Potret al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an: Istilah “Baru” dan Proses Penyusunan (Bagian Ketiga)
Pada artikel sebelumnya, penulis menyebut beberapa istilah “baru†yang diperoleh Gus Awis saat menelaah karya Ibn Abi al-Ishba‘ (w. 654 H) dan Ibn al-Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H), seperti al-fara’id, al-iqtidar, al-ta‘aththuf, al-muhtamil al-dhiddayn, al-muzalzil dan al-tajzi’. Disebut “baru†karena sejauh telaah yang beliau lakukan, istilah-istilah ini tidak ditemukan dalam referensi-referensi balaghah yang umumnya digunakan oleh para pelajar sastra Arab. Sebut saja Matn al-Jawhar al-Maknun karya ‘Abd al-Rahman al-Akhdhari (w. 983 H), Miftah al-‘Ulum karya Yusuf al-Sukkaki (w. 626 H), Dala’il al-I‘jaz karya al-Jurjani (w. 471 H), ‘Uqul al-Juman fi al-Ma‘ani wa al-Bayan karya al-Suyuthi (w. 911 H), dan lain-lain.
Lantas apa yang dimaksud dengan keenam istilah “baru†itu? Bagaimana pola penyajiannya dalam teks-teks Al-Qur’an? Mari kita mulai dengan tiga istilah yang disebut pertama, yang terdeskripsikan dengan baik dalam Badi‘ al-Qur’an dan al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibn Abi al-Isba‘.
Pertama, al-fara’id. Istilah ini merujuk pada penggunaan sebuah kata—dalam sebuah kalimat—yang bagaikan liontin dalam sebuah kalung. Keberadaannya memperindah seluruh rangkaian kata dalam sebuah kalimat dan tidak bisa digantikan oleh kata lain. Di antara teks Al-Qur’an yang mengandung seni ini ialah term hashhasha yang terdapat dalam surah Yusuf [12]: 51.
قَالَ مَا خَطْبÙÙƒÙنَّ Ø¥ÙØ°Ù’ رَاوَدتّÙنَّ ÙŠÙوسÙÙÙŽ عَن نَّÙْسÙÙ‡Ù Ù‚Ùلْنَ ØÙŽØ§Ø´ÙŽ Ù„Ùلَّه٠مَا عَلÙمْنَا عَلَيْه٠مÙÙ† سÙوۤء٠قَالَت٠ٱمْرَأَت٠ٱلْعَزÙيز٠ٱلآنَ ØÙŽØµÙ’ØÙŽØµÙŽ Ù±Ù„Ù’ØÙŽÙ‚ّ٠أَنَاْ رَاوَدْتّÙه٠عَن نَّÙْسÙÙ‡Ù ÙˆÙŽØ¥Ùنَّه٠لَمÙÙ†ÙŽ ٱلصَّادÙÙ‚Ùينَ
(Raja) berkata (kepada wanita-wanita yang dahulu melukai tangan mereka): “Bagaimana persoalan kamu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya?†Mereka (wanita-wanita) berkata: “Mahasuci Allah, kami tidak mengetahui sedikit keburukan padanya.†Istri al-Aziz berkata: “Sekarang jelaslah kebenaran itu. Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya, dan sesungguhnya dia benar-benar termasuk orang-orang yang benar.â€
Ayat di atas menggunakan term hashhasha untuk menyatakan makna “jelasâ€, bukan zhahara, meskipun secara umum keduanya memiliki makna yang sama. Hal ini dikarenakan dalam term hashhasha terkandung tiga makna yang tidak dikandung oleh term zhahara. Yakni nampaknya sesuatu setelah sebelumnya tidak tampak (al-zhuhur ba‘da al-kitman), kejelasan penampakannya (quwwat al-zhuhur) dan berulang-ulang (al-takrir). Cakupan makna ini selaras dengan kisah Nabi Yusuf yang menjadi konteks ayat di atas.
