(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Rabio Mblo!

Horizon

Oleh: Gus Ahmad Miftahul Haque

  

Pada satu waktu di pertengahan 90-an, paklekku Kiai Ahmad Jazuli Sholeh sowan ke Allahu Yarham Mbah Dullah Kajen, RKH. Abdullah Zen Salam. Di pertengahan pisowanan ini terjadi dialog menarik diantara beliau berdua.

  

“Awakmu wes wayahi rabi li.”

“Rabi kale sinten Mbah?”

“Yo rabio ambeg seng gelem mok rabi.”

  

Dawuh ini menarik, “Yo rabio ambeg seng gelem mok rabi.” Nikahlah dengan yang mau kau nikahi, jangan menikah hanya dengan angan-anganmu. Pastikan yang kau nikah itu mau menerima apapun dirimu, juga keluargamu. Pernikahan bukan hanya perihal dua individu yang terikat dalam sebuah pernikahan, namun ia mewakili dua tradisi besar dari masing-masing keluarga yang memiliki cara pandang yang berbeda. Menemukan pasangan yang memiliki perbedaan paling minimal, adalah keberuntungan. Memiliki kemampuan untuk menjalinkan setiap entitas yang berbeda dari dua tradisi besar keluarga yang disatukan dalam pernikahan adalah sebuah pencapaian. Pada titik ini, menikah membutuhkan kecerdasan.

  

Pernikahan bukan hanya tentang hubungan ranjang yang kita tahu betul, bagi yang sudah menikah, itu tidak dapat dilakukan penuh 24 jam. Ada pola komunikasi yang harus intens dilakukan, banyak hal yang kurang pantas menjadi terlihat jelas ketika di dalam pernikahan, dan diantara semua kompetensi interpersonal serta konsistensi pencitraan yang harus tetap dijaga, seperti relasi interpersonal lainnya, keterujian mengawal dan mewujudkan visi di belantara kehidupan yang serba percepatan di era ini adalah skill wajib yang harus dimiliki. Ya menikah memang butuh ilmu, tidak angger ae.

  

Kita simulasikan, Tono menikah dengan Tini. Ketika ada dua manusia mengikat janji untuk hidup bersama, maka sudah semestinya ia harus menentukan misi, apa yang menjadi bagian kerja masing. Anggap saja Tini mendapat bagian memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan tugas domestik lainnya. Tono mendapat tugas untuk bekerja di luar rumah, mencari nafkah agar kemudian bisa menjadi penopang keidupan mereka berdua. Ketika Tono dan Tini hanya fokus pada pembagian kerja ini, maka yang terjadi kemudian adalah kehampaan. Layaknya mesin, ia hanya bekerja ketika diarahkan untuk bekerja. Manusia bukan mesin, ketika ia hanya melakukan tugas itu-itu saja dia akan mulai merasa bosan dan lalu mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya selama ini ia lakukan, dan ketika dari hasil muhasabah ini ia merasakan bahwa kehidupan pernikahan ini adalah kesia-siaan, maka yang muncul kemudian adalah perceraian. 

  

Tapi Tono dan Tini bukan mesin. Mereka melaksanakan pembagian kerja ini di dalam sebuah naungan payung berbentuk daun pohon waru. ‘Atas nama cinta’ kata sebagian orang. Tono dan Tini menjalani kehidupan mereka dengan segala kewajiban yang ‘disepakati’ atas nama cinta. Dengan cinta, Tini rela membersihkan rumah, mencuci pakaian, mencuci piring, dan lainnya meski tidak ada seorangpun yang melihat, tidak ada seorangpun yang secara langsung menunjukkan apresiasi. Ia beraktifitas dalam sunyi. Demi cinta. Tono bekerja di luar rumah yang ketika awal bulan ia menerima gaji, dari gajinya ia gunakan untuk untuk membeli motor, mobil, rumah bagus, dan pencapaian terlihat lainnya. Tono melakukan ini demi cinta.


Baca Juga : Tahlilan: Tradisi Islam Lokal Berbasis Spiritualitas

  

Namun ketika Tini semakin lama ia hidup dalam sunyi tanpa apresiasi, ia mulai mempertanyakan urgensi dari melakukan setiap kerja rumah yang selama ini lakukan. Dan ketika Tono mulai merasa bahwa ia mampu menanggung lebih dari yang biasanya ia hadapi, ia akan coba-coba untuk menambah tanggungan baru dengan menikah lagi. Ketika tidak ada titik temu, maka selesailah pernikahan ini. Pada titik ini, sistem nilai yang terbangun ‘atas nama cinta’ dirasa kurang manjur untuk menghadapi tantangan dalam pernikahan. Tini dan Tono butuh sebuah sistem nilai yang bukan hanya komprehensif namun juga tetap progresif untuk melaju ke depan bagi biduk pernikahan mereka. Pada titik ini, mereka membutuhkan perspektif agama. 

  

Dalam Dlo’u al-Misbah, Hadlrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari mengutip Imam Haromain mengatakan bahwa pernikahan adalah domain syahwat, bukan domain qurubah, usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Imam Nawawi, dalam kitab dan paragraf yang sama, mengungkapkan bahwa ketika pernikahan itu terbangun atas niatan ketaatan semisal; mengikuti sunnah, menghasilkan anak, menjaga farji dan matanya, dan niat lainnya yang relevan menurut syariat maka pernikahan tersebut merupakan bagian dari amal-amal akhirat yang kita akan mendapatkan pahala atasnya. Jika tidak didasari atas ketaatan seperti di atas, maka pernikahan tersebut hanya semisal relasi interpersonal lainnya. 

