selama ini kepemimpinan, yang dilakukan oleh rektor atau ketua, lebih banyak mengandalkan dimensi “kekerabatan”, sehingga PTNU itu ibaratnya adalah lembaga pendidikan keluarga. Sistem kepemimpinan seperti ini akan meminimalkan konflik dan kontestasi, sebab diselenggarakan berdasarkan atas azas kekeluargaan.
Melalui sistem kepemimpinan ini memang terjadi harmoni dalam tata kelola pendidikan. Namun demikian akan menyisakan betapa kecilnya ruang dinamika di dalam pengembangannya. Artinya, bahwa jika ada target yang tidak tercapai, akan sering dima’fu. Oleh karena itu, yang terpenting adalah mengembangkan kharisma sistem kelembagaan dan bukan sistem kharisma personal. Visi, misi dan program harus dikawal betul di dalam tata kelola sehingga tidak terdapat peluang melakukan kesalahan. Diperlukan penerapan manajemen kinerja, yaitu: Plan, Do, Check, Action (PDCA) secara ketat dan terukur.
Jadi sebenarnya di dalam kepemimpinan sudahlah selesai. Baik hard skilled atau transformatif leadership maupun soft skilled atau friendly leadership, kiranya harus sudah dapat diselesaikan. Soft skilled kepemimpinan meliputi kualitas kepemimpinan, kualitas manajemen, kualitas lingkungan akademik dan budaya kerja tentu sudah bisa dioptimalkan. Sedangkan hard skilled kepemimpinan meliputi infrastruktur, PBM dan kualitas dosen dan outcome atau produk pendidikan memang harus diupayakan secara terus menerus. Banyak PTNU yang masih berjibaku dalam infrastruktur maupun peningkatan kualitas dosen dan PBM serta produk pendidikan yang berkualitas.
Yang tidak kalah menarik adalah tantangan eksternal. Kita sedang menghadapi generasi milenial dan generasi Z atau Genzi. Jika pada generasi milenial memiliki kemampuan TI yang sangat andal, juga memiliki talenta kerja kolaboratif. Mereka adalah generasi eksplorer dan simpel. Sementara itu Genzi merupakan generasi yang rentan dalam menghadapi perubahan terutama tekanan psikhologis, sehingga dilabel sebagai generasi strawberry atau generasi yang perlu mendapatkan support di dalam proses pembelajaran. Mereka generasi yang mudah terpengaruh oleh IT, sebagai konsekuensi dari apa yang dilihat dan didengar melalui Youtube, Tiktok, IG dan sebagainya. Mereka memerlukan sentuhan khusus di dalam PBM yang berbasis pada penggunaan IT.
Tantangan eksternal atau IT yang berkembang cepat juga harus direspon dengan cara yang bijak. Sekarang penggunaan AI sudah merambah pada semua kalangan, terutama Generasi Milenial atau GenZi. Jika mereka tidak diarahkan dengan benar, misalnya dengan menempatkan etika penggunaan AI, maka akan dihasilan generasi yang akan mengarah kepada The Death of Rationalism, The Death of Expertise dan akhirnya akan berdampak pada the Death of Universities. Para mahasiswa harus memperoleh sentuhan pembelajaran berbasis IT atau AI, tetapi menjadikannya sebagai partner dan bukan satu-satunya sumber belajar. Bayangkan bahwa dengan AI, semua tugas akan dapat diselesaikan. Sungguh mengkhawatirkan.
Tantangan mendasarnya adalah outcome yang sangat mengedepan. PTNU tidak hanya menghasilkan sarjana, akan tetapi menghasilkan sarjana yang kompetitif dan distingtif. Sementara itu, program-program studi pada PTNU kebanyakan merupakan studi yang bercorak pengembangan ilmu-ilmu murni, ilmu keislaman murni. Makanya diperlukan upaya untuk memberikan kemampuan soft skilled agar bisa berdampingan dengan hard skilled ilmu yang dikuasainya. Di antara yang mendasar adalah bagaimana mereka memahami tantangan masa depan sebagai generasi milenial atau generasi Z. Tugas pimpinan PTNU adalah menyerasikan antara hard skilled dengan soft skilled yang direncanakan. Mari kita check tentang pengangguran terdidik sebanyak 1.033.182 orang (BPS, 2025) dari lulusan S1, S2 dan S3. Jumlah generasi muda terdidik 10,2 persen atau 267,000 orang, dan dari angka tersebut lebih satu juta di antaranya adalah pengangguran. Jika kita kaji lebih mendalam, maka sumbangan terbesarnya adalah Sarjana Ilmu Sosial, Humaniora dan ilmu keagamaan. Kita prihatin dengan outcome PTNU, khususnya.
