Membaca Makan Bergizi Gratis ‘MBG’ melalui Bread and Circuses
Risma Azzah Fatin
Penulis SEO JawaPos.com
Pengertian dan Asal-Usul Bread and Circuses
Bread and Circuses atau dalam bahasa Latin dikenal sebagai Panem et Circenses merupakan ungkapan yang diperkenalkan oleh penyair satiris Romawi, Juvenal, dalam karyanya Satire X. Ungkapan tersebut secara harfiah berarti roti dan sirkus. Dikutip dari Wikipedia, Dalam konteks sejarah Romawi Kuno, roti merujuk pada pemberian makanan atau distribusi gandum kepada masyarakat, sedangkan sirkus menggambarkan hiburan massal, seperti perlombaan kereta kuda dan pertarungan gladiator yang diselenggarakan untuk menarik perhatian rakyat.
Lebih dari sekadar pemberian makanan dan hiburan, Bread and Circuses mengandung kritik terhadap perilaku masyarakat yang mulai kehilangan kepedulian terhadap persoalan politik dan kehidupan bernegara. Masyarakat cenderung merasa cukup ketika kebutuhan dasarnya terpenuhi dan mendapatkan hiburan, tanpa lagi memberikan perhatian terhadap bagaimana kekuasaan dijalankan. Dalam perkembangannya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan strategi penguasa dalam mempertahankan penerimaan masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan material dan hiburan, sementara perhatian terhadap persoalan yang lebih mendasar berpotensi terpinggirkan.
Dengan demikian, Bread and Circuses tidak semata-mata berbicara tentang pemberian makanan dan hiburan, tetapi juga menyangkut hubungan antara kekuasaan, kesejahteraan, dan kesadaran kritis masyarakat. Konsep ini menjadi relevan untuk membaca fenomena politik ketika kebijakan yang memberikan manfaat langsung kepada rakyat berpotensi menjadi instrumen pembentukan citra dan legitimasi penguasa.
Keterkaitan Bread and Circuses dengan Program MBG di Indonesia
Dalam konteks Indonesia, konsep Bread and Circuses menarik untuk dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini merupakan kebijakan pemerintah yang bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, sekaligus mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia. Secara substansial, pemberian makanan bergizi merupakan bentuk perhatian negara terhadap kebutuhan masyarakat. Namun, apabila ditinjau melalui perspektif Bread and Circuses, kebijakan tersebut juga dapat dibaca dari sisi komunikasi politik dan bagaimana kekuasaan membangun penerimaan publik.
Unsur Bread dalam program MBG terlihat melalui distribusi makanan gratis yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Program ini memiliki daya tarik karena menyentuh kebutuhan sehari-hari, terutama bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi. Ketika masyarakat menerima manfaat tersebut, muncul kemungkinan terbentuknya persepsi positif terhadap pemerintah. Pada titik inilah kebijakan kesejahteraan tidak hanya memiliki dimensi sosial, tetapi juga berpotensi memiliki nilai politis dalam membangun legitimasi kekuasaan.
Sementara itu, unsur Circuses dapat dianalisis melalui bagaimana program tersebut dikomunikasikan, dipublikasikan, dan ditampilkan sebagai representasi keberhasilan pemerintah. Publikasi kegiatan, narasi keberhasilan, serta berbagai pemberitaan mengenai pelaksanaan MBG dapat membentuk perhatian masyarakat terhadap program tersebut. Apabila popularitas kebijakan lebih mendominasi ruang publik dibandingkan pembahasan mengenai transparansi anggaran, kualitas pelaksanaan, ketepatan sasaran, dan persoalan pendidikan maupun kesejahteraan lainnya, muncul pertanyaan mengenai bagaimana perhatian publik dikelola.
MBG dan Tumpulnya Kesadaran Kritis Masyarakat
Persoalan yang lebih mendasar bukan terletak pada pemberian makanan gratis kepada masyarakat, melainkan pada kemungkinan ketika kebijakan tersebut membuat masyarakat merasa bahwa pemenuhan kebutuhan jangka pendek sudah cukup untuk mengukur keberhasilan pemerintah. Dalam situasi demikian, masyarakat berisiko menjadi kurang kritis terhadap persoalan yang lebih luas, seperti ketimpangan ekonomi, kualitas pendidikan, lapangan pekerjaan, transparansi anggaran, dan tanggung jawab negara terhadap pelayanan publik.
Dalam konteks tersebut, fenomena seperti ini dapat disebut sebagai bentuk pembodohan publik secara tidak langsung. Istilah ini bukan berarti masyarakat yang menerima MBG merupakan kelompok yang bodoh. Sebaliknya, kritik tersebut diarahkan pada kemungkinan terbentuknya pola komunikasi dan politik yang mendorong masyarakat untuk merasa puas dengan manfaat langsung, tanpa memperoleh ruang informasi dan kesadaran yang memadai untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah.
Ada beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian, seperti yang telah tertulis pada Jurnal, Weapons of Mass Distraction: Magicianship, Misdirection, and the Dark Side of Legitimation.
- Kesejahteraan tidak boleh menjadi alat pembungkam kritik. Pemberian bantuan dan pemenuhan kebutuhan dasar merupakan tanggung jawab negara, bukan alasan bagi masyarakat untuk berhenti mengawasi pemerintah.
- Popularitas tidak sama dengan keberhasilan kebijakan. Banyaknya penerima manfaat tidak otomatis membuktikan bahwa program telah berjalan efektif, transparan, dan tepat sasaran.
- Perhatian publik harus tetap kritis. Masyarakat perlu melihat persoalan yang lebih luas, termasuk anggaran, kualitas pendidikan, kesehatan, dan ketimpangan sosial.
- Rakyat bukan sekadar penerima kebijakan. Masyarakat memiliki hak untuk mengetahui, mengkritik, dan mengevaluasi setiap program yang menggunakan anggaran negara.
Pada akhirnya, Bread and Circuses memberikan sudut pandang kritis untuk memahami hubungan antara kebijakan kesejahteraan dan kesadaran politik masyarakat. Program MBG dapat menjadi bentuk pemenuhan kebutuhan gizi yang bermanfaat, tetapi pelaksanaannya tetap harus berada dalam pengawasan publik. Jangan sampai pemberian makanan gratis membuat masyarakat merasa telah memperoleh kesejahteraan secara utuh, sementara persoalan mendasar lainnya justru luput dari perhatian.
Rakyat membutuhkan lebih dari sekadar makanan gratis. Mereka juga membutuhkan pendidikan berkualitas, lapangan pekerjaan, pelayanan kesehatan, keadilan sosial, serta pemerintahan yang transparan dan bertanggung jawab. Sebab, kesejahteraan sejati bukan hanya tentang bagaimana negara mengisi perut rakyatnya, melainkan juga bagaimana negara menjamin hak-haknya dan membangun masyarakat yang memiliki kesadaran kritis.
Jangan sampai rakyat kenyang secara fisik, tetapi justru dibuat lapar akan pengetahuan dan kesadaran politik. Sebab, masyarakat yang sejahtera semestinya bukan masyarakat yang hanya menikmati pemberian penguasa, melainkan masyarakat yang tetap berani mempertanyakan, mengawasi, dan mengkritisi jalannya kekuasaan.
Sumber rujukan
Wikipedia
Jurnal: Weapons of Mass Distraction: Magicianship, Misdirection, and the Dark Side of Legitimation
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/j.1573-7861.2007.00011.x
Siaran Pers: Ombudsman
You may also like

Program Sertifikasi Pesantren: Holistik atau Spesial

Ketika Kesalehan Bernegosiasi Dengan Fashion Gen Z


