Potret al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an: Peran Balaghah dalam Penafsiran Al-Qur’an (Bagian Kedelapan)
Salah satu kajian penting dalam disiplin Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir ialah muhkam dan mutasyabih. Titik tolak kajian ini diyakini oleh sejumlah ulama berasal dari penegasan Al-Qur’an sendiri dalam surah Ali ‘Imran [3]: 7 berikut:
Dialah (Allah) yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan keraguan) dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada yang mengetahui takwilnya, kecuali Allah. Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.†Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali Ulul Albab.â€
Apa yang dimaksud dengan muhkam dan mutasyabih pada ayat di atas? Di sini kita mendapati para ulama berbeda pendapat. Meski demikian dengan merujuk pendapat mainstream, secara umum kita dapat mengatakan bahwa muhkam ialah ayat Al-Qur’an yang maknanya jelas, terang, dan tidak menimbulkan kemusykilan; sementara mutasyabih sebaliknya. Wilayah kajian mutasyabih ini diskemakan oleh para ulama dalam beberapa bagian, salah satunya ayat-ayat tauhid yang bernuansa antropomorfik. Memahami ayat-ayat jenis ini sering kali menemui kesulitan, karena Tuhan diilustrasikan dengan aneka gambaran yang menyerupai manusia, padahal “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya (laysa kamitslihi syai’).†Nah, pada titik inilah peran disiplin Ilmu Balaghah amat diperlukan.
Disiplin Ilmu Balaghah memiliki sekian perangkat keilmuan yang dapat diberdayakan guna memahami ayat-ayat tauhid bernuansa antropomorfik itu. Sebagai contoh, melansir penjelasan Gus Awis, konsep tawriyah, isti‘arah, kinayah dan musyakalah. Dengan memanfaatkan dan memberdayakan keempat konsep ini, kesan negatif, kesalahan, atau kesalahpahaman saat berinteraksi dengan ayat-ayat tersebut dapat dihindarkan—atau paling tidak diminimalisir—semaksimal mungkin.
Untuk lebih jelasnya, mari membaca surah Thaha [20]: 5 berikut yang sering kali dijadikan sebagai contoh representatif ayat-ayat mutasyabihat:
اَلرَّØÙ’مٰن٠عَلَى الْعَرْش٠اسْتَوٰى
Yang Maha Pengasih istawa di atas ‘Arsy.
Apa maksud istawa pada ayat di atas? Pertanyaan ini menimbulkan perdebatan yang cukup “panjang†dan “serius†di kalangan ulama. “Panjangâ€, karena terjadi di sepanjang sejarah peradaban Islam pasca era kodifikasi (2 H) hingga—tak berlebihan kiranya bila penulis mengatakan sampai—sekarang. “Seriusâ€, karena pemahaman yang salah terhadap ayat di atas dapat menjerumuskan seseorang ke dalam jurang mujassimah; menyerupakan Tuhan dengan makhluk. Tentu bukan tempatnya di sini menguraikan perdebatan itu. Yang jelas, konsep tawriyah yang terdapat dalam Ilmu Balaghah dapat difungsikan guna menjawab pertanyaan tersebut.
Tawriyah sendiri merupakan bagian dari uslub badi‘, yakni gaya bahasa yang digunakan atas dasar “pertentangan†dan “pertautanâ€. Secara bahasa, tawriyah berarti “menyembunyikanâ€. Sedangkan secara istilah dapat diilustrasikan dengan seorang penutur (mutakallim) yang sengaja “menyembunyikan†makna yang ia kehendaki di balik sebuah kata yang mempunyai dua makna: (1) makna dekat, dan (2) makna jauh. Disebut sebagai makna dekat karena makna itulah yang cepat ditangkap atau terbesit pertama kali di benak pendengar/audien. Sementara makna jauh sebaliknya karena konteksnya kurang jelas, tetapi justru makna inilah yang dikehendaki atau dimaksud oleh penutur.
Nah dalam perspektif tawriyah, kata istawa yang termaktub dalam ayat di atas memiliki dualitas makna itu. Makna dekatnya ialah al-istiqrar fi al-makan (menetap di tempat), dan makna jauhnya adalah al-istila’ wa al-mulk (menguasai). Meski makna dekat ini yang terbesit di benak pendengar/pembaca, tetapi dalam perspektif tawriyah justru makna jauh itulah yang dimaksud oleh ayat di atas. Dengan demikian, ayat di atas kurang lebih bermakna, “Yang Maha Pengasih menguasai ‘Arsy.†Pemaknaan ini dianggap oleh sementara pakar sebagai pemaknaan yang “lebih selamat†dan “tidak beresikoâ€, berbeda bila pemaknaannya merujuk pada makna dekat yang rentan menimbulkan paham tauhid-antropomorfik.
Selanjutnya, contoh lain ayat tauhid yang bernuansa antropomorfik dapat ditemukan dalam surah al-Mu’minun [23]: 27 berikut:
ÙَاَوْØÙŽÙŠÙ’نَآ اÙلَيْه٠اَن٠اصْنَع٠الْÙÙلْكَ Ø¨ÙØ§ÙŽØ¹Ù’ÙŠÙÙ†Ùنَا ÙˆÙŽÙˆÙŽØÙ’ÙŠÙنَا ÙÙŽØ§ÙØ°ÙŽØ§ جَاۤءَ اَمْرÙنَا ÙˆÙŽÙَارَ التَّنّÙوْرÙÛ™ ÙَاسْلÙكْ ÙÙيْهَا Ù…Ùنْ ÙƒÙلّ٠زَوْجَيْن٠اثْنَيْن٠وَاَهْلَكَ اÙلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْه٠الْقَوْل٠مÙنْهÙمْۚ وَلَا ØªÙØ®ÙŽØ§Ø·ÙبْنÙيْ ÙÙÙ‰ الَّذÙيْنَ ظَلَمÙوْاۚ اÙنَّهÙمْ Ù…Ù‘ÙØºÙ’رَقÙوْنَ
Kami wahyukan kepadanya (Nabi Nuh AS), “Buatlah kapal dengan a‘yunina dan wahyu/petunjuk Kami. Apabila Kami telah datang dan tungku (dapur) telah memancarkan air, masukkanlah ke dalam (kapal) itu sepasang-pasang dari setiap jenis (binatang), juga keluargamu, kecuali orang yang lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa siksaan) di antara mereka. Janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnnya mereka itu akan ditenggelamkan.
Sebagaimana terlihat, ayat di atas mengabadikan perintah Allah SWT kepada Nuh AS. Salah seorang nabi bergelar Ulul ‘Azmi itu diperintah untuk membuat kapal dengan a’yunina. Apa maksud redaksi a’yunina ini? Secara tekstual, ia berarti “mata-mata Kamiâ€. Senada dengan contoh sebelumnya, bila ayat di atas kita pahami sesuai makna literal ini, tentu kita berpotensi terjerumus pada tajsim karena ada unsur “penyerupaan†di sana. Di sinilah Ilmu Balaghah memainkan peran pentingnya. Melalui konsep isti‘arah yang ditawarkannya, kita akan dapat memahami ayat di atas dengan baik. Konsep ini mengandaikan seorang penutur yang menggunakan kata-kata bukan dalam pengertian sebenarnya, melainkan dalam arti kiasan. Dalam “kasus†redaksi bi a’yunina yang sedang kita bahas, ia tidak dipahami dalam arti yang sebenarnya: “mata-mata Kamiâ€. Ia adalah sebuah kiasan atas penjagaan dan perhatian yang “serius/ekstraâ€, karena pada umumnya seorang penjaga akan senantiasa mengawasi barang/sesuatu yang ia jaga dengan “penglihatannya atau matanyaâ€â€”jangan sampai dicuri, misalnya. Demikian lebih kurang penjelasan Gus dalam al-Syamil-nya.
