(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Melabuhkan Sampah di Momentum SDGs Desa

Horizon

Oleh : 

Eva Putriya Hasanah

Mahasiswa PPs UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Saat saya duduk di Perguruan Tinggi untuk menempu pendidikan strata satu (S1) tahun 2015, itulah awal mula saya tinggal di Surabaya dengan kurun waktu yang cukup lama.  Selama itu juga saya telah mengikuti banyak seminar dengan beragam topik baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Dari sekian forum yang saya ikuti, topik lingkungan menjadi yang paling berkesan dan saya ingat hingga sekarang.

  

Di rumah,  di kampung halaman saya, tidak ada bangunan tinggi maupun pabrik seperti di kota. Mayoritas tanah di huni rumah kami yang sangat sederhana, cukup sepetak namun halaman kami luas. Pohon dan tumbuhan masih mudah didapatkan. Kebiasaan lainnya adalah rumah-rumah di tempat kami jarang sekali menyediakan tempat sampah karena halaman rumah kami yang sangat luas dan sampah yang kami hasilkan pun tidak sebanyak sekarang. Sehingga membakar sampah dengan skala kecil atau menggunakannya sebagai salah satu bahan untuk menyalakan “Pawon” (baca: sebutan untuk tungku tradisional dari tanah liat) untuk memasak dianggap lumrah dan sangat biasa terjadi. Tak sampai membuat lingkungan menjadi kotor apalagi menyebabkan gorong-gorong menjadi tersumbat. 

   

Pemandangan itu nyatanya jauh berbeda dengan kehidupan di kota. Saat itu saya tinggal di belakang kampus. Sampah-sampah yang ada dikumpulkan tanpa dipilah kemudian diambil oleh seorang pria setiap pagi di depan kos. Namun, hampir setiap hari saya berpapasan dengan pria tersebut yang menarik gunungan sampah di atas gerobak sambil berjalan kaki hingga siang bolong. Terlihat sangat berat, panas, bau dan melelahkan. Pria itu mungkin adalah salah satu petugas pengangkut sampah di wilayah tersebut dan kemudian digaji oleh pemerintah. Tapi entahlah sampai hari ini pun saya belum pernah bertanya kepada siapapun dan hanya memperhatikannya.

  

Beberapa tahun kemudian, saat saya menyelesaikan pendidikan S1 dan tinggal di rumah dalam waktu yang cukup lama, saya mulai mengamati banyak perubahan. Terdapat beberapa spot di kampung halaman yang kemudian berubah menjadi tempat pembuangan sampah yang tidak beraturan. Beberapa orang memang telah berubah, mengumpulkan sampah rumah tangganya kemudian di bungkus rapi dengan kantong plastik dan di buang di tempat yang tidak seharusnya. Tidak tahu siapa yang memulai, namun sampah-sampah itu tetap saja ada bahkan setelah diberikan peringatan dalam bentuk tulisan besar yang mempertegas dilarangnya membuang sampah di tempat tersebut.

   

Zaman memang telah berubah. Konsumsi masyarakat meningkat dan pembangunan terjadi setiap hari serta pabrik telah berdiri di beberapa tempat. Mengakibatkan menyempitnya halaman dan kebingungan ke mana sampah itu harus dibuang. Dibakarpun tak mungkin karena jumlahnya pun besar.

  

Melihat fenomena tersebut, baik di kota maupun di desa menyadarkan kita bahwa apapun yang kita hasilkan akan pergi ke suatu tempat. Maka, hanya diri kita sendiri yang dapat menentukan ke tempat apa sampah-sampah kita akan berlabuh. Ke tempat yang dapat menyulap nya menjadi sesuatu yang dapat bermanfaat atau membiarkannya mengotori alam sekitar kita yang dampaknya juga akan kita rasakan di masa depan.


Baca Juga : Perjalanan Umrah: Rasa Syukur (Bagian Satu)

  

Melabuhkan Sampah Kita 

  

Bersyukur, itu adalah kata yang tersemat di hati dan pikiran saya saat berfikir tentang seorang pemulung. Sang pahlawan yang bersedia mengumpulkan sampah untuk menjadi rejeki. Tapi sekarang, tak banyak pemulung yang  diperbolehkan masuk ke beberapa tempat. Tak jarang saya temui, baik di area perkampungan maupun kota yang tidak mengizinkan seorang pemulung masuk. Padahal dari sisi pengelolaan sampah, keberadaan pemulung cukup berperan di dalamnya. Olehnya sampah tersebut tidak jadi berserakan dan terbuang percuma namun bisa sampai kepada pengepul kemudian diolah kembali.

  

Jika memang pemulung akhirnya tidak diberikan ruang hanya untuk mengambil sesuatu yang kita anggap tidak berharga artinya kita sendiri juga harus mampu bijaksana dalam mengelola sampah. Memang berat rasanya jika hal ini hanya dipandang dari satu perspektif saja. Hanya masyarakat yang didorong untuk sadar atas lingkungan hidup. Melarang membuang sampah sembarangan tanpa adanya fasilitas yang tersedia. Tong sampah yang jarang, tempat pengelolaan sampah yang sulit ditemui dan longgarnya peraturan terhadap pelaku pembuang sampah menjadi sangat kuat untuk menjadi alasan bagi kami untuk bersikap semena-mena terhadap lingkungan.

  

Sebagai masyarakat biasa, saya membayangkan bahwa suatu saat nanti saya tak lagi pusing harus membawa sampah saya kemana untuk disalurkan karena letak tempat pengelolaan sampah yang sangat dekat dan mudah untuk dijangkau. Kami dapat menyaksikan bagaimana sampah-sampah yang telah kami pilah telah berubah menjadi benda yang bermanfaat sehingga membuat saya lebih semangat untuk memilih dan memilah sampah yang saya hasilkan. Mungkin itu adalah mimpi terkecil saya yang harusnya dapat diwujudkan dengan sinergi bersama.

  

Melihat negara lain seperti Jerman misalnya, dengan presentase daur ulang yang mencapai angka di atas 50 persen dan menjadikannya sebagai negara dengan tingkat daur ulang sampah terbaik berdasarkan World Economic Forum. (Sumber: Sindonews Internasional).  Langkah yang dilakukan Jerman sebenarnya cukup sederhana namun sangat mendetail.  Negara ini menyediakan tempat sampah warna-warni di sekitar pemukiman sehingga mendorong warganya untuk melakukan kegiatan memilah sampah. Jika terdapat kesalahan, sampah tersebut tidak akan diambil oleh petugas dan pemilik sampah akan mendapatkan surat teguran dari pemerintah. (Sumber: Liputan6) Dari sini,  diperlukan kerjasama dari keduanya. Baik masyarakat umum dan pemerintah.

  

Momentum SDGs Desa

  

Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah edaran dari desa dengan judul SDGs Desa. SDGs merupakan kependekan dari Sustainable Development Goals adalah sebuah cita-cita dunia yang dibuat tahun 2015 untuk mencapai dunia yang berkelanjutan. Sedangkan SDGs desa adalah bentuk dari upaya pembumian SDGs yang digagas oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Poin-poin yang dimuat dalam SDGs desa adalah ekstraksi bahasa agar lebih dipahami oleh masyarakat terutama masyarakat desa. Perbedaannya hanya terlihat pada jumlah poin tujuan antara SDGs desa dengan SDGs itu sendiri. SDGs memiliki 17 poin tujuan yang dikenalkan melalui Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), sedangkan SDGs desa menambahkan satu poin tujuan menunjukkan kekhasan pembangunan desa yang tersemat dalam poin ke 18.

  

Salah satu kawan saya pernah berkata, jika proyek SDGs adalah cita-cita dunia yang sangat ambisius sehingga tidak mungkin diwujudkan jika hanya dengan satu pihak. Individu satu dengan individu yang lain harus bekerjasama. Sehingga proyek SDGs Desa memang sangat tepat untuk dapat memperkenalkan SDGs dari hulu ke hilir. Namun, yang tidak kalah penting adalah bentuk aplikasi programnya agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan. 

  

Menurut data yang saya kutip dari detik.com, setiap desa tidak harus menerapkan seluruh poin yang ada di dalam SDGs desa. Selanjutnya disebutkan pula bahwa terdapat salah satu desa yang tidak menerapkan poin desa tangap perubahan iklim yang ada pada poin 13 karena menganggap desa tidak berada pada lokasi industri.

  

Memahami krisis iklim sebetulnya tidak hanya terkait dengan kawasan industri atau tidak. Perubahan iklim adalah perubahan signifikan yang terjadi pada suhu, curah hujan, dan angin yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama bahkan hingga lebih dari satu dekade. Hal ini akan berdampak pada aspek kehidupan umat manusia, tidak hanya ekosistem yang akan menjadi rusak tetapi juga dapat menyebabkan kelangkaan pangan bagi seluruh umat manusia. (sumber: zerowaste.id).  Penyebabnya tidak hanya dilihat dari faktor geografis, bahkan pemukiman yang tidak tinggal di kawasan industri pun dibutuhkan perannya dalam persoalan ini. 

  

Sampah yang telah saya bahas di atas, faktanya memiliki andil dalam perubahan iklim.  Sampah yang dibuang secara bercampur dan menumpuk di tempat pembuangan sampah akan menghasilkan gas metana yang juga akan menyebabkan efek rumah kaca. Belum lagi apabila sampah-sampah tersebut terkena tiupan angin dan berakhir di tempat-tempat yang tidak pernah dibayangkan, seperti sungai, laut dan lainnya. Hal yang sama juga akan terjadi apabila sampah-sampah tersebut dikelola dengan cara di bakar. Sampah plastik saja yang di bakar dapat menghasilkan gas emisi hingga 5.9 Juta Metric Ton CO2 yang akan berdampak pada perubahan iklim. (Sumber: Zerowaste.id)

  

Maka seharusnya SDGs desa bisa menjadi momentum yang pas bagi kita untuk mewujudkan mimpi tentang pengelolaan lingkungan hidup. Pendataan yang dilakukan dalam program SDGs dapat mencakup segala hal terkait poin tersebut. Kemudian dapat menjadi acuan untuk membuat program-program selanjutnya. Misalnya mulai mengenalkan kepada masyarakat tentang menejemen sampah, menyediakan sarana prasarana yang dibutuhkan, mendukung aktivitas pengelolaan bank sampah sampai dengan keberadaan greenpreneur, hingga mulai mengelompokkan pekerjaan-pekerjaan yang dapat berkontribusi bagi tercapainya SDGs. Langkah tersebut dilakukan dengan tujuan memberikan dan menunjukkan rantai pengelolaan sampah yang benar. Bagaimana individu bisa bijak dalam konsumsi sebuah produk, proses memilah hasil sampah dari produk yang dikonsumsi, kemana sampah tersebut harus diberikan, setelah diolah harus didistribusikan kemana, serta pengenalan terhadap konsumen terkait produk daur ulang. Maka dengan adanya rantai pengelolaan dan peraturan yang jelas, dapat ikut serta mendorong masyarakat serta menumbuhkan rasa optimisme dalam diri kita semua. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.