Kedua, al-iqtidar. Istilah ini merujuk pada kemampuan seorang pembicara untuk menyampaikan sebuah cerita dalam berbagai versi tapi tidak berlawanan atau kontradiktif. Mayoritas—kalau enggan berkata semua—kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang diceritakan berulang-ulang dalam berbagai tempat, termasuk contoh kategori ini.
Ketiga, al-ta‘aththuf. Yang dimaksud dengan istilah ini adalah penggunaan kata yang sama dalam dua kalimat yang berbeda. Sebagai contoh penggalan surah al-Taubah [9]: 100 yang berbunyi radhiya Allah ‘anhum wa radhu ‘anhu.
Berikutnya, tiga istilah “baru†yang diperoleh dari Kitab al-Fawa’id al-Musyawwiq ila ‘Ulum al-Qur’an karya Ibn al-Qayyim.
Pertama, muhtamil al-dhiddayn. Yakni sebuah kata yang mengandung makna tertentu dan antonimnya. Sebagai contoh, kata wara’ahum yang terdapat dalam surah al-Kahfi [18]: 79. Kata tersebut bisa bermakna di depan dan bisa juga bermakna di belakang. Artinya, posisi sang raja yang kerap merampas perahu itu boleh jadi di depan—sedang menunggu kedatangan mereka—dan boleh jadi di belakang—sedang memburu mereka.
Kedua, al-muzalzil. Istilah ini merujuk pada penggunaan sebuah kata yang apabila letak atau i‘rab-nya diubah, maka maknanya menjadi rusak. Sebagai contoh, permulaan surah al-Baqarah [2]: 123 yang berbunyi wa idz ibtala Ibrahima rabbuhu. Bila term Ibrahim dibaca dhammah dan Rabb dibaca fathah misalnya, maka maknanya menjadi rusak alias gonjang-ganjing (muzalzil). Karena pembacaan seperti itu berarti, “Dan ingatlah ketika Ibrahim menguji Tuhannya.â€
Ketiga, al-tajzi’. Yakni pembicara membagi perkataannya dalam tiga atau empat bagian. Sebagai contoh, surah Maryam [19]: 42-45. Dalam serangkaian ayat tersebut, Nabi Ibrahim mengatakan empat kalimat kepada ayahnya dan selalu diawali dengan ungkapan ya abati (duhai ayahku).
Proses Penyusunan
Setelah materi-materi yang diperlukan berhasil dikumpulkan, barulah Gus Awis memulai penyusunan al-Syamil. Pada konteks ini, metode penulisan yang beliau gunakan adalah metode tahlili (analitis). Yakni menelaah dan mengupas aspek-aspek yang terkandung dalam ayat demi ayat sesuatu urutan yang terdapat dalam Mushaf ‘Ustmani.
Sebagaimana umumnya mufasir yang membagi pembahasan sebuah surah ke dalam beberapa kelompok ayat, Gus pun juga melakukan hal serupa. Beliau berikthiar mengelompokkan ayat Al-Qur’an sesuai dengan tema dan hubungan antar aspek balaghah yang dikandungnya. Sehingga jumlah ayat dalam masing-masing kelompok pun berbeda, ada yang 1 ayat, 2 ayat, 3 ayat, 4 ayat, 5, ayat, 7 ayat dan seterusnya. Bahkan ada pula surah yang dibahas secara utuh tanpa dikelompokkan terlebih dahulu. Yang disebut terakhir ini, bila surah yang bersangkutan termasuk surah-surah pendek.
Menurut Gus, pengelompokkan ayat yang beliau lakukan itu bertujuan dua hal. Pertama, untuk memberikan jeda kepada pembaca agar tidak terlalu panjang saat membaca rangkaian kajian balaghah Al-Qur’an. Kedua, agar jika karyanya kelak digunakan sebagai bahan pengajian rutin di pesantren-pesantren, letak berhentinya mudah ditandai.
