Potret al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an: Peran Balaghah dalam Penafsiran Al-Qur’an (Bagian Keenam)
Munasabah merupakan salah satu kajian Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang mendapat perhatian serius dari para ulama. Kajian ini menitikberatkan pada upaya menyingkap keserasian Al-Qur’an, baik antar surah, ayat, maupun kata/kalimat. Perangkat keilmuan yang mereka gunakan untuk mendedah aspek inipun beragam, salah satunya balaghah. Peran balaghah dalam konteks inilah yang akan kita telaah pada artikel kali ini.
Tegasnya, dalam konteks penafsiran Al-Qur’an, balaghah dapat membantu mufasir menjelaskan keserasian kata dalam sebuah ayat dan keserasian ayat dalam sebuah surah. Secara lebih spesifik, Gus Awis menyebut empat fann balaghah yang terkait dengan hal ini. Pertama tahdzib, yakni pengalihan gaya bahasa yang secara lazim digunakan dalam bahasa Arab. Sebagai contoh, dalam bahasa Arab terdapat “regulasi†penggunaan fi‘il (kata kerja) yang memiliki dua objek; salah satu objek diikuti oleh preposisi (huruf), sementara yang lain tidak. Nah, regulasi tersebut menyatakan “keharusan†mendahulukan objek yang tidak diikuti oleh preposisi. Kata kerja basatha (بسط) misalnya, memiliki dua objek yang salah satunya diikuti oleh preposisi berupa ila (إلى). Perhatikan contoh di bawah ini:
بَسَطَ يَدَه٠إÙÙ„ÙŽÙ‰ ÙÙلَان
Lelaki itu mengulurkan tangannya kepada Fulan.
Berikutnya, perhatikan surah al-Ma’idah ayat 28 berikut ini:
لَئÙÙ†Û¢ بَسَطتَ Ø¥Ùلَيَّ يَدَكَ Ù„ÙØªÙŽÙ‚ۡتÙÙ„ÙŽÙ†ÙÙŠ مَآ Ø£ÙŽÙ†ÙŽØ§Û Ø¨ÙØ¨ÙŽØ§Ø³Ùط٠يَدÙÙŠÙŽ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙŠÛ¡ÙƒÙŽ Ù„ÙØ£ÙŽÙ‚ۡتÙÙ„ÙŽÙƒÙŽÛ– Ø¥ÙنّÙيٓ أَخَاÙ٠ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمÙينَ
Sesungguhnya jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.
Sebagaimana terlihat, dalam ayat di atas terdapat “deviasi†saat menggunakan kata kerja basatha. Alih-alih mengakhirkan, ayat di atas justru mendahulukan objek yang berpreposisi, “La’in basathta ilayya yadaka.†Baru pada frasa setelahnya, saat kata kerja ini digunakan lagi, gaya bahasa beralih pada “aturan normalâ€, “Ma ana bibasith yadiya ilayka.†Pertanyaan yang muncul adalah mengapa? Mengapa frasa pertama menggunakan gaya bahasa tahdzib, sedangkan yang kedua tidak?
Gus dalam al-Syamil-nya menjelaskan alasan deviasi itu dari sisi pelafalan. Yakni karena bila frasa pertama tersebut mengikuti aturan dasar, maka akan menimbulkan “aib/kecacatan†sebuah kalam yang disebut dengan su’ al-jiwar (buruknya huruf-huruf yang berdampingan). Dengan kata lain, akan menyebabkan sulitnya kalimat tersebut dilafalkan, sebab ada rentetan tiga huruf yang makhraj-nya berdekatan, yaitu tha’, ta’, dan ya’. Oleh karenanya, susunan kalimatnya diubah demi menciptakan pelafalan yang mudah dan lancar, “Basathta ilayya yadaka.†Kemudian, ketika kekhawatiran beratnya pelafalan itu tidak didapatkan pada kalimat berikutnya, “Bibasith yadiya ilayka,†maka susunan yang dipakai mengikuti aturan dasarnya. Demikianlah letak keserasian dua frasa tersebut dalam ayat di atas.
