(Sumber : Nur Syam Centre)

Model Pembelajaran di Era Pandemi Covid-19

Horizon

Oleh: Husniyatus Salamah Zainiyati 

(Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam UIN Sunan Ampel Surabaya)

  

Pada kondisi saat ini, pembelajaran secara tatap muka belum bisa dilakukan secara normal. Berdasarkan evaluasi Kemendikbud terhadap pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di sekolah maupun di Perguruan Tinggi selama masa pandemi Covid 19 mulai bulan Maret sampai bulan Juli 2020, terdapat beberapa kendala antara lain: guru/dosen kesulitan dalam mengelola PJJ dan masih terfokus dalam penuntasan kurikulum. Sementara itu, tidak semua orang tua mampu mendampingi anak-anak belajar di rumah dengan optimal. Para peserta didik juga mengalami kesulitan konsentrasi dalam belajar dari rumah serta meningkatnya rasa jenuh yang berpotensi menimbulkan gangguan pada kesehatan jiwa. Untuk mengantisipasi kendala tersebut, Pemerintah mengeluarkan penyesuaian zonasi untuk pembelajaran tatap muka. Di dalam perubahan SKB Empat Menteri, sekolah yang berada di zona hijau dan kuning diperbolahkan melakukan pembelajaran secara luring atau tatap muka (face to face) dengan mematuhi protokol kesehatan secara ketat.  (https://www.kemdikbud.go.id/ 07/08/2020)

  

Berangkat dari realita pembelajaran tersebut, maka sekolah/kampus dan tenaga pendidik dituntut untuk kreatif, inovatif dan melakukan lompatan-lompatan yang luar biasa dalam mengelola pembelajaran agar lebih efektif dan tidak membosankan. Di dalam kasus ini model pembelajaran di tingkat dasar sampai menengah secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu sekolah yang berada di zona kuning dan hijau dapat melakukan pembelajaran tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan, yaitu pakai masker, sering cuci tangan dengan sabun dan melakukan physical distancing (maksimal 50 persen yang hadir secara tatap muka dan dapat dilakukan secara bergiliran). Sedangkan, sekolah yang berada di zona merah, zona orange dan pembelajaran di Perguruan Tinggi semester gasal 2020/2021 dilakukan secara daring, kecuali di SMK dan perkuliahan yang bersifat praktikum dapat dilakukan secara luring dengan menerapkan protokol kesehatan.

  

Mengoptimalkan Ruang Belajar Zaman Now

  

Saat ini pembelajaran berbasis teknologi informasi sangat diperlukan. Di dalam beberapa literatur tentang model pembelajaran dijelaskan bahwa e-learning adalah pembelajaran yang terjadi secara synchronous learning (pembelajaran yang terikat oleh waktu) dan asynchronous learning (yang tidak terikat oleh waktu). Berdasarkan hal tersebut, ruang belajar zaman now dapat dibagi menjadi empat ruang. Meminjam istilah Chaeruman (2019), yaitu ruang belajar satu, Tatap Muka (live synchronous learning), bentuk aktivitas belajar: diskusi, demonstrasi, praktek, dan sebagainya. Ruang belajar dua, Tatap Maya (virtual synchronous learning), bentuk aktivitas belajar, teleconference (audio, video dan web), ruang belajar tatap muka dan tatap maya adalah bentuk synchronous learning. Sedangkan,  asynchronous learning terdiri dari ruang belajar tiga, Mandiri (Self-directed Asynchronous Learning), belajar mandiri dan pendalaman, misalnya menyediakan materi (jurnal, video, web, artikel, dan sebagainya), mencari sumber belajar, dan sebagainya.  Ruang belajar empat, Kolaboratif Interpersonal (Collaborative Asynchronous Learning), contoh aktivitas belajar misalnya, melalui chat room, discussion forum, collaborative project, community of practice, dan lain sebagainya.

