Teori Konflik Sosial (1)
Teori konflik sosial merupakan bagian dari paradigma fakta sosial. Paradigma fakta sosial dikembangkan oleh Emile Durkheim dan terus berkembang hingga sekarang. Paradigma fakta sosial menjadikan sasaran kajian ilmu sosial (baca sosiologi) adalah barang sesuatu atau things yang bercorak eksternal dan mempengaruhi perilaku manusia. Barang sesuatu atau things tersebut bisa berupa arsitektur, kelompok, norma, hukum yang dapat dibedakan dengan ide atau gagasan atau mind.
Teori konflik sebenarnya sudah dikembangkan secara sederhana oleh George Simmel yang mengkaji tentang persahabatan dua orang yang semula damai dan kemudian menjadi bermasalah di saat muncul orang ketiga. Konsep dyad dan triad menjadi permulaan dalam pertumbuhan teori konflik. Teori konflik sosial menjadi fenomenal di tangan Karl Marx, yang mendeklarasikan tentang adanya konflik horizontal antara kaum proletar dengan kaum borjuis. Karl Marx merupakan teorikus yang memiliki pengaruh sangat besar di dalam pengembangan teori konflik sosial pada generasi berikutnya.
Meskipun sama berada di dalam paradigma fakta sosial, akan tetapi memiliki basis konseptual yang sangat berbeda antara Marx dan Durkheim. Jika Durkheim memiliki basis konsep bahwa dunia merupakan sebuah keteraturan atau disebut sebagai social order, maka sebaliknya Marx beranggapan bahwa dunia merupakan pengejawantahan konflik sosial. Di mana-mana terdapat konflik sosial, terutama di era awal industrialisasi adalah konflik antara pemilik modal atau kaum borjuis dengan kaum pekerja atau para buruh. Jika para buruh seluruh dunia melakukan mogok kerja, maka akan terjadi masyarakat tanpa klas atau masyarakat komunis.
Pada tahapan berikutnya muncullah ahli-ahli teori konflik yang mengembangkan gagasan tentang konflik sosial dan factor-faktor atau akibat-akibat yang ditimbulkannya. Muncullah, misalnya Ralf Dahrendorf dengan teori konflik kewenangan, Lewis Coser dengan teori konflik fungsional, Charles Wright Mills dengan teori power elit atau teori konspirasi. Teori konflik sosial juga berkembang di Italia dengan tokoh yang sangat terkenal adalah Antonio Gramsci dengan teori hegemoni.
George Simmel
Beliau lahir pada 1 Maret 1858 di Berlin. Menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Berlin tahun 1881. Semula Simmel menjadi dosen privat yang menerima bayaran dari peserta kursusnya, tetapi kemudian pindah untuk mengajar di Universitas Strasbourg meskipun akhirnya juga tetap menjadi dosen yang berada di wilayah pinggiran. Ia tidak merasa menjadi bagian dari universitas barunya tersebut. Dan ketika pecah Perang Dunia I, maka Lembaga Pendidikan tersebut dijadikan sebagai rumah sakit militer dan mahasiswa.
Beliau banyak menulis di antaranya adalah The Philosophy of Money dan The Metropolis and Mental Life. Beliau hidup di era perang, sehingga mengilhaminya untuk menulis tentang konflik sosial, hanya saja beliau tertarik untuk melihat konflik antar individu dan bukan konflik sosial berskala luas. Di antara proposisinya adalah kekuasaan, otoritas atau pengaruh merupakan sifat dalam kepribadian individu yang bisa menyebabkan terjadinya konflik. Jadi bisa saja orang yang tertindas akan melawan yang menindas, orang yang terpinggirkan akan melawan yang berada di pusat kekuasaan, orang yang minoritas akan melawan terhadap yang mayoritas.
Konflik bisa terjadi dalam relasi sosial antar dua orang dan tiga orang atau dyad dan triad. Jika berada dalam relasi dua orang mungkin akan terjadi kerukunan atau solidaritas sosial, maka Ketika menjadi tiga orang maka berpeluang untuk menjadi konflik sosial. Namun demikian, relasi antar dua orang juga bisa menjadi medan konflik, dan akhirnya membutuhkan kehadiran orang ketiga. Jadi relasi itu bisa saling menyebabkan konflik.