Kemudian dari kelompok ayat tersebut, Gus memilih penggalan-penggalan ayat yang aspek balaghah sekaligus alasannya bisa dijelaskan. Untuk lebih memudahkan, penjelasan-penjelasan atau ulasan-ulasan Gus ini dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori. Pertama, penjelasan terkait aspek balaghah yang terkandung dalam satu kata. Pada surah al-Mulk [67]: 18 misalnya, beliau menuliskan bahwa di dalam kata nakir yang menjadi penutup (fashilah) ayat tersebut terdapat ijaz bi hadzf ya’ al-mutakallim takhfifan (peringkasan dengan menghapus huruf ya’ yang menunjuk pada persona pertama dalam rangka “meringankanâ€). Juga seperti barzakha yang terdapat dalam surah al-Furqan [25]: 53, menurut beliau, di dalam kata itu terkandung fann al-fara’id karena daya fashahah-nya begitu kuat dan tak dapat digantikan oleh kata lain yang serupa.
Selanjutnya, bila dalam satu kata Al-Qur’an terdapat dua atau lebih aspek balaghah yang berbeda, maka Gus menjelaskannya secara berurutan. Sebagai contoh, fashilah surah al-Hijr [15]: 60, yakni al-ghabirin. Beliau menjelaskan bahwa di dalam kata itu terkandung makna taghlib al-dzukur ‘ala al-inats (“memenangkan†lelaki atas perempuan, yakni menunjuk dua entitas, laki-laki dan perempuan, dengan kata bersubjek laki-laki). Setelah itu, beliau menjelaskan bahwa di dalam kata tersebut juga terkandung aspek muhtamil al-dhiddayn, karena di samping bermakna al-halik (orang yang binasa), al-ghabir juga bermakna al-baqi ‘ala al-‘adzab (orang yang selalu dalam siksaan).
Kedua, penjelasan terkait aspek balaghah yang terkandung dalam sebuah frasa dalam suatu ayat. Contoh untuk kategori ini sangat banyak, dapat dengan mudah ditemukan dalam al-Syamil. Sebagai gambaran, seperti frasa fadzuqu al-‘adzab yang terdapat dalam surah Ali ‘Imran [3]: 106. Menurut Gus, frasa itu mengandung isti‘arah makniyah taba‘iyah, karena di sana azab diserupakan dengan makanan yang pahit, lalu al-musyabbah bih-nya dihilangkan sehingga yang tersisa hanya lawazim-nya saja, yakni al-dzauq (rasa).
Lebih lanjut, sebagaimana kategori pertama, bila dalam suatu frasa terdapat dua atau lebih aspek balaghah sekaligus, maka beliau menjelaskannya secara berurutan. Seperti frasa wa ma ya‘iduhum al-syaithan illa ghurura yang terdapat dalam surah al-Isra’ [17]: 64. Beliau menjelaskan bahwa dalam frasa itu terkandung makna iltifat min al-khithab ila al-ghaybah li taqwiyat ma‘na al-i‘tiradh (pengalihan kata ganti persona kedua menjadi kata ganti persona ketiga, dalam rangka menguatkan makna “keberatan/protes†yang dikandung oleh ayat). Kemudian beliau menjelaskan bahwa di dalam frasa tersebut juga terkandung majaz ‘aqli bi nisbat al-ghurur ila al-wa‘d ‘ala hadd qaul al-‘arab naharuhu sha’im wa layluhu qa’im (majaz ‘aqli, karena menisbatkan angan-angan pada “janjiâ€, berdasarkan ungkapan orang-orang Arab, “Siangnya berpuasa dan malam berdiri tegakâ€).
Ketiga, penjelasan terkait aspek balaghah yang terkandung dalam satu ayat. Bahwa terkadang aspek balaghah Al-Qur’an itu terkandung dalam satu ayat penuh. Seperti surah al-Rahman [55]: 58 yang berbunyi ka’annahunna al-yaqut wa al-marjan. Menurut Gus, ayat tersebut mengandung tasybih mursal mujmal karena kecantikan/keindahan dan glowing-nya wanita-wanita penduduk surga diserupakan dengan yaqut dan marjan.