  

Ruang belajar tatap muka, seorang guru/dosen merancang dan melaksanakan pembelajaran pada ruang dan waktu yang sama. Di dalam konteks e-learning, pembelajaran tatap muka dapat juga memanfaatkan teknologi, sehingga penggunaan teknologi dapat terjadi pula dalam pembelajaran tatap muka atau disebut technology enhanced classroom. Misalnya dalam kelas memanfaatkan LCD proyektor, memanfaatkan jaringan internet (wifi), smart phone, dan sebagainya. Serta, kontinum metode pembelajaran dapat menggunakan metode pembelajaran yang berpusat pada guru meliputi, ceramah/presentasi, demonstrasi, praktek dan tutorial. Selain itu, kontinum metode pembelajaran yang berpusat pada siswa/mahasiswa meliputi, diskusi, games/simulasi, problem solving dan pembelajaran kooperatif. Pada masa pandemi Covid-19 ruang belajar tatap muka tidak boleh digunakan, untuk memangkas penyebaran Covid-19. Tatap muka bukan satu-satunya bentuk synchronous learning, ada juga tatap maya, maka pengajar dapat mengkombinasikan ruang belajar yang lain. 

  

Di dalam ruang belajar tatap maya, guru/dosen dan siswa/mahasiswa belajar dalam waktu yang sama tapi dalam ruang yang berbeda. Untuk menunjang pembelajaran jarak jauh ini, media yang dapat digunakan yaitu teleconference bisa berbentuk audio conference, video conference dan web conference atau biasa disebut webinar. Berkat perkembangan teknologi, guru/dosen dapat menggunakan teleconference dalam pembelajaran misalnya dengan  Cisco Webex, Skype, Zoom, dan sebagainya. Selama masa pandemi ini yang mengharuskan adanya physical distancing, maka tatap maya banyak dipilih oleh guru/dosen dalam pembelajarannya dan yang sering dipakai adalah web conference sepert Zoom, Google Meet. Pada konteks pembelajaran di Perguruan Tinggi, dosen sangat memungkinkan untuk berkolaborasi dengan tenaga pendidik atau orang yang expert dari lembaga lain melalui visiting professor atau visiting lecturer minimal satu kali dalam satu semester melalui teleconference untuk menambah wawasan mahasiswa, hal ini sebagaimana disarankan oleh BANPT, juga untuk mengembangkan model Tri Dharma Perguruan Tinggi bagi dosen.

  


Baca Juga : Judi Online, Sikap Permissiveness dan Mental Menerabas

Ruang belajar ketiga adalah mandiri/personal, peran guru/dosen pada ruang belajar ini adalah menyiapkan materi secara digital agar materi dapat diakses oleh siswa/mahasiswa kapanpun, di manapun dan sesuai dengan karakteristik dan minat belajar masisng-masing. Materi digital dapat dirancang sendiri oleh pengajar (by design). Misalnya slide presentasi, modul, dan sebagainya, atau memanfaatkan materi yang telah ada (by utilization). Misalnya memanfaatkan bahan yang tersedia di dunia maya (ineternet) yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Hal yang perlu diperhatikan, materi digital ini dapat diakses diberbagai saluran seperti komputer, laptop, handphone, dan sebagainya. 

  

Ruang belajar keempat yaitu kolaboratif interpersonal, pembelajaran yang memungkinkan terjadinya belajar kapan saja dan di mana saja yang melibatkan orang lain. Di dalam merancang pembelajaran, guru/dosen dapat memanfaatkan media chat room, discussion room (ruang berdiskusi untuk mahasiswa), collaborative project, community of practice, dan sebagainya. Contoh dalam collaborative project biasanya guru/dosen memberikan assignment pada mahasiswa, dan disarankan lebih difokuskan pada authentic and challenging task. Hal ini merupakan tantangan bagi para guru/dosen untuk merancang assignment tersebut. Meskipun demikian, guru/dosen harus tetap mempertimbangkan karakteristik dan beban kognitif mahasiswanya. Sehingga beban tugas yang melampaui batas kemampaun siswa/mahasiawa tidak akan terjadi lagi.  

