Dakwah Digital : Peluang, Tantangan, dan Rujukan
InformasiDi era digital saat ini siapapun bisa bicara soal agama. Meskipun tak memiliki latar belakang ilmu pengetahuan agama. Hal tersebut menjadi salah satu yang mengakibatkan terpecah-belahnya otoritas agama.
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Lilis Fauziah Balgis Komisi Perempuan MUI Bogor, beberapa dari peluang dan tantangan dakwah di era digital, yaitu siapapun bisa berbicara soal agama dan tak ada seorang pun yang dapat menghalangi untuk menyebarluaskan apapun di media sosial. Hingga yang terjadi adalah tak ada istilah otoritas agama yang tunggal.
"Meskipun tak memiliki latar belakang pengetahuan agama. Yang terpenting di era digital saat ini follower terbanyak menjadi pemenang," ucap pendakwah digital tersebut dalam acara Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya, (27/08).
Tak hanya itu, kata Lilis, era digital saat ini, media sosial juga digunakan sebagai medium untuk menyebarluaskan paham radikalisme dan ekstremisme. Demikian yang disampaikan oleh Lilis bahwa kehadiran media sosial memungkinkan semua orang untuk menyampaikan informasi kepada siapapun termasuk yang berkaitan dengan agama."Menyebarluaskan ajaran Islam tanpa batas," ujarnya.
Mudah Dipahami dan Tak Bertele-tele
Penyampaian pesan dakwah di ruang digital berbeda dengan penyampain pesan dakwah tatap muka secara langsung dengan jamaah. Penyampaian pesan dakwah di ruang digital lebih mudah dan tak bertele-tele. Seperti yang disampaikan Lilis bahwa dakwah di ruang digital berbeda dengan dakwah di balik mimbar.
"Dakwah digital sangat beda dengan khutbah Jum\'at dimana orang tidak punya pilihan kecuali mendengarkan khutbah sang khatib, suka atau tidak suka. Dakwah di media sosial harus lebih mudah dipahami dan tidak bertele-tele," kata Lilis.
Hal ini yang akhirnya menjadi tantangan dakwah di ruang digital. Sebagaimana kata Lilis bahwa sudah seharusnya para pendakwah dapat menyesuaikan dakwahnya dengan perkembangan zaman. Dengan turut memanfaatkan media sosial dalam menyebarkan ajaran agama Islam.
"Thomas W Arnold dalam buku The Preaching of Islam menyebut para pendakwah memiliki peran besar dalam penyebaran agama Islam," tuturnya.
Rujukan Media Sosial Bukan Pesantren
Peluang lainnya, yaitu media sosial saat ini juga kerap menjadi rujukan dalam mempelajari ilmu agama. Sebagaimana kata Lilis, khususnya generasi muda menjadikan ruang digital sebagai rujukan agama.
"Generasi millenial dan Z menjadikan digital sebagai rujukan agama bukan lagi pesantren,"pungkasnya (Nin)

