(Sumber : Nur Syam Centre)

Sapardi

Horizon

Oleh: Dr. Lukmono Hadi

(Dosen UPN Yogyakarta)

 

Gajah mati meninggalkan gading, Sapardi pergi meninggalkan lebih dari 50 buku berbagai jenis yang sekemilau gading. Sapardi "pergi selama-lamanya", jasadnya dimakamkamkan, 19 Juli 2020, dalam usia 80. (KOMPAS, 20 Juli 2020, hal.1,5). Namun, Sapardi tak pernah "mati". Ia telah memberi kita puisi, cerpen, novel sejarah, dan teori sastra.

 

Nama lengkapnya, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono. Ia sastrawan sekaligus akademisi Universitas Indonesia. Saya memang jarang membaca sajak yang ditulis Sapardi, tapi saya pernah membaca Kitab "Babad Tanah Jawi" yang diterjemahkan dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dengan bagus oleh Sapardi. Saya masih ingat beberapa bagiannya. Babad Tanah Jawi adalah kisah pertempuran amat bengis yang sambung menyambung, tentang kekuasaan.

 

Syahdan, dalam keadaan sakit tua, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram, memberikan pesannya yang terakhir. Ia menetapkan bahwa salah seorang pangeran (putranya), Ki Adipati Anom, menggantikannya. "Wahai segenap putra-putraku, hormatilah penggantiku."

  

Tak lama kemudian raja wafat. Istana berkabung. Kemudian, Pangeran Mangkubumi (kelak menjadi Sultan Hamengkubuwono I) mengumumkan kepada khalayak ramai: "Wahai orang-orang di telatah Mataram, ketahuilah bahwa kini Pengeran Adipati bertakhta menjadi raja di Mataram. Hai segenap pangeran dan kerabat, siapa yang tidak setuju, mengamuklah, aku ini lawanmu"!.  Mendengar itu orang-orang Mataram, juga para putra pangeran ketakutan. Pangeran Mangkubumi terkenal sakti. Tampaknya bibit-bibit konflik sudah terasa. Ini mulai ketika Pangeran Puger yang lebih tua, tak bersedia menghadap raja baru.

  

Suasana awalnya damai. Sang raja muda cukup bijaksana. Ia tak menggunakan kekerasan terhadap kakaknya sendiri. Ia malah memberi Pangeran Puger kekuasaan di Demak, sebuah wilayah satelit Mataram di pantai utara Jawa. Setelah dari Demak, Pangeran Puger mempromlamirkan kedaulatannya sendiri, menyatakan lepas dari Mataram. Tak ayal, perang pun pecah. Baginda memimpin dengan menunggang kuda putih, ratusan ribu bala tentara Mataram bergerak ke utara: "Dilihat dari kejauhan bagaikan laut tanpa tepi, suaranya bergemuruh, diseling gunung terbakar." Ratusan ribu tombak kadang tampak seperti kilat, kadang-kadang seperti sinar pelangi. 

Baca Juga : Agama dan Politik Kekuasaan: Pak Jokowi dan Doa Politik

    

Akhirnya, pertempuran sengit terjadi. Adipati Demak melawan dengan gagah berani. Ia sakti, demikian cerita Babad Tanah Jawi (yang diterjemahkan dengan bagus oleh Sapardi Djoko Damono), dan sempat membunuh ratusan tentara Mataram. Akhirnya, ia terperangkap jaring dan diringkus. Demak ditaklukkan.

 

Raja tak membunuh kakaknya yang memberontak itu. Ia hanya dicopot dari jabatnya. Namun, sejak itu konflik tak pernah berakhir. Dari Ponorogo, adik Baginda, Pangeran Jayaraga juga berontak. Ia pun kemudian ditumpas dengan perang. Kemudian, Mataram melancarkan ekspansi ke Jawa Timur. Perang penaklukan pun pecah.

 

Setelah membaca kitab  "Babad Tanah Jawi"  versi bahasa Indonesia yang  diterjemahkan oleh Sapardi itu, saya jadi tahu, bahwa sesungguhnya "tanah Jawa" bukanlah sebuah kosmos yang adem terjamin tanpa konflik. Meskipun kitab "Babad"  itu mungkin mengandung "mitologi" atau "folklor", sebenarnya juga menunjukkan sebuah perspektif yang modern di abad ke-18. Sebuah kisah sejarah yang tak menampilkan sifat sakral kekuasaan. Di Jawa, raja-raja bangun dan jatuh. Intrik dan  perang suksesi tak kunjung berakhir.

   

Penguasa dan para pecundang memang menyebut "kehendak Tuhan" ketika mereka memilih sebuah tindakan. Namun, hanya sejenak Tuhan hadir. Di dalam momen itu, hanya dalam ucapan itu. Selebihnya: manusia.

  

Setelah membaca cerita raja-raja Jawa di kitab "Babad Tanah Jawi" terjemahan Sapardi itu,  kita  jadi sadar bahwa tiap kekuasaan politik pada akhirnya hanya menunda kekalahan.

  

Selamat jalan, Pak Sapardi