Monday, July 27 2026

Author: Khobirul Amru

Salah satu kajian penting dalam disiplin Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir ialah muhkam dan mutasyabih. Titik tolak kajian ini diyakini oleh sejumlah ulama berasal dari penegasan Al-Qur’an sendiri dalam surah Ali ‘Imran [3]: 7 berikut:    Dialah (Allah) yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an)

Pada artikel sederhana ini kita akan menelaah peran balaghah yang keempat dalam konteks penafsiran Al-Qur’an perspektif Gus Awis, yakni menghindarkan pemahaman yang salah atau yang tidak dikehendaki oleh Al-Qur’an. Seperti yang kita ketahui, ada banyak faktor yang melatarbelakangi timbulnya pemahaman yang salah, antara lain keserupaan objek yang sedang dipahami dengan objek lain yang sejenis karena

Munasabah merupakan salah satu kajian Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang mendapat perhatian serius dari para ulama. Kajian ini menitikberatkan pada upaya menyingkap keserasian Al-Qur’an, baik antar surah, ayat, maupun kata/kalimat. Perangkat keilmuan yang mereka gunakan untuk mendedah aspek inipun beragam, salah satunya balaghah. Peran balaghah dalam konteks inilah yang akan kita telaah pada artikel kali

Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas satu dari lima peran balaghah dalam penafsiran Al-Qur’an perspektif Gus Awis, yakni menyingkap makna implisit dari lafal dan frasa Al-Qur’an. Kali ini kita akan menelaah peran kedua, menyingkap keakuratan makna dari diksi Al-Qur’an dan rahasia pemilihannya.    Sebagai pengantar, nampaknya kita perlu “menyadari” kembali urgensi diksi dalam sebuah kalimat,

Sejak awal, Al-Qur’an menyatakan, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (kitab suci) berupa Al-Qur’an berbahasa Arab agar kamu mengerti. (Yusuf [2]: 2)” Di tempat lain, Al-Qur’an menegaskan, “Sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) hanyalah diajarkan kepadanya (Nabi Muhammad SAW) oleh seorang manusia.’ Bahasa yang mereka tuduh (bahwa Nabi Muhammad belajar kepadanya) adalah bahasa ajam

Pada artikel sebelumnya, penulis menyebut beberapa istilah “baru” yang diperoleh Gus Awis saat menelaah karya Ibn Abi al-Ishba‘ (w. 654 H) dan Ibn al-Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H), seperti al-fara’id, al-iqtidar, al-ta‘aththuf, al-muhtamil al-dhiddayn, al-muzalzil dan al-tajzi’. Disebut “baru” karena sejauh telaah yang beliau lakukan, istilah-istilah ini tidak ditemukan dalam referensi-referensi balaghah yang umumnya digunakan

Latar Belakang Penyusunan(*)    Sebagaimana lazimnya sebuah karya—apapun itu—yang kemunculannya kerap dilatarbelakangi oleh satu-dua sebab, al-Syamil yang ditulis oleh Gus Awis itu pun demikian. Ide penyusunannya berawal dari pertanyaan salah seorang dosen, sekitar tahun 2016, yang menanyakan kitab balaghat al-Qur’an sebagai bahan materi mengajar di Pascasarjana Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Institut Agama Islam Negeri

Ialah KH. Muhammad Afifudin Dimyathi, lahir pada tanggal 7 Mei 1979 M di Jombang, Jawa Timur. Ayahnya, KH. Ahmad Dimyathi, adalah pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum (periode 2009-2016 M) sekaligus mursyid Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah. Sedangkan ibunya, Nyai Hj. Muflihah, adalah putri KH. Ahmad Marzuki Zahid, Pengasuh Pondok Pesantren Langitan (periode 1971-2000 M). Sejak kecil

Tema Surah    Kali ini kita akan mengkaji beberapa pandangan mufasir terkait tema utama surah Ali ‘Imran. Bermula dari Ibrahim al-Biqa‘i (w. 885 H), ia berpendapat bahwa ada dua tema/tujuan utama yang diulas oleh surah ini. Pertama, memantapkan keesaan Allah SWT. Kedua, mengabarkan bahwa (a) kepemilikan atas dunia, seperti harta benda, anak-anak dan lain sebagainya,

Munasabah    Dua hal yang akan kita bahas dalam artikel kali ini. Pertama, munasabah ekstratekstual, yakni keterkaitan surah Ali ‘Imran dengan surah sebelumnya, al-Baqarah. Kedua, munasabah intertekstual, yakni keterkaitan antara permulaan dengan bagian akhir surah Ali ‘Imran.    Munasabah Ekstratekstual    Ibn al-Zubayr (w. 708 H) menjelaskan tiga aspek keterkaitan surah Ali ‘Imran dengan al-Baqarah.

Status Surah Semua ulama mengonfirmasi bahwa surah ini berstatus madaniyah. Ia diturunkan setelah surah al-Anfal—al-Zarkasyi menyebut surah yang disebut belakangan ini turun pasca surah al-Baqarah—dan sebelum al-Ahzab. Selain terlihat dari narasi-narasi yang disajikannya seperti kritik atas kesalahan dan penyelewengan Ahli Kitab, penjelasan atas sejumlah hukum syariat Islam (ibadah haji, jihad, keharaman riba & balasan bagi

Tema Surah    ‘Abd Allah Darraz (w. 1958 M)    “Meskipun surah al-Baqarah ini panjang, kesatuan esensinya terangkai dari lima hal, yaitu mukadimah, empat tujuan dan penutup,” demikian lebih kurang Darraz mengawali uraiannya. Adapun mukadimah berisi pengenalan perihal Al-Qur’an dan penjelasan bahwa petunjuk yang dikandungnya telah mencapai tingkat kejelasan yang sempurna sehingga siapa pun yang

1 2 3 4 6