  

Perlu diketahui bahwa secara informal anak-anak zaman now banyak menggunakan ruang belajar mandiri dan kolaboratif interpersonal melalui saluran komunikasi daring. Sedangkan, ruang belajar tatap maya hampir belum (jarang) diterapkan dalam pembelajaran sebelumnya. Bagaimana mengoptimalkan ruang belajar nomor dua, tiga bahkan empat terutama pada masa pandemi covid 19 ini? Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah blended learning dengan google classroom

  

Merancang dan Melaksanakan Blended Learning dengan Google Classroom

  

Istilah blended learning awalnya merupakan suatu sistem belajar yang mengkombinasikan antara belajar secara face to face (tatap muka/tradisional) dengan belajar secara online (melalui penggunaan fasilitas/media internet) (Allen, et.al, 2007). Saat ini pembelajaran berbasis blended learning dilakukan dengan menggabungkan pembelajaran tatap muka, teknologi cetak, audio, audio visual, komputer, dan m-learning (mobile learning), atau pembelajaran yang mengkombinasikan tatap muka, offline dan online (Dwiyogo, 2018: 59-60). Perkembangan teknologi dan informasi, blended learning dapat berupa kombinasi antara synchronous learning dan asynchronous learning. Hal yang perlu diperhatikan ketika merancang blended learning yaitu: pertama, Pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, gaya pembelajaran, serta berbagai media berbasis teknologi yang beragam. Kedua, sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face), belajar mandiri, dan belajar mandiri via online. Ketiga, pembelajaran yang didukung oleh kombinasi efektif dari cara penyampaian, cara mengajar dan gaya pembelajaran. Keempat, pengajar dan orangtua peserta belajar memiliki peran yang sama penting, pengajar sebagai fasilitator, dan orangtua sebagai pendukung.

  

Di era pandemi Covid-19 yang mengharuskan tidak adanya pembelajaran secara tatap muka (terutama bagi sekolah di zona merah, zona orange dan di Perguruan Tinggi) maka guru/dosen dapat merancang dan melaksnakan blended learning, yaitu mengkombinasikan atara synchronous learning bentuk tatap maya dan asynchronous learning, dengan memilih aktivitas belajar yang paling relevan dengan materi yang diajarkan sehingga dapat menciptakan pengalaman belajar secara optimum. Di dalam pembelajaran di Perguruan Tinggi misalnya, pada semester gasal tahun akademik 2020/2021 ini saya akan mengajar Mata Kuliah Desain Pembelajaran PAI di prodi Magister PAI, saya akan menggunakan blended learning menggunakan LMS (Learning Management System) Google Classroom, maka yang saya persiapkan saat ini adalah mengidentifikasi kegiatan belajar yang akan dilakukan mahasiswa saat pembelajaran daring yaitu me-review artikel jurnal internasional tentang karakteristik pebelajar, analisis teori belajar dan model pembelajaran, dengan tujuan agar mahasiswa dapat mengkonstruk dan menganalisis model pembelajaran yang ada. Sedangkan, materi digital yang saya siapkan (by design) berupa slide power point tentang desain pembelajaran, e-book, dan memanfaatkan video tentang model pembelajaran yang dapat di-download di internet (by utilization), materi tersebut dapat diakses di LMS Google Classroom Desain Pembelajaran PAI. Pada proses pembelajaran dikombinasi dengan forum diskusi melalui Google Classroom dan WhatsApp group, sehingga interaksi antara mahasiswa dan dosen bisa intens dan tidak terbatas oleh waktu, bila menghadapi kendala dalam pembelajaran bisa segera terselesaikan. 

  

Collaborative project dan community of practice digunakan ketika mahasiswa secara kelompok akan mendesain pembelajaran PAI berdasarkan pengalaman mengajarnya dan pengamatan yang dilakukan di sekolah atau madrasah. Proses pembelajaran seperti ini sekaligus mengintegrasikan PKM (pengabdian kepada masayarakat) dalam pembelajaran sebagaimana diamanatkan oleh BANPT. Selanjutnya, tatap maya bisa dilakukan di awal perkuliahan, petengahan dan di akhir perkuliahan, atau disesuaikan dengan kondisi pembelajaran yang dihadapi. Artinya, blended learning yang dilakukan adalah kombinasi antara ruang belajar tiga, empat (asynchronous learning), dan ruang belajar dua (synchronous learning). 

  

Blended learning sangat memungkinkan untuk dilaksanakan dalam pembelajaran, seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Sehingga, kendala atau tantangan bagi pengajar untuk menyiapkan materi secara digital dapat diatasi dengan adanya kemauan yang besar. Blended learning bukanlah satu-satunya alternatif dalam mengatasi permasalahan pembelajaran. Namun, di era pandemi Covid-19 model pembelajaran blended learning dapat sebagai solusi esensial masa kini. 

  

Wallahu ’Alam Bi ash-Shawab