Post-Holiday Blues, Perasaan Sedih dan Hampa yang Muncul Setelah Liburan
HorizonOleh: Dr. Fina Wardani, M.Pd
Liburan datang membawa jeda yang terasa istimewa dan momentum kultural bagi manusia untuk keluar sejenak dari rutinitas hidup yang selalu berulang. Kebersamaan keluarga, perjalanan, ibadah, perayaan, dan waktu luang yang ditawarkan saat liburan memberikan pengalaman emosional yang intens. Namun, tak sedikit orang yang justru merasa kosong dan sedih setelah semua itu berakhir. Fenomena ini dikenal sebagai Post-Holiday Blues.
Berdasarkan perspektif psikologi, Post-Holiday Blues tidak termasuk dalam kategori gangguan mental dan tidak tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Post-Holiday Blues dipahami sebagai suatu reaksi emosional sementara akibat perubahan situasi yang mendadak, yaitu proses transisi dari fase liburan menuju rutinitas kerja dan peran sosial (American Psychiatric Association, 2013). Pengalaman ini nyata dan dialami oleh banyak orang dari berbagai lintas budaya.
Salah satu penjelasan penting mengenai Post-Holiday Blues datang dari teori hedonic adaptation yang diperkenalkan oleh Brickman dan Campbell (1971). Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk kembali ke “titik dasar kebahagiaan” setelah mengalami peristiwa menyenangkan atau menyedihkan. Liburan Natal dan Tahun Baru menciptakan lonjakan emosi positif, namun kebahagiaan tersebut bersifat sementara. Ketika liburan usai, emosi manusia dituntut untuk kembali ke kondisi normal, namun karena adanya kontras yang tajam, kondisi normal itu justru dirasakan sebagai suatu bentuk kehilangan.
Berdasarkan perspektif neuropsikologi, kondisi ini juga berkaitan dengan sistem reward otak. Schultz (1998) menjelaskan bahwa tubuh memproduksi dopamin yang memiliki peran penting dalam merespons kebaruan dan antisipasi kesenangan. Selama liburan, otak terus distimulasi oleh pengalaman baru dan menyenangkan. Ketika stimulus tersebut hilang secara tiba-tiba, aktivitas dopamin menurun, memunculkan perasaan hampa, lesu, dan kurang motivasi. Menurunnya kadar dopamin inilah yang menyebabkan mengapa kembali ke rutinitas setelah libur panjang sering terasa jauh lebih berat dibanding hari-hari biasa.
Namun, Post-Holiday Blues tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh mekanisme biologis dan adaptasi emosional. Pada momen Natal dan Tahun Baru, banyak orang mengalami kembali rasa keterhubungan dengan diri, keluarga, dan makna hidup. Ketika rutinitas kembali berjalan, hidup terasa mekanis dan fungsional semata. Di sinilah analisis psikologi eksistensial menjadi relevan. Viktor Frankl (1963) menyebut kondisi ini sebagai Existential Vacuum, yaitu kondisi munculnya kehampaan batin ketika manusia kehilangan makna atas kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Artinya, Post-Holiday Blues bukan semata perasaan rindu liburan, melainkan bisa menjadi refleksi atas cara hidup yang terlalu padat oleh tuntutan dan miskin ruang makna. Natal dan Tahun Baru, secara tidak langsung, membuka pengalaman tentang kebersamaan, kehangatan dan hidup yang lebih utuh, dan ketika pengalaman itu berakhir, yang tertinggal adalah kegelisahan eksistensial. Lebih lanjut lagi, Post-Holiday Blues justru dapat dibaca sebagai sinyal psikologis. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan produktivitas, tetapi juga makna, keseimbangan, dan jeda reflektif. Pertanyaannya bukan bagaimana menghilangkan perasaan hampa itu secepat mungkin, melainkan bagaimana membawa nilai-nilai kemanusiaan yang kita rasakan saat liburan ke dalam kehidupan sehari-hari setelah liburan usai dan kalender kembali berjalan normal.
Selain faktor psikologis individual, Post-Holiday Blues juga berkaitan dengan konteks sosial modern yang menempatkan produktivitas sebagai ukuran utama dari nilai individu. Setelah liburan, individu kembali dihadapkan pada ritme kerja yang padat, target yang menumpuk, dan ekspektasi sosial yang menuntut performa stabil. Transisi yang berlangsung cepat ini sering kali tidak memberi ruang adaptasi secara emosional yang memadai. Akibatnya, perasaan sedih dan hampa bukan semata karena liburan telah usai, melainkan karena tubuh dan psikis dipaksa kembali ke sistem yang minim empati terhadap kebutuhan dasar manusia akan jeda dari rutinitas.
Pada era media sosial semacam ini, pengalaman Post-Holiday Blues bahkan semakin diperkuat oleh proses perbandingan sosial. Unggahan foto liburan, resolusi awal tahun, dan narasi kebahagiaan yang terus beredar menciptakan standar emosional semu. Alih-alih membantu proses transisi, paparan ini justru membuat individu merasa tertinggal, kurang bersyukur, atau gagal memaknai awal tahun dengan “sempurna.” Pada konteks ini, kesedihan pascaliburan tidak lagi bersifat personal, melainkan terproduksi secara sosial melalui ekspektasi kolektif yang tidak realistis.
Cara untuk menyikapi Post-Holiday Blues tidak cukup dengan anjuran untuk “tetap semangat” atau “segera produktif”; yang dibutuhkan adalah kesadaran dalam mengelola ritme hidup, yakni memberi ruang refleksi setelah liburan, menurunkan ekspektasi pada diri sendiri, serta secara sadar membawa nilai-nilai kebersamaan, kehangatan, dan makna liburan ke dalam rutinitas keseharian. Memalui cara ini, liburan tidak berhenti sebagai jeda temporal semata, tetapi berfungsi sebagai momentum transformatif yang membantu individu menata ulang orientasi hidup, relasi sosial, dan tujuan personal menjadi lebih bermakna. Proses adaptasi ini menuntut penerimaan bahwa transisi dari ruang santai menuju rutinitas tidak selalu berlangsung mulus dan membutuhkan waktu. Kesadaran semacam ini penting agar individu tidak terjebak pada rasa bersalah ketika produktivitas belum sepenuhnya pulih. Pada akhirnya, pemaknaan liburan terhadap ritme kerja dan kehidupan justru berpotensi melahirkan keberlanjutan produktivitas yang lebih sehat dan reflektif.