Keempat, penjelasan terkait aspek balaghah yang terkandung dalam beberapa ayat. Dengan kata lain, keindahan tersebut terikat dalam serangkaian ayat secara kolektif, bukan sebuah ayat secara parsial. Surah Maryam [19]: 42-45 yang telah disinggung di atas adalah contohnya. Contoh lain dapat ditemukan dalam surah Thaha [20]: 88-90. Fashilah ketiga ayat itu, yang masing-masing berbunyi walada, idda, dan hadda, dalam balaghah masuk kategori sajak muthraf, karena menyuarakan bunyi akhir (rima) yang sama, meski secara bahasa berasal dari akar kata dan atau “timbangan†yang berbeda.
Pada konteks ini pula, Gus menerangkan bahwa setelah prose penyusunan selesai—kurang lebih memakan waktu 16 bulan—beliau memberi judul kitabnya dengan al-Nafa’is al-Bayaniyah fi al-Balaghah al-Qur’aniyah. Usulan pihak penerbitlah yang membuat kitab itu beralih nama menjadi al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an. Selain itu, beliau juga mengakui bahwa al-Syamil belum menampilkan aspek-aspek balaghah yang terkandung dalam seluruh ayat Al-Qur’an, baik karena aspek balaghah-nya sudah sering terulang maupun memang belum beliau ketahui. Hal ini tidak mengherankan, mengingat disiplin ilmu balaghah adalah bahr la sahila lahu, qalla an yashila al-kadihu akhirahu ([bagai] lautan tak bertepi, orang yang bersungguh-sungguh sekalipun jarang yang sampai ujungnya). Di samping itu, beliau menambahkan bahwa rentannya disiplin ilmu balaghah terhadap subjektivitas penulis, boleh jadi membuat sebagian pembaca al-Syamil tidak mengamini beberapa ulasan balaghah yang ada di sana. Wallahu A’lam.
Catatan
(1) Enam istilah “baru†yang dipaparkan di atas ialah sekadar contoh. Masih ada banyak istilah lain yang Gus temukan dalam karya Ibn Abi al-Ishba‘, Ibn al-Qayyim dan ‘Izz al-Din b. ‘Abd al-Salam.
(2) Referensi yang penulis gunakan untuk mengulas artikel ini sama seperti dua artikel sebelumnya. Hanya saja pada bagian Proses Penyusunan, penulis sebisa mungkin langsung merujuk pada al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an, khususnya yang terkait sistematika penulisan.
Sumber Rujukan
Ibn Abi al-Ishba‘, Badi‘ al-Qur’an (T.tp.: Nahdhat Mishr, t.t.), 97, 287, 289.
______, Tahrir al-Tahbir fi Shina‘at al-Syi‘r wa al-Natsr wa al-Bayan fi I‘jaz al-Qur’an (Uni Emirat Arab: Lajnat Ihya’ al-Turats al-Islami, t.t.), 257-259, 576-577.
Muhammad b. Abi Bakr b. Ayyub al-Zar‘i al-Ma‘ruf bi Ibn al-Qayyim, al-Fawa’id al-Musyawwiq ila ‘Ulum al-Qur’an wa al-‘Ilm al-Bayan (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.), 160, 165-166, 231.
M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya (Tangerang: Lentera Hati, 2013), 241.
Muhammad Afifudin Dimyathi, ‘Ilm al-Tafsir Ushuluh wa Manahijuh (Sidoarjo: Lisan Arabi, 2016), 186.
______, al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an, Vol. 1 (Kairo: Dar al-Nibras, 2021), 183.
______, al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an, Vol. 2 (Kairo: Dar al-Nibras, 2021), 145, 202, 248, 256, 288.
______, al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an, Vol. 1 (Kairo: Dar al-Nibras, 2021), 1, 303.
You may also like
Tafsir Cum Maghza atas Bunyi yang Dituduh Bising
Dakwah kok Guyon?: Kata Mereka yang Salah Tafsir
Tafsir Khilafah dan Hilangnya Etika Ekologis