Kemudian tantangan kualitas PTNU. Dari Posisi 10 PT Swasta dengan rangking terbaik: Telkom University (peringkat dunia 1150, peringkat Indonesia 8), Binus University (peringkat dunia 1184 peringkat nasional 9), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (peringkat dunia 1886 peringkat nasional 20), Universitas Ahmad Dahlan (peringkat dunia 2121 peringkat nasional 23), UII (peringkat dunia 2156, dan nasional 25). Universitas Dian Nuswantoro (peringkat dunia 2456, dan nasional 29), Univeritas Muhammadiyah Surakarta (peringkat dunia 2521, dan nasional 32), Universitas Mercu Buana (peringkat dunia 2600, dan nasional 33), Universitas Muhammadiyah Malang (peringkat dunia 2671, dan nasional 36), Universitas Gunadarma (peringkat dunia 2742, dan nasional 40). Tidak ada satupun PTNU yang bisa memasuki rangking tersebut. Berdasarkan sistem pemeringkatan Unirank, maka ada 11 indikator untuk kesejahteraan dan fasilitas mahasiswa, penghargaan dan pengakuan 5%, Kesiapan kerja dan Kesuksesan karir 12%, peringkat lokal dan nasional 3 persen, internasionalisasi dan keanekaragaman 5 %, prestasi akademik dan penelitian 15 %, kualitas pendidikan 12%, dampak web dan kehadiran digital 10%, digitalisasi dan kampus pintar 8%, profil dan kapasitas institusional 5%, pengalaman dan kepuasan mahasiswa 5% dan pengalaman dan kepuasan mahasiswa 10%.
Jika mengikuti pemeringkatan Webometrics, maka UNISMA masuk peringkat (17 rangking dunia 1684, dengan pemeringkatan berdasarkan pengaruh 882, ranking berdasarkan keterbukaan 5716 dan rangking berdasarkan keunggulan 1833. Secara nasional, maka Telkom University (peringkat 1), Universitas Muhammadiyah Surakarta (peringkat 2), Universitas Ahmad Dahlan (peringkat 3), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (peringkat 5), Universitas Muhammadiyah Malang (peringkat 7), Uhamka (peringkat 8), Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (peringkat 11), Universitas Muhammadiyah Jakarta (peringkat 13), Universitas Muhammadiyah Makasar (peringkat 14), Universitas Muhammadiyah Jember (peringkat 16) dan UNISMA (peringkat 17). Pengukuran dilakukan berdasarkan atas berdasarkan atas visibilitas dampak berdasarkan domain rujukan eksternal berdasarkan Ahrefs.com (50%), transparansi kutupan dari 310 peneliti yang paling banyak dikutip berdasarkan google scolar 10% dan keunggulan makalah penelitian dalam 10 persen teratas yang paling banyak dikutip2019-2013 berbasis copus/scimago bobot 40%.
Bagi PTNU pekerjaan rumahnya masih sangat banyak. Saya kira tidak bisa menjadi pemimpin PTNU dengan bertindak easy going. Harus melesat sebagaimana strategi yang diambil oleh UNISMA, dan untuk seperti UNISMA juga perlu kerja keras, kerja cerdas dan kerja bersama. Sementara itu UNISMA juga perlu memperhatikan posisinya di tengah PTS yang juga terus melesat di tengah kompetitor yang juga semakin menguat. Siapa yang cepat, dia yang dapat.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like

NU, PTNU dan Tantangan Global (1)

Kepemimpinan sebagai Substansi Pengembangan PTKIN


