(Sumber : Doc. Istimewa)

Menenun Solusi Membangun Kemandirian Ekonomi di Tengah Pandemi

Informasi

Ekonomi kreatif belakangan ini menjadi salah satu solusi untuk tetap bertahan di tengah terus berkembangnya teknologi dan khususnya di tengah pandemi. Masyarakat dituntut untuk bisa kreatif dalam menghasilkan sebuah karya ataupun produk. Demikian halnya yang dilakukan oleh masyarakat desa Sukarara Lombok Tengah yang hingga kini masih terus mempertahankan dunia kreativitasnya.

 

Kreativitas yang masih terus dilakukan oleh masyarakat desa Sukarara Lombok Tengah hingga kini, yaitu  menenun dengan alat tradisional yang dibuat secara manual dengan tangan. Berdasarkan hasil penelitian Baiq El Badriati, kegiatan tersebut dilakukan oleh sebagian besar perempuan di Desa Sukarara dengan jumlah 1791 orang. Hanya saja semangat masyarakat Sukarara Lombok Tengah dalam menenun tersebut masih menimbulkan tanda tanya.

 

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh peneliti, masyarakat desa Sukarara begitu semangat menjaga warisan budaya, yaitu menenun. Hingga kegiatan menenun pun terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Sedang, dorongan untuk berkreasi tak dapat dikatakan seutuhnya merupakan dorongan untuk melestarikan warisan nenek moyang.

 

"Spirit atau etos kerja mereka dalam menjalani profesinya tersebut apakah benar-benar dilatarbelakangi oleh motif budaya semata atau bahkan ada motif-motif tertentu yang justru membuat mereka merasa dituntut untuk selalu bekerja," ujarnya.

 

Dalam penelitian kali ini, Baiq menjelaskan, dirinya tertarik untuk mencermati perihal etos kerja muslimah penenun songket di Desa Sukarara Lombok Tengah. Demikian mencermati produktivitas dan pengaruh dalam membentuk kemandirian muslimah penenun di Sukarara.

 

Tiga Tipologi Penenun

 

Setelah dilakukan observasi oleh peniliti ditemukan bahwa terdapat beberapa tipologi penenun, yaitu pertama, penenun sebagai pemodal atau swadaya pribadi. Penenun ini merupakan tipe penenun yang menggunakan modal sendiri dan memilih tidak mau berhutang dengan kosekuensi beban hutang yang berat. Kedua, tipe muslimah penenun yang tergabung dalam komunitas bebalu atau janda. Tipe penenun satu ini adalah tipe muslimah penenun yang terbentuk karena untuk bekerja bersama-sama saling membantu dan membahu dalam menenun.

 

"Terakhir muslimah penenun sebagai karyawan atau pekerja pada artshop/home industry. Biasanya bekerja berdasarkan SOP perusahaan," terangnya.

 

Berdasarkan hasil akhir yang disampaikan