Kedua, taqmin wa ta’khir yakni pendahuluan dan pengakhiran kata atau kalimat karena adanya maksud tertentu yang hendak disampaikan. Sebagai contoh, perhatikan pendahuluan-pengakhiran kata al-tha’ifin (orang-orang yang tawaf), al-‘akifin (orang-orang yang iktikaf), dan al-rukka‘ al-sujud (orang-orang yang rukuk-sujud, yakni salat) yang terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 125 berikut ini:
ÙˆÙŽØ¹ÙŽÙ‡ÙØ¯Û¡Ù†ÙŽØ§Ù“ Ø¥Ùلَىٰٓ Ø¥ÙØ¨Û¡Ø±ÙŽÙ°Ù‡Ùيمَ ÙˆÙŽØ¥ÙØ³Û¡Ù…َٰعÙيلَ Ø£ÙŽÙ† Ø·ÙŽÙ‡Ù‘ÙØ±ÙŽØ§ بَيۡتÙÙŠÙŽ Ù„ÙلطَّآئÙÙÙينَ وَٱلۡعَٰكÙÙÙينَ وَٱلرّÙÙƒÙ‘ÙŽØ¹Ù Ù±Ù„Ø³Ù‘ÙØ¬ÙودÙ
(Ingatlah ketika) Kami wasiatkan kepada Ibrahim dan Isma‘il, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, serta yang rukuk dan sujud (salat)!â€
Mengapa al-tha’ifin disebut terlebih dahulu daripada al-‘akifin, dan al-rukka‘ al-sujud disebut paling terakhir? Mengapa tidak disebutkan secara terbalik misalnya, salat dulu, lalu iktikaf, baru kemudian tawaf? Nah terkait hal ini, Gus menjelaskan bahwa pendahuluan-pengakhiran ketiga kata tersebut bertujuan li al-taraqqi, yakni menyebut beberapa hal secara bertingkat, mulai dari yang paling khusus menuju yang paling umum. Tegasnya, tawaf hanya dapat dilakukan oleh mereka yang dekat Ka‘bah, berbeda dengan iktikaf yang dapat dilakukan di mana saja selama masih dalam koridor masjid (Masjidil Haram). Lalu salat lebih leluasa lagi, tidak harus dilakukan di dalam masjid, tetapi bisa dilakukan di pelataran Masjidil Haram atau bahkan di hotel. Demikian terlihat salah satu contoh konkret keserasian di balik pendahuluan-pengakhiran kata demi kata dalam Al-Qur’an.
Ketiga, husn al-tartib yakni merangkai kata demi kata dan kalimat demi kalimat secara berurutan sesuai dengan proses yang terjadi sehingga membentuk pola penyusunan yang indah. Perhatikan potongan surah al-Nur [43]: 43 berikut ini:
Ø£ÙŽÙ„ÙŽÙ…Û¡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ ÙŠÙØ²Û¡Ø¬ÙÙŠ سَØÙŽØ§Ø¨Ù‹Ø§ Ø«Ùمَّ ÙŠÙØ¤ÙŽÙ„Ù‘ÙÙ٠بَيۡنَهÙÛ¥ Ø«Ùمَّ يَجۡعَلÙÙ‡ÙÛ¥ رÙكَامًا Ùَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ ÙŠÙŽØ®Û¡Ø±ÙØ¬Ù Ù…ÙÙ†Û¡ Ø®ÙلَٰلÙÙ‡ÙÛ¦ ÙˆÙŽÙŠÙنَزّÙÙ„Ù Ù…ÙÙ†ÙŽ ٱلسَّمَآء٠مÙÙ† Ø¬ÙØ¨ÙŽØ§Ù„Ù ÙÙيهَا Ù…ÙÙ†Û¢ بَرَد٠ÙÙŽÙŠÙØµÙيب٠بÙÙ‡ÙÛ¦ Ù…ÙŽÙ† يَشَآء٠وَيَصۡرÙÙÙÙ‡ÙÛ¥ عَن مَّن يَشَآءÙÛ– يَكَاد٠سَنَا بَرۡقÙÙ‡ÙÛ¦ يَذۡهَب٠بÙٱلۡأَبۡصَٰرÙ
Tidakkah engkau melihat bahwa sesungguhnya Allah mengarahkan awan secara perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu menjadikannya bertumpuk-tumpuk. Maka, engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung. Maka, Dia menimpakannya (butiran-butiran es itu) kepada siapa yang Dia kehendaki dan memalingkannya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.
Ayat di atas menjelaskan proses terjadinya hujan secara sistematis atau berurutan. Yakni dimulai dengan teraraknya awan, lalu berkumpul, bertindih-tindih, kemudian turunlah hujan. Bahkan ayat di atas dinilai oleh sementara pakar muslim sebagai “isyarat ilmiah†yang telah mendahului penemuan ilmiah modern tentang fase-fase pembentukan awan kumulus, ciri-cirinya dan hal-hal lain yang berkaitan proses terjadinya hujan.
Keempat, al-munasabah al-lafzhiyyah wa al-ma‘nawiyyah yakni keserasian kata dan makna. Surah Yusuf ayat 85 berikut adalah salah satu contohnya:
قَالÙواْ تَٱللَّه٠تَÙÛ¡ØªÙŽØ¤ÙØ§Ù’ ØªÙŽØ°Û¡ÙƒÙØ±Ù ÙŠÙوسÙÙÙŽ ØÙŽØªÙ‘َىٰ تَكÙونَ ØÙŽØ±ÙŽØ¶Ù‹Ø§ Ø£ÙŽÙˆÛ¡ تَكÙونَ Ù…ÙÙ†ÙŽ ٱلۡهَٰلÙÙƒÙينَ
Ayat di atas menggunakan tiga kata gharib (asing) sekaligus: tallahi, tafta’u, dan haradhan. Ketiga kata ini sama-sama jarang digunakan dalam bahasa Arab. Tallahi adalah kalimat sumpah, tafta’u adalah kata kerja istimrar, dan haradhan adalah term “kerusakan†(halak). Dengan kata lain, ayat tersebut secara konsisten dan serasa menggunakan kata-kata gharib. Ini belum lagi bila kita melihat konteks ayat tersebut yang notabene sedang mengabadikan ucapan famili Nabi Ya‘qub. Mereka berkata kepada Nabi Ya‘qub yang tiada henti-hentinya menangisi putra tercintanya, Nabi Yusuf, dengan nada terheran-heran (istighrab), “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf sehingga engkau (mengidap) penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa (wafat).â€
Sumber Rujukan
M. Afifudin Dimyathi, al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an, Vol. 1 (Kairo: Dar al-Nibras, 2021), 288.
M. Afifudin Dimyathi, al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an, Vol. 2 (Kairo: Dar al-Nibras, 2021), 94, 368.
Muhammad b. Ya‘qub al-Syirazi al-Fayruz Abadi, al-Qamus al-Muhith, Vol. 2 (Mesir: al-Hay’ah al-Mishriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1978), 347-348.
al-Sayyid Muhammad Murtadha al-Husayni al-Zabidi, Taj al-‘Arus min Jawahir al-Qamus, Vol. 14 (Kuwait: Mathba‘ah Hukumah al-Kuwayt, 1980), 142-153.
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 8 (Tangerang: Lentera Hati, 2017), 576.
You may also like
Tafsir Cum Maghza atas Bunyi yang Dituduh Bising
Dakwah kok Guyon?: Kata Mereka yang Salah Tafsir
Tafsir Khilafah dan Hilangnya Etika Ekologis

