(Sumber : Kumparan )

Menghitung Prestasi “ ‘UBUDIYAH “

Horizon

Perjalanan dari Balongpanggang hari Selasa, 21 Januari 2025 masih menyisakan “PR” yang sulit untuk menemukan jawaban yang pasti. Pertanyaan itu muncul setelah beliau cerita tentang “hikmah” yang dimiliki seseorang (orang sholih) yang sepatutnya menjadi teladan bagi kita semua. Dari kisah itu, di penghujung cerita, saya ditanya sama beliu guru kita semua. Prof.Nur Syam M.Si. “Prestasi kamu apa?”. “Rothok” mirip dengan cerita salah satu teman tempo hari, saat mendapat pertanyaan dari mertuanya, “Kerja di Partai gajinya berapa le?”. 

  

Dua pertanyaan di atas bisa dipastikan akan menghasilkan jawaban yang ambiguitas. Tapi saya lebih tertarik untuk membahas yang pertama daripada pertanyaan yang ke dua. Hanya sekedar info, mertua saya tidak membutuhkan jawaban seperti yang dialami teman saya. Karena, saya tidak sedang bekerja dan aktif di sebuah partai politik apalagi menjadi DPR terpilih dari partai tertentu. Walaupun itu cita-cita masa kecil saya. Ingat! Itu hanya cita-cita waktu yang masih kecil, yang jelas berbeda dengan cita-cita waktu saya sudah tumbuh menjadi besar lo!!! Hehehe...

  

Ok Baiklah... dari pertanyaan beliau tentang “prestasi”, seketika itu juga kepala saya langsung gatal, dan sampai sekarang saya masih mencari jawabannya walaupun rasa gatal itu sudah mulai berkurang. 

  

Ada banyak orang yang diberikan kemampuan oleh Allah menjalankan semua perintahNya dan menghindari segala larangannya. Bahkan ada yang mendapatkan “bonus” hidayah dari ilmu yang ia miliki, yang membuatnya terus mendekatkan diri di “pangkuanNya”. Bahkan amaliah sunnah pun sangat jarang mereka tinggalkan, seperti shalat sunnah, puasa sunnah, puasa Daud, dan ibadah sunnah lainnya. Bibirnya basah karena selalu menyebut nama Tuhannya. Ibadah dan amaliah yang terus-menerus dilakukan semacam itu, menurut sebagian ulama, sudah “bertemu dan merasakan manisnya” beribadah kepada Allah SWT.

  

Mereka adalah manusia pilihan, manusia istimewa, yang hampir setiap saat tidak pernah lupa akan Robbnya. Hidupnya hanya “untuk” sang Khaliq. Apapun yang ia lakukan, selalu dikembalikan kepadaNya, serta semua yang terjadi di dunia ini ia tetap menganggap itu semua adalah Qudroh dan IrodahNya. (Hehehe maaf, seperti tukang da\'i saja...)

  

Hari itu, beliau guru kita mengajari saya dimulai dari sebuah pertanyaan. Menurut saya, “tidak akan ada jawaban dari orang yang ahli ibadah, ketika ditanya tentang prestasi sebagai \'Abdun yang selama ini sudah dilakukannya”.

  

Karena ini bukan prestasi anak sekolahan dan prestasi semarak agustusan yang dengan bangga diakuinya sebagai pemenang. Semakin “dekat” seorang hamba kepada Tuhannya, maka semakin hilanglah “rasa” bahwa ia adalah orang yang ahli ibadah. Bahkan “perasaan” berlumur dosa dan merasa hina dihadapan tuhannya menjadikan ia terus melakukan ibadah dengan sungguh-sungguh dan lebih baik. Lebih jauh lagi, hanya orang lain yang bisa menilai bahwa ia adalah orang “berprestasi” dan orang sholih.

  

Keyakinan saya semakin kuat, bahwa saya memang benar-benar diajari sama beliu melalui sebuah pertanyaan. Saya “dipompa” agar terus mengejar ridhoNya. Melakukan ibadah dengan sungguh-sungguh. Bukan karena hari itu beliau kebetulan bertemu dengan orang yang “berprestasi”. Tapi sejak lama beliau sudah “memompa” orang-orang dan jamaah beliau di beberapa kesempatan. Dengan bukti “jejak pena” beliau beberapa tahun yang lalu, beliau sudah membahas di beberapa forum, dan beliau menuangkan dalam “oretan”, bahwa kelompok manusia itu ada yang dalam kategori “perindu ibadah”. Agar kita masuk sebagai manusia pilihan, manusia istimewa, maka kita harus berusaha seoptimal mungkin agar mendapat Ridho nya. Karena menurut beliau, ibadah juga memiliki “Harapan Akhir” yaitu harapan untuk menemukan tanah Ridho Allah SWT.

  

“Kalau saya tidak punya prestasi apapun”

  

Itulah ungkapan beliau, saat pertanyaan beliau tidak bisa menjawab kecuali hanya dengan “garuk-garuk kepala”.

  

Ini pernyataan yang sesungguhnya. Pernyataan yang keluar dari seorang yang sudah tidak ada “rasa”, apalagi merasa paling dekat dan paling ahli dalam beribadah kepadaNya. Ngapunten.... 

  

Semoga kita semua masih tetap dalam Arahan beliau dalam membawa kita ke jalan Ridho Nya. Aamiin...