Kemudian yang dimaksud dengan musyakalah yang penulis singgung di atas adalah mengungkapkan suatu makna dengan menggunakan kata lain untuk mengimbangi atau menyerupai bentuk kata sebelumnya. Salah satu contoh ayat mustayabih yang bisa kita pahami dengan menggunakan konsep ini ialah surah al-Baqarah [2]: 15 berikut:
Ø§ÙŽÙ„Ù„Ù‘Ù°Ù‡Ù ÙŠÙŽØ³Ù’ØªÙŽÙ‡Ù’Ø²ÙØ¦Ù بÙÙ‡Ùمْ ÙˆÙŽÙŠÙŽÙ…ÙØ¯Ù‘ÙÙ‡Ùمْ ÙÙيْ Ø·ÙØºÙ’يَانÙÙ‡Ùمْ يَعْمَهÙوْنَ
Allah akan memperolok-olok dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.
Perlu dicatat, sebelum ayat di atas, Allah SWT mengabadikan perkataan orang-orang munafik saat menemui orang-orang mukmin dan sikap mereka setelahnya, “Dan apabila mereka berjumpa (dengan) orang-orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Dan apabila mereka pergi menyendiri dengan setan-setan mereka, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami bersama kamu, sesungguhnya kami hanyalah pengolok-olok.’†Nah, melalui ayat di atas Allah SWT menjawab perkataan mereka itu dengan jawaban yang “mengimbangi†atau “menyerupai†kata-kata mereka, “Allah memperolok-olok mereka (Allah yastahzi’u bihim).â€
Terakhir kinayah (metonimi), yaitu semacam kiasan, seperti majaz dan isti‘arah. Bedanya adalah ungkapan kinayah dapat diartikan secara hakiki, walaupun yang dimaksudkan adalah makna kiasannya. Sebagai contoh kata maghlulah yang terdapat dalam surah al-Ma’idah [5]: 64 berikut ini:
وَقَالَت٠الْيَهÙوْد٠يَد٠اللّٰه٠مَغْلÙوْلَةٌ ۗغÙلَّتْ اَيْدÙيْهÙمْ ÙˆÙŽÙ„ÙØ¹ÙÙ†Ùوْا بÙمَا قَالÙوْا Û˜
Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah maghlulah.†Sebenarnya merekalah yang dibelenggu. Mereka dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan.
Maksud kata maghlulah pada ayat di atas bukanlah dalam arti hakiki, yakni “terbelengguâ€, melainkan kiasan, yakni “bakhilâ€. Dengan demikian, bila ayat tersebut diterjemahkan, maka kurang lebih berbunyi, “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah itu bakhil.’â€
Demikian terlihat peran balaghah dalam menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat perspektif Gus Awis yang tidak jarang disalahpahami oleh sementara orang atau bahkan menimbulkan pertikaian.
Daftar Rujukan
M. Afifudin Dimyathi, Mawarid al-Bayan fi ‘Ulum al-Qur’an (Sidoarjo: Lisan Arabi, 2016), 62-63.
______, al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an, Vol.1 (Kairo: Dar al-Nibras, 2021), 4, 304.
______, al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an, Vol. 2 (Kairo: Dar al-Nibras, 2021), 158, 336.
Nur al-Din ‘Itr, ‘Ulum al-Qur’an al-Karim (Damaskus: Mathba‘ah al-Shabah, 1993), 122.
D. Hidayat, al-Balaghah li al-Jami‘ wa al-Syawahid min Kalam al-Badi‘: Balaghah Untuk Semua (Semarang: Karya Toha Putra, Jakarta: Yayasan Bina Masyarakat Qur’ani, t.t.), 119, 148, 156.
M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya (Tangerang: Lentera Hati, 2013), 3.
You may also like
Tafsir Cum Maghza atas Bunyi yang Dituduh Bising
Dakwah kok Guyon?: Kata Mereka yang Salah Tafsir
Tafsir Khilafah dan Hilangnya Etika Ekologis

