(Sumber : Nusantara News )

Dakwah Multikultural Ala Gus Muwafiq Dan Gus Miftah

Horizon

Oleh : Noor Hamid

  

Kompleksitas persoalan sosial, keagamaan, dan kebangsaan menarik perhatian para dai kontemporer. Bermunculan dai-dai baru yang menawarkan varian model dakwah yang khas. Di antara nama-nama mereka adalah Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) dan Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah).

  

Gus Muwafiq, kelahiran Lamongan 1974, dan Gus Miftah, kelahiran Lampung 1981, keduanya sama-sama berkarier di Yogyakarta. Gus Muwafiq mendirikan Pondok Pesantren Minggir, yang berlokasi di Jl. R. Ngabei Djiwoto, Sidomulyo, Sendangrejo, Kec. Minggir, Kabupaten Sleman. Begitu juga Gus Miftah, yang mendirikan Pondok Pesantren Ora Aji, di Jl. Werkudara, Tundan, Purwomartani, Kec. Kalasan, Kabupaten Sleman.

  

Model dakwah Gus Muwafiq menekankan narasi historis tentang awal Islamisasi di Nusantara, serta kontekstualisasi dakwah Walisongo dengan persoalan umat kontemporer. Banyak pula narasi Gus Muwafiq yang mengidolakan pola keberagamaan Muslim Nusantara zaman klasik, yang harmonis, akulturatif, dan toleran terhadap keragaman.

  

Dalam penilaian Gus Muwafiq, pola keberagamaan Muslim Indonesia kontemporer mengalami pergeseran. Banyak pandangan keagamaan Muslim kontemporer yang anti kebudayaan Islam Nusantara, bahkan mengidolakan puritanisme Islam dan Arabisasi Nusantara. Beberapa ormas puritan yang sering mendapat sorotan Gus Muwafiq antara lain: HTI, PFI, Wahhabi.

  

Walaupun sama-sama mempopulerkan wajah Islam yang ramah, Gus Miftah mengambil kelas sosial mad’u (sasaran dakwah) yang berbeda dan unik. Gus Miftah naik daun setelah viral beberapa video dakwahnya di kalangan para pekerja seks komersial (PSK), yang berlokasi di Pasar Kembang (Sarkem), Kota Yogyakarta.

  

Gus Miftah sendiri tidak pro terhadap pekerjaan seks komersial, namun disampaikan dengan narasi-narasi yang sopan, santun, dan dapat diterima oleh para PSK. Dalam setiap kesempatan pengajian rutin diselenggarakan, Gus Miftah sering membuka sesi tanya-jawab. Beberapa peserta bertanya sembari mencurahkan perasaan hati (curhat) mereka tentang hukum pekerjaan, tujuan pekerjaan mereka, dan lainnya.

  

Gus Miftah dengan tegas menjawab bahwa pekerjaan seks komersial adalah sesuatu yang diharamkan agama, dan penghasilan dari pekerjaan ini juga haram. Hanya saja, Gus Miftah tidak menyuruh para PSK ini untuk berhenti, melainkan memohon hidayah pada Allah SWT agar Allah memberikan mereka kemampuan untuk keluar dari pekerjaan tersebut.


Baca Juga : Beberapa Faedah Terkait Asbab al-Nuzul (Bagian Ketiga)

  

*Muwafiq-Miftah: Kolaborasi Teori dan Praktik*

  

Model dakwah Gus Muwafiq dan Gus Miftah tampak saling melengkapi satu sama lain. Dalam ceramahnya, Gus Muwafiq sering membahas bagaimana para walisongo mengislamkan orang-orang Jawa, tanpa paksaan, bahkan melalui musik dan kesenian. Orang-orang yang belum Islam cukup diminta untuk membaca syahadat, dan sebagai kompensasinya mereka diperbolehkan menonton pertunjukan wayang.

  

Para Walisongo, seperti Sunan Ampel dan Sunan Bonang, misalnya, mereka mengajarkan Islam dengan cara mengajarkan ilmu pertanian dan perdagangan. Para Walisongo juga melakukan pribumisasi Islam, sehingga Islam menjadi ruh dari setiap produk kebudayaan Nusantara, tanpa perlu mengubah tampilan luar kebudayaan.

  

Jika Gus Muwafiq lebih banyak menarasikan ulang dakwah multikultural Walisongo, maka Gus Miftah lebih condong pada aksi dan implementasinya. Gus Miftah memulai kariernya sebagai seorang dai di tengah para PSK. Mengajarkan Islam dengan cara yang santun, tanpa harus menghakimi benar-salah perbuatan orang lain, khususnya para PSK.

  

Uniknya, dalam beberapa kesempatan, Gus Miftah akan membagi-bagikan uang bagi para peserta pengajian yang berani mengajukan pertanyaan seputar keislaman dan keberagamaan. Hal ini menjadi daya tarik sendiri bagi para PSK untuk belajar Islam. Tanpa perlu menerima Bisyaroh (fee), sebagai seorang dai, Gus Miftah malah mengeluarkan modal finansial untuk membahagiakan hati para jamaahnya.

  

Model dakwah Gus Miftah—berdasarkan ilustrasi tentang model dakwah Walisongo menurut perspektif Gus Muwafiq—serupa dengan model dakwah Sunan Ampel Raden Rahmat, Surabaya. Para mad’u (sasaran dakwah) Sunan Ampel adalah para pelaku perzinahan, perjudian, dan pencuri-perampok. Sunan Ampel mengajarkan ajaran yang disebut “Moh Limo” (Enggan 5 Perkara): berjudi, mabuk, menggunakan ganja, berzina, dan mencuri.

  

Sebagaimana Sunan Ampel yang menyampaikan Islam dengan cara yang santun dan ramah, Gus Miftah juga demikian. Berdakwah di kalangan para PSK dan orang-orang yang akrab dengan mabuk-mabukan dilakukan secara santun, sehingga kehadiran Gus Miftah bisa diterima oleh mereka.

  

Demikianlah keunikan dakwah Gus Miftah yang menekankan praktik, sementara Gus Muwafiq lebih pada narasi ilmiahnya. Walaupun demikian, Gus Miftah dan Gus Muwafiq saling melengkapi satu sama lain, dalam rangka menyampaikan pesan Islam multikultural, yang ramah terhadap keragaman perilaku dan keberagamaan manusia.

  

Yogyakarta, 22 Maret 2024