Dari PNS Hingga Perdebatan Antar Generasi
HorizonOleh : Eva Putriya Hasanah
Mahasiswa PPs UIN Sunan Ampel Surabaya
Artikel ini terinspirasi dari buku berjudul \"I just graduated, now what?\". Tulisan milik Katherine Schwarzenegger yang diterbitkan oleh Crown Archetype, Amerika Serikat pada tahun 2014 ini banyak menyajikan kisah perjalanan individu dalam mencapai karir impian, khususnya setelah mereka lulus dari perkuliahan. Dari kisah-kisah tersebut, tentu saja saya menemukan bahwa sebelum mencapai sesuatu, seseorang menghadapi tantangan yang berbeda-beda. Entah dari kebingungan nya terhadap diri sendiri hingga pada titik dimana ia tidak mendapatkan dukungan dari siapapun. Pada intinya, buku ini ingin agar pembaca khusunya freshgraduate untuk berani berpikir dan menentukan pilihannya setelah lulus kuliah.
Berangkat dari membaca buku ini, saya teringat dengan cerita salah satu teman saya yang berdebat hebat dengan orang tuanya pasca lulus dari menempuh pendidikan S1. Bersusah payah ia merangkai keinginannya untuk mencapai pekerjaan yang dia impikan namun patah seketika karena orang tuanya menginginkan ia untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Fenomena semacam ini ternyata juga terjadi pada banyak orang. Berseluncur pada situs Quora, saya mendapati begitu banyak curahan hati orang-orang yang menceritakan bagaimana mereka diminta bahkan dipaksa untuk menjadi seorang PNS. Mengapa PNS menjadi pilihan pekerjaan yang dipilih orang tua untuk anaknya? Ternyata alasannya cukup beragam. PNS dianggap sebagai lambang kesejahteraan dan kesuksesan seseorang berkat adanya gaji yang stabil, dana pensiun, asuransi hingga anggapan bahwa PNS memiliki kemudahan dalam melakukan pinjaman hutang ke bank. Rasa-rasanya, profesi ini begitu istimewa, dan tak ada profesi yang bisa sejajar dengannya. Maka, ketika ada berita mengenai 105 orang yang mengundurkan diri menjadi PNS beberapa waktu lalu, apa pun alasannya, seolah-olah mewakili hati orang-orang yang selama ini tidak tertarik menjadi PNS.
Bagi pemuda zaman sekarang yang umumnya adalah Millenial dan gen-Z pekerjaan telah berkembang pesat dan tumbuh menjadi beranekaragam. Seperti menjadi artis TikTok, konten kreator YouTube, gamers, freelance yang bisa dikerjakan darimana saja, konsultan sampai dengan jualan di Shopee bisa saja punya peluang pendapatan jauh lebih besar ketimbang jadi PNS. Hal ini bukan berarti menjadi PNS adalah pilihan yang buruk bagi pemuda zaman sekarang. Orang tua hanya melihat bahwa PNS merupakan profesi yang stabil dibandingkan dengan profesi yang lainnya. Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, PNS adalah satu-satunya profesi yang terkena dampak paling kecil. Ketika profesi lain pontang-panting sebut saja pekerja pabrik yang dirumahkan, karyawan toko yang di-PHK, dan pengusaha yang gulung tikar, orang-orang yang menyandang status PNS justru tetap bekerja dengan tenang. Biasanya tiap hari kerja ke kantor, selama masa pandemi justru lebih sering kerja di rumah (Work From Home). Gaji pun tetap diterima setiap bulannya.
Apa yang terjadi ini sebenarnya bisa dijelaskan dengan teori yang diperkenalkan oleh Marshall McLuhan yakni teori determinasi pada tahun 1962 dalam tulisannya yang berjudul The Guttenberg Galaxy: The Making of Typographic Man. Pokok gagasannya adalah bahwa perubahan yang terjadi dalam berbagai macam cara berkomunikasi akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri. Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat dan teknologi tersebut akhirnya mengarahkan manusia untuk bergerak dari satu abad teknologi ke abad teknologi yang lain. Maka tidak heran apabila pemikiran antar generasi sangat berbeda karena mereka dibentuk oleh konteks dan situasi yang mereka alami.
Pesatnya perkembangan teknologi, khususnya evolusi cepat tentang cara orang berkomunikasi dan berinteraksi, merupakan pertimbangan yang membentuk generasi tertentu. Baby Boomers (1946-1964) tumbuh ketika televisi berkembang secara dramatis, mengubah gaya hidup dan koneksi mereka ke dunia dengan cara yang mendasar. Generasi X (1965-1980) tumbuh ketika revolusi komputer sedang berlangsung, dan Milenial (1981-1996) tumbuh dewasa selama ledakan internet. Sedangkan pada Generasi Z (lahir setelah 1996) adalah semua hal di atas telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak awal. IPhone diluncurkan pada tahun 2007, ketika Gen Z tertua berusia 10 tahun. Pada saat mereka berusia remaja, sarana utama yang digunakan anak muda untuk terhubung dengan web adalah melalui perangkat seluler, WiFi, dan layanan seluler tinggi. Mereka tumbuh di dunia yang telah mahir menggunakan media sosial dan juga smartphone sehingga otomatis mereka sangat mahir dalam teknologi dibanding dengan generasi sebelumnya. Pergerakan ini bahkan juga diakui oleh pemerintah dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2022 tentang Ekonomi Kreatif. Salah satu poin yang terdapat dalam peraturan tersebut adalah mengizinkan penggunaan konten YouTube sebagai jaminan pinjaman bank maupun non-bank.
Teknologi telah memberi kaum muda suara yang lebih keras dari sebelumnya. Sehingga rasa ketidaksetujuan nya terhadap sesuatu bisa lebih difasilitasi baik secara informasi maupun jaringan. Tidak hanya persoalan PNS, ada pula isu-isu lain yang secara gamblang menunjukkan suara kaum muda. Banyak dari protes jalanan yang dipimpin oleh pemuda diselenggarakan secara online, dengan Twitter, TikTok, Facebook dan Instagram sebagai pusat informasi dan jaringannya. Kelompok ini dapat berkomunikasi, memobilisasi, dan menggalang dukungan dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya. Hal ini menunjukkan bagaimana dunia telah berubah, begitu dengan manusianya. Meskipun tidak semua orang pada satu generasi memiliki cara pandang yang sama. Namun, perbedaan ini tidak akan menjadi masalah apabila konteks nya dipahami oleh keduanya. Dengan kata lain, generasi terdahulu perlu untuk terbuka dan memberi kesempatan bagi generasi setelahnya untuk berkembang sesuai dengan dunia yang dihadapi. Disisi lain, generasi baru juga perlu untuk membekali diri agar tidak dikendalikan oleh pesatnya kemajuan zaman. Justru harus tetap berani untuk menentukan pilihan sesuai dengan kebutuhan.

