Aksi Solidaritas Palestina Hingga Pembekuan Akun Warganet Malaysia
InformasiBelakangan ini media sosial banjir dengan berbagai unggahan video dan foto yang menggambarkan kekerasan Israel terhadap Palestina. Tak terelakkan aksi solidaritas umat muslim dunia pun hari ke hari terus membanjir dan menguat. Mulai dari gerakan kritik dan komentar pedas pada Israel di media sosial hingga gerakan donasi peduli Palestina.
Gerakan perlawanan digital, salah satunya dilakukan oleh warganet asal kota Jiran, yaitu Malaysia. Warganet Malaysia bersatu dan kompak memberi perlawan terhadap Israel melalui media sosial. Mulai dari memberi komentar hingga kritik pedas pada setiap platform digital yang dikelola oleh Israel. Serta, mengabarkan pada dunia kekerasan Israel terhadap Palestina dengan menyebarluaskan video dan foto.
Warganet Malaysia pun tak hentinya menyambut informasi IDF (Israel Defense Force), salah satu platform milik Israel dengan ribuan ragam bentuk komentar dan kritik, yaitu mulai dari bentuk pernyataan, gambar, video, hingga meme yang menggambarkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Israel.Sementara, tanggapan tersebut dilakukan oleh warganet Malaysia secara terus berulang-ulang. Hingga tak dapat terbendungi dan tertandingi.
Masih dilansir dari laman Al-Jazeera, gerakan tersebut diduga merupakan volunteer sosial media yang lahir dari kesadaran baru atas realitas sosial politik dunia yang penuh kesenjangan. Sementara, gerakan kesadaran baru sosial media tersebut juga termasuk perhimpunan yang tergolong random. Hanya saja jumlahnya yang tergolong cukup masif hingga keberadaan gerakan tersebut tak terkendalikan dan terbendung.
Penyingkiran Suara Rakyat Palestina
Sayangnya, perlakukan tak adil terjadi pada pegiat HAM rakyat Palestina, salah satunya yaitu warganet Malaysia. Bahkan, tak sedikit akun warganet Malaysia yang dibekukan. Hal itu datang dari perusahaan dan regulator sosial media yang mengatas namakan standard komunitas dengan aksi pembekuan dan pembungkaman.
Berdasarkan unggahan Middle East Eye melaporkan bahwa terdapat ratusan akun YouTube, Facebook, dan Instagram pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) Palestina hilang dan atau dibekukan karena memviralkan kejahatan Israel dalam kasus Sheikh Jarrah yang memicu perlawanan. Demikian menurut para profesor di salah satu universitas menyatakan bahwa pembekuan tersebut dilakukan sebagai salah satu cara untuk menyingkirkan suara yang mendukung Palestina.
"Perusahaan dan regulator media sosial secara sistemik menyingkirkan suara-suara rakyat Palestina dari platform media sosial dengan cara aksi penghapusan dan pembungkaman," ujar Professor Maha Nassar Universitas Arizona dikutip dari laman Al Jazeera, (13/05).
Dilansir dari laman Al Jazeera, beberapa platform media sosial Israel dan pendukung Israel yang dibanjiri komentar dan kritik pedas oleh pegiat HAM rakyat Palestina, yaitu akun Facebook IDF (Israel Defense Force), Jerussalam Prayaers Team, Twitter Mike Pence dan Gal Gadot. (Nin)