Simmel sangat berpengaruh, khususnya pada sosiologi Amerika melalui Universitas Chicago. Dari pemikiran relasi antar individu tersebut kemudian mengilhami lahirnya teori Interaksionisme simbolik sebagaimana digagas oleh W.I. Thomas dan Herbert Blumer. Keduanya kemudian mengembangkan teori interaksionisme simbolik yang kemudian berada di dalam paradigma definisi sosial. Di antara konsep lain yang dikembangkannya adalah mengenai kultur yang memiliki dominasi terhadap masyarakat modern, dan Ketika komponen-komponen kebudayaan tersebut, termasuk ekonomi dan keuangan, maka peran individu akan digantikan oleh peran Lembaga atau komunitas yang lebih besar. Contoh lain adalah mengenai peran mesin dalam kehidupan manusia. Semakin dominan dan banyak jumlah mesin yang berada di dalam kehidupan manusia, maka akan semakin kecil peran manusia di dalamnya, termasuk di dalam dunia perusahaan.
Karl Marx
Terdapat beberapa asumsi mengenai teori konflik, yaitu: manusia memiliki sejumlah kepentingan yang bisa saling bertabrakan, kekuasan merupakan sumber konflik karena terkadang tidak terbagi secara merata, setiap kelompok memiliki ideologi yang dapat dijadikan sebagai senjata untuk saling menganggap benar, sehingga masing-masing akan menganggap ideologi dan kepentingannya yang paling benar.
Karl Marx lahir di Prussia Trier tanggal 5 Mei 1818. Besar di Berlin dan aktif dalam berbagai organisasi dan juga partai politik, sehingga berpeluang untuk memiliki relasi yang sangat luas. Dia menyelesaikan program doktornya pada usia 23 tahun. Disertasinya mengupas filsafat alam Demokritos dan Epicurus. Ia pernah dijuluki sebagai Hegelian Muda karena menjadi pengikut Hegel yang setia dan cerdas. Namun di saat dewasa dia menentang konsep Hegel yang menyatakan bahwa dunia dibangun di atas ide. Marx sebaliknya berpendapat bahwa dunia dibangun di atas materi atau secara lebih khusus adalah ekonomi.
Karl Marx dikenal dengan konsep klas sosial. Industrialisasi yang terjadi di Eropa ternyata menyebabkan terjadinya polarisasi di antara anggota masyarakat dan mereka saling berlawanan. Mereka ini adalah Klas Proletariat dan Klas Borjuis. Klas borjuis adalah kelompok yang memiliki modal dan peralatan industry dan kelompok proletar hanyalah memiliki tenaga dan kemampuan bekerja. Dalam relasi ini, maka yang diuntungkan hanyalah kelompok pemilik modal, sehingga menyebabkan terjadinya alienasi atau keterpinggiran kaum pekerja dari hasil pekerjaannya. Itulah sebabnya, Karl Marx begitu yakin bahwa kelompok proletariat jika bersatu akan dapat menumbangkan kelompok borjuis.
Di dalam kehidupan sosial terdapat dua struktur yang saling berhadapan, yaitu: superstruktur yang terdiri dari negara, politik, hukum, milter, Pendidikan, ideologi dan agama yang dapat dipengaruhi oleh substruktur atau modes of production yang terbagi menjadi production relation and force of production. Dengan demikian, kekuatan produksi dapat mempengaruhi terhadap superstruktur. Kekuatan ekonomi dapat mempengaruhi terhadap supersrukturnya. Jika kekuatan ekonomi atau kaum buruh bergerak maka akan memengaruhi terhadap superstruktur, misalnya hukum, politik, negara dan sebagainya.
Karl Marx sangat berpengaruh terhadap kebijakan politik di Rusia dan beberapa negara lainnya, misalnya dengan kelahiran Partai Komunis oleh Lenin dan juga beberapa negara lain seperti Korea Utara, Vietnam di masa lalu, dan beberapa negara Amerika Latin. Sedangkan secara teoretik dapat memengarruhi lahirnya teori kritis sebagaimana berkembang di Jerman melalui Habermas, Theodor Adorno, Horkheimer dan kemudian di Italia seperti Antonio Gramsci, George Lucas, dan Louis Althuser.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Bahan bacaan: Nur Syam, bukan Dunia Berbeda, Sosiologi Komunitas Islam (Surabaya: Eureka, 2005), Nur Syam, Model Analisis Teori Sosial, (Surabaya: PNM dan IAIN Press, 2009).
You may also like
Integrasi Sains dan Ilmu Agama: Ilmu Kesehatan Transendental
Integrasi Sains dan Ilmu Agama: Ekonomi Syariah
Integrasi Sains dan Ilmu Agama: Pendidikan Transendental