  

Misal, jika diasumsikan Tono dan Tini adalah sosok yang well educated dalam hal agama, mereka akan membangun misinya, tugas hariannya, melalui pembagian tugas paling fundamental dalam agama dan lalu dikompromikan sampai batas yang tidak menimbulkan fitnah. Spesifiknya, kewajiban istri hanya sebatas mempercantik diri untuk dipersembahkan kepada suaminya, selalu berkata “ya” ketika suami menginginkan, menyusui anak, dan semisalnya. Istri tidak wajib memasak, membersihkan rumah, mencuci baju dan piring, dan tugas-tugas domestik lainnya yang biasanya terjadi di rumah tangga di kultur kita. Namun karena sang suami tidak mampu menyewa pembantu untuk membantu menyelesaikan urusan kerumahtanggaan maka sang istri merelakan diri untuk meringankan beban kewajiban suami dengan memasak, membersihkan rumah, mencuci baju dan piring, dan tugas-tugas domestik lainnya yang biasanya terjadi di rumah tangga di kultur kita. Sehingga sang suami memahami betul bahwa apa yang dilakukan sang istri adalah sebuah kebaikan yang dilakukan untuk mengurangi beban suami. Yang dilakukan sang istri sebenarnya adalah sebuah kebaikan dari istri karena itu sejatinya kewajiban bagi suami. Dengan pemahaman ini, sang suami bisa lebih memahami dan menghargai jerih payah istri dengan tidak berbuat semena-mena kepadanya. Diasumsikan pengembangan misi telah selesai maka mereka bisa melangkah ke pengembangan visi.

  

Tono dan Toni paham betul bahwa diantara beberapa rukun islam, ada satu rukun islam yang tidak semua orang telah melakukan, ibadah haji. Mereka mengawali visi rumah tangga mereka dengan berkomitmen untuk bersama-sama dapat mendaftar haji bersama. Mereka menyisihkan setiap kelebihan bulanan mereka untuk mendaftar haji bersama. Mereka berdua, selain melakukan kewajiban harian masing-masing, berkomitmen untuk dalam tiga, empat, tahun, atau semisalnya, sudah dapat mendaftar haji bersama. Setelah paripurna, mereka dapat menurunkan visi pencapaian mereka menjadi umroh bersama, membeli sepeda, mobil, atau yang lainnya yang relevan dalam perspektif agama. 

  

Misal, mereka memutuskan untuk mengganti sepeda mereka karena itu digunakan sebagai alat transportasi, baik untuk bekerja atau tujuan lainnya. Bekerja itu penting karena seorang suami wajib menafkahi keluarganya atau, misal, bagi istri bekerja itu wajib karena itu digunakan untuk menopang perekonomian keluarga setelah mendapat persetujuan dari suami. Apapun itu, kelincahan dalam mensolidkan niat yang relevan dalam perspektif syariat adalah keniscayaan. Karena itulah penting untuk mencari pasangan atas dasar agamanya, bukan yang lain. 

  

Nabi Muhammad SAW dawuh, “Tunkahu Al Mar-atu Li Arba’in; Li Maaliha, wa Hasabiha wa Jamaliha wa Diniha, Fadhfar bi Dzaati Al Dien Taribat Yadaaka.“ Perempuan dinikahi karena empat hal; hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah istri karena agamanya, maka kau akan kaya. Maka penting bagi para jomblo, atau mereka lebih ingin dikenal sebagai ‘yang sedang memilih sendiri’, untuk mencari pasangan karena keteguhan mereka dalam hal agama. Standard agama ini menjadi pondasi mereka dalam mencari jodoh. Namun darimana seorang jomblo bisa mengukur seseorang itu memiliki keteguhan dalam hal agama? Ya penting bagi para jomblo itu untuk memiliki kepahaman yang tinggi juga dalam agama. Terus apa yang harus mereka lakukan? Bahasa santrinya ya ‘ngajio!’. 

  

Tapi hadits itu khitobnya kan kepada laki-laki, bukan perempuan? Bagi yang perempuan ya sama, kalian harus tetap ngaji untuk meningkatkan kompetensi keberagamaan kalian. Dan ketika ada seorang pria yang bisa menerima akhlaq kalian apa adanya, Nabi SAW dawuh untuk mau menerima laki-laki yang seperti ini, yang mampu bersabar dengan akhlaq kalian, yang diasumsikan bahwa kalian ini istiqomah ngaji dan memiliki pemahaman agama yang kuat. Itu tok. Penerimaan seorang suami atas akhlaq kalian menjadi standard Nabi SAW dalam menerima atau menolak setiap lamaran yang datang. Lha pemahaman ini bisa didapat ketika kalian ngaji. 

  

Terus esensi dari tulisan ini apa? Ya Rabio Mblo! Calonnya mana? Bisa nggak saya menafkahi? Bisa nggak Aku dan dia mempertahankan pernikahan ini hingga akhir hayat, dan pertanyaan-pertanyaan asumtif lainnya. Maka biar kalian tidak dihantui oleh asumsi-asumsi yang tak bertuan, mulailah mengaji. Pahami segala sesuatu sedikit demi sedikit, dari yang paling kecil. Tidak usah terburu-terburu, karena jodoh itu takdir. Jika belum waktunya, maka tak akan ada yang sudi mampir. Maksimalkan masa penantian ini dengan mengaji, menguatkan perspektif keagamaan kalian, sehingga ketika kesempatan itu datang kalian tidak gagap, tidak bingung sendiri yang ujung-ujungnya kalian tetap menjadi jomblo abadi. Dengan ikhtiar ini, niscaya jodoh baik yang datang. Amin.