Pendahuluan Sebagaimana maklum diketahui bahwa salah satu faktor yang melatarbelakangi timbulnya perbedaan penafsiran adalah perbedaan pendekatan atau metode yang digunakan oleh para mufasir dalam memaknai ayat-ayat Al-Qur’an. Penafsiran yang bertitik pijak pada pendekatan kebahasaan misalnya, akan memunculkan pemaknaan yang sedikit banyak berbeda dengan penafsiran berbasis riwayat-riwayat (bi al-atsar). Demikian halnya dengan pendekatan saintifik (tafsir
Pendahuluan Kisah yang terkandung dalam surah al-Baqarah ini tentu tidak asing lagi bagi sebagian besar dari kita. Kisahnya sering kita dengar dalam berbagai kesempatan; pelajaran sekolah, pengajian, khotbah jumat, kenduri, selamatan, resepsi, celetukan ringan di warung kopi, dan lain sebagainya. Tetapi, pernahkah kita merenungkan ibrah berharga yang terkandung di balik kisah itu? Adakah nilai
Pendahuluan Kisah yang terkandung dalam surah al-Baqarah ini tentu tidak asing lagi bagi sebagian besar dari kita. Kisahnya sering kita dengar dalam berbagai kesempatan; pelajaran sekolah, pengajian, khotbah jumat, kenduri, selamatan, resepsi, celetukan ringan di warung kopi, dan lain sebagainya. Tetapi, pernahkah kita merenungkan ibrah berharga yang terkandung di balik kisah itu? Adakah nilai
Pendahuluan Surah al-Anfal (Harta Rampasan Perang) merupakan surah kedelapan ditinjau dari urutan surah-surah dalam Al-Qur’an. Namanya telah dikenal sejak zaman Nabi SAW. Di samping dari uraiannya tentang hukum rampasan perang yang dikandungnya, nama itu sendiri diambil dari uraian ayat-ayatnya yang pertama, yang berbicara tentang al-Anfal. Selain al-Anfal, surah ini juga kerap disebut sebagai surah
Pendahuluan Sebagai sahabat bergelar Tarjuman al-Qur’an, nama Ibn ‘Abbas dalam diskursus Ilmu Tafsir amat diperhitungkan. Penafsiran-penafsirannya dijadikan sebagai sumber primer oleh para ulama sejak dulu hingga sekarang. Hal ini bukan hanya dilatarbelakangi oleh kecerdasan dan kecakapannya dalam mengungkap makna tersirat maupun tersurat di balik ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi ditopang pula oleh doa Nabi SAW yang
Pendahuluan Tafsir al-Kasysyaf karya az-Zamakshsyari dikenal secara luas di kalangan umat Islam, khususnya para pengkaji tafsir Al-Qur’an di berbagai belahan dunia. Bahkan belakangan saat diskursus keislaman menjadi trend kajian dari kalangan “luarâ€, gaung Tafsir itu menggemakan suara lantang di telinga para orientalis non-muslim. Memang, pernyataan ini terkesan berlebihan, tapi demikianlah faktanya. Kemasyhurannya bukan hanya
Pendahuluan Dalam surah al-Nisa’ [4]: 1, terdapat dua kata yang dibaca secara beragam atau bervariasi, yakni tasa’aluna dan al-arham. Tetapi dalam pembahasan ini, kita akan fokus pada varian qira’at kata yang kedua, al-arham. Hal ini dikarenakan—sependek telaah yang penulis lakukan—varian qira’at kata inilah yang menuai kontroversi yang berkepanjangan. Mayoritas Qurra’ membaca kata tersebut
Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah untuk penulis kitab Zubdat al-Itqan yang sedang kita kaji bersama. Untuk as-Sayyid Muhammad b. ‘Alwi al-Maliki al-Hasani, al-Fatihah. Pendahuluan Sebagaimana yang telah kita bahas pada artikel-artikel sebelumnya, Ilmu Qira’at merupakan ilmu yang membahas tentang tata cara membaca
Pendahuluan Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang menerangkan tentang adab-adab seorang murid dengan mengacu pada penjelasan al-Syekh Hafizh Hasan al-Mas‘udi. Bila artikel sebelumnya fokus pada adab-adab yang berkaitan dengan relasi seorang murid dengan dirinya sendiri, maka di sini fokus pada yang berkaitan dengan relasinya dengan seorang guru. Empat Adab Seorang Murid
Status Surah Para ulama bersepakat bahwa surah al-Ma’idah berstatus madaniyyah. Di samping karena topik bahasannya seputar hukum-hukum syariat, juga karena ditemukan penjelasan dari generasi muslim awal yang menyatakan demikian seperti Ibn ‘Abbas, Qatadah dan adh-Dhahhak. Beberapa mufasir bahkan mengutip pernyataan ‘Abdullah b. ‘Amr dan Umm al-Mu’minin ‘Aisyah yang menegaskan bahwa surah ini termasuk surah
Munasabah Surah Keterkaitan surah al-Nisa’ dengan surah sebelumnya, Ali ‘Imran, terlihat setidaknya dari dua aspek: Pertama, pada akhir surah Ali ‘Imran, Allah SWT memerintahkan orang-orang mukmin untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya, “Hai orang-orang beriman! Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kamu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.†Nah pada permulaan surah
Status Surah Para ulama bersepakat bahwa surah al-Nisa’ berstatus madaniyyah. Berdasarkan uraian-uraian dalam tafsir-tafsir bi al-ma’tsur terkait hal ini, kita dapat mengasumsikan tiga argumen penting yang melandasi konsensus tersebut. Pertama, penjelasan Ibn ‘Abbas dan muridnya, Qatadah, yang mengatakan bahwa surah al-Nisa’ turun di Madinah. Kedua, pernyataan ‘Aisyah RA, “Tidaklah surah al-Baqarah dan al-Nisa’ turun
