Bahaya dan Solusi Atasi Toxic Masculinity

Informasi

Anggapan seorang laki-laki yang selalu harus bersifat kuat secara fisik, emosional, dan agresif secara perilaku dapat berbahaya. Kondisi seperti ini yang disebut dengan Toxic Masculinity. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Prof Alimah Qibtiyah Guru Besar Kajian Gender Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bahwa maskulinitas bukan hanya tentang berperilaku seperti 'laki-laki'. Melainkan, juga melibatkan tekanan yang ekstrem yang dapat dirasakan beberapa laki-laki untuk bertindak dengan cara yang berbahaya.

 

Alimah juga mengatakan bahwa kumpulan sifat maskulin ditujukan untuk mendorong adanya dominasi, kekerasan, merendahkan perempuan, hingga homofobia. Sebab, memang orang yang terjangkit Toxic Masculinity menganut paham bahwa segala bentuk kekerasan, agresif, dan menutup emosi, seperti sedih dan menangis adalah sifat wajib yang harus dimiliki laki-laki untuk menjadi laki-laki yang seutuhnya.

   

"Adapun beberapa standar maskulinitas yang banyak dipahami, seperti kekuatan, kekuasaan, agresif, aksi, penuh kendali, mandiri, kepuasan diri, dan kesetiakawanan," ujarnya dalam Webinar yang diselenggarakan oleh Dema Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel, (22/08).

 

Tak hanya itu, menolak apapun yang dianggap feminin, seperti menolak menerima bantuan juga termasuk dalam komponen Toxic Masculinity. Selain itu, juga memiliki anggapan  sifat wajib yang harus dilakukan, yaitu harus bekerja. Seperti yang disampaikan Alimah bahwa anggapan masyarakat hanya laki-laki yang menjadi pencari nafkah yang utama untuk mendapatkan kekuasaan dan status hingga mendapatkan rasa hormat dari orang lain.

 

"Laki-laki mempunyai sifat menolak menerima bantuan karena menganggap dirinya kuat dan mampu dalam melakukan suatu hal," ucapnya.

 

Kekerasan dan Sifat Menguasai

 

Adapun ciri-ciri Toxic Masculinity lainnya, yaitu cenderung menampakkan sikap kasar terhadap orang lain dan mendominasi orang lain. Demikian disampaikan Alimah bahwa tak membela hak perempuan dan kaum marjinal juga merupakan sifat maskulin. Bahkan sifat maskulin lainnya yang cukup ekstrem, yaitu menganggap keren tindakan-tindakan yang berisiko, yaitu berkendaraan dalam kecepatan tinggi, minum alkohol, dan mengonsumsi obat-obat terlarang.

 

"Sedang, menganggap kegiatan memasak, menyapu rumah, berkebun, dan mengasuh anak adalah tugas perempuan. Bahkan tak sedikit laki-laki yang beranggapan bahwa semua itu hanya kewajiban bagi seorang perempuan. Padahal tidak begitu," lirihnya.

 

Beberapa tindakan yang muncul akibat Toxic Masculinity diantaranya, yaitu selalu ingin menjaga dan melindungi perempuan sebab dianggap lemah. Sedangkan, maskulin menganggap dirinya kuat hingga terus bekerja bagai mesin dan jarang beristirahat. Demikian memaksa kekuatan fisik sampai ambang batas.

 

"Bahkan melakukan kekerasan sebagai ekspresi pemahaman kelaki-lakian, tidak fleksibel dalam peran gender, dan menghindari bicara emosi sehingga terkena problem kesepian," terangnya.

 

Progresif Dalam Persoalan Gender

 

Demikian cara mengatasi Toxic Masculinity, yaitu siapapun termasuk laki-laki berhak mengekspresikan semua emosi dasar, seperti senang, sedih, marah, dan takut. Selain itu, dengan cara tak lagi melontarkan kalimat sexist, seperti merendahkan laki-laki dengan kalimat 'cara jalanmu seperti perempuan' atau 'cara  berbicaramu seperti perempuan'.

 

"Serta, meyakini dan mengimplementasikan pemikiran egaliter dan progresif dalam persoalan gender," pungkasnya. (Nin)