Please Stop Saying “Percuma” Bagi Perempuan Berpendidikan Tinggi
HorizonOleh: Rabi’atul Adawiyyah
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya
Bagaimana dengan perempuan mengenyam pendidikan sampai tingkat yang lebih tinggi. Sering kali hal ini masih diperbicarakan dalam masyarakat dari dulu sampai sekarang. Dengan perubahan zaman dan berkembangnya segala hal hingga menjadi peradaban yang lebih maju, stigma tentang “Perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi jika ujung-ujungnya hanya menjadi pengurus rumah tangga”, stigma negatif ini masih sering terdengar di tengah-tengah masyarakat sehingga sering kali menimbulkan konflik. Stigma ini juga merugikan kalangan perempuan, hal ini dapat menjatuhkan impian para perempuan dan adakalanya mereka juga merasa rendah diri maupun merasa tak berguna.
Apakah benar perempuan itu berharga? Tentu, itu berharga. Mengapa? Tahukah kalian dari manakah generasi emas dilahirkan kalau bukan dari seorang perempuan. Oleh karena itu perempuan berpendidikan tinggi itu perlu. Perempuan memang ditakdirkan akan menjadi seorang ibu, pekerjaan rumah tangga memang tak kan lepas tetapi menjadi ibu yang berkualitas adalah yang diperlukan. Pendidikan merupakan suatu hal yang penting bagi kehidupan manusia, dengan berpendidikan tinggi seorang wanita akan mampu membantu pasangan nya dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan. Ia akan mampu memberikan nasehat dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Pendidikan yang baik akan membentuk cara berpikir dan kemampuan seorang wanita dari sudut pandang yang berbeda. Selain menjadi wanita yang cerdas bagi pasangan nya, pendidikan dapat menjadikan wanita sebagai Guru terbaik bagi anak anaknya. seorang ibu harus berpendidikan tinggi, karena ilmu tersebut dapat digunakan untuk mengajarkan anak-anaknya, baik mengajarkan nilai moral, nilai agama, dan nilai kehidupan lainnya.
Pendidikan tinggi bukan hanya sebagai \"jembatan\" menggapai gelar dan membangun karir, melainkan tempat menimba ilmu, menambah wawasan, membentuk pola pikir, yang pastinya sangat berguna bagi diri sendiri dan orang di sekeliling. Di masa yang akan mendatang, selain sebagai seorang istri, perempuan ingin menjadi seorang ibu, teman, sekaligus guru bagi anak-anak kelak. Bukan hanya tentang melayani, tapi juga mengajari. Seorang ibu selalu memiliki harapan untuk dapat menanamkan nilai-nilai teladan kepada anak, seseorang yang mengharapkan dapat menjawab pertanyaan anak dengan cerdas dan bijak, seseorang yang mengharapkan menjadi tempat diskusi anak secara sehat. Dan seseorang yang mengharapakan melahirkan anak yang teredukasi agar bisa berkembang.Dan semua itu tidak akan berjalan semudah membalikkan telapak tangan jika tidak didasari dengan ilmu, dan menempuh pendidikan merupakan salah satu jalan mencapai ilmu tersebut.
Pernah dengar ungkapan bahwa \"Dibalik suksesnya seorang lelaki,maka terdapat perempuan hebat di belakangnya” atau “Kecerdasan seorang anak itu diturunkan dari ibunya”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya peranan seorang perempuan di dalam kehidupan ini, sebab perempuan merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya, untuk membangun generasi selanjutnya.
Berpendidikan tinggi bagi perempuan, bukanlah untuk menyaingi lelaki tetapi pendidikan itu memang penting bagi perempuan. Dalam agama Islam menuntut ilmu itu tidak dibedakan antara laki-laki ataupun perempuan, semua sama baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan untuk menuntut ilmu sebagai bekal masa depan mereka. Terutama bagi perempuan yang akan menjadi seorang ibu, ia mesti harus pandai mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang cerdas, shalih dan shalihah. Hal ini diungkapan dalam hadits Ibnu Abdil Barr yang artinya Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan.
Seorang ibu yang berpendidikan merupakan jaminan bagi kesuksesan anaknya di masa depan. Sebab, ibu yang berpendidikan akan mengajarkan anak tentang kemampuan berpikir, menyelesaikan masalah, serta mengembangkan kreativitas untuk mencapai masa depan yang penuh harapan. Dan saat anak beranjak dewasa nanti, hasil dari pendidikan ibu di rumah akan nampak saat anak mampu mengatasi setiap permasalahan yang menghadang. Oleh karena itu masih perlukah stigma yang seperti itu?

