(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Etos Kerja Perempuan Pesisir Madura

Horizon

Oleh: LUTHFIANA BASYIRAH

Mahasiswa Program Doktor Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Pada jaman pra Islam terutama di jaman Romawi Kuno dan Jahiliyah perempuan masih dianggap sebagai makhluk secondary atau makhluk nomor dua setelah laki-laki. Artinya, laki-laki mempunyai derajat yang lebih besar dibandingkan dengan perempuan. Sehingga saat ini perempuan sering menghadapi beberapa hambatan karena belum seutuhnya memperoleh status kesetaraan gender. Pandangan masyarakat terhadap perempuan dipengaruhi oleh perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Pada umumnya, perempuan yang hidup di daerah perkotaan dan daerah yang secara langsung bersentuhan dengan perubahan sosial, ekonomi dan budaya akan lebih terbuka dalam berpikir bahwa perempuan setara dengan laki-laki. Sehingga perubahan persepsi tersebut membuat perempuan saat ini semakin besar keterlibatannya dalam ranah publik. Kaum perempuan dalam konteks ini tidak hanya bertanggungjawab pada kegiatan kerumahtanggaan. Hal ini menjadikan perempuan sebagai anggota keluarga yang lebih berarti dalam kehidupan rumah tangga untuk membantu pemenuhan keberlangsungan hidup. Maka dari itu sudah banyak perempuan yang memilih membantu perekonomian keluarga, termasuk perempuan Madura.

  

Nilai-nilai budaya Madura yang masih menjadi pegangan hidup orang Madura adalah etos kerja tinggi, pantang menyerah, serta budaya taneyan lanjhang (baca: taneyan lanjeng) yaitu pola permukiman taneyan lanjhang (halaman panjang). Anak perempuan akan mendapatkan kepedulian dan penjagaan khusus daripada anak laki-laki, jika dilihat berdasarkan struktur formasi dasar pembentukan pemikiran keluarga Madura. Anak perempuan yang sudah menikah diijinkan untuk tinggal bersama orangtua di satu lingkungan yang sama. Adanya perpaduan pernikahan antara patrilokal dan matrilokal  merupakan salah satu bentuk tradisi, sehingga setiap orangtua Madura memiliki keharusan untuk membangunkan rumah bagi putrinya yang akan menikah. Walaupun anak perempuan mendapatkan kepedulian dan penjagaan khusus, dalam keluarga perempuan Madura harus menempatkan suami sebagai kepala rumah tangga atau imam dan pencari nafkah. Masyarakat Madura memiliki keteguhan, ketataan, dan keyakinan dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam, yaitu pelaksanaan ibadah wajib (shalat lima waktu dan zakat), bersedekah yang bersifat sukarela, dan berjihad (berjuang di jalan Allah).  Bagi masyarakat Madura etos kerja dianggap sebagai bagian dari jihad yang diwujudkan dalam bentuk bekerja sesuai syariat Islam yang telah dianut. Perempuan Madura memiliki sumber daya manusia yang sangat tinggi partisipasinya, salah satunya dalam pemenuhan kebutuhan perekonomian rumah tangga bersama suami.

  

Kegiatan yang dilakukan oleh perempuan Madura setiap harinya secara umum tidak hanya mengurus rumah sebagaimana tanggungjawab nya sebagai ibu rumah tangga. Tetapi antusias serta pola pikirnya menjadikan perempuan Madura juga turut terlibat dalam kegiatan pemenuhan ekonomi keluarga, baik dari kegiatan pertanian, kenelayanan, dan kegiatan perekonomian serta sosial lainnya.. Keterlibatan perempuan Madura di pesisir dalam kegiatan ekonomi produktif antara lain dipengaruhi oleh faktor ekonomi yaitu tidak tercukupinya kebutuhan rumah tangga mereka. Sebagai ibu rumah tangga dan sebagai individu, perempuan bertanggung jawab dalam mengatur urusan rumah tangga mulai bangun tidur sampai menjelang tidur yang mencakup pangan untuk keluarga, kesehatan, pendidikan anak, dan kebutuhan-kebutuhan sosial lainnya dalam masyarakat. Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak mencukupi maka perempuan yang merasakan dampaknya. Apalagi dalam aktivitas sebagai istri dari para nelayan tergantung pada kondisi cuaca. Sehingga dalam hal ini perempuan pesisir Madura juga ikut terlibat dalam menjajakan ikan hasil tangkapannya sampai habis. Kondisi tersebut sangat tidak proporsional, karena membuat perempuan lebih ekstra dalam bekerja jika dibandingkan dengan laki-laki. Oleh karena itu, penulis menilai kontribusi perempuan di dalam pengembangan ekonomi  sungguh signifikan dalam menjaga kebertahanan ekonomi rumah tangga, termasuk perempuan pesisir Madura yang memiliki sikap etos kerja yang tinggi dalam membantu para suami untuk menjual ikan yang telah diperolehnya dan mengerjakan aktivitas lainnya yang merupakan tugas utama sebagai ibu rumah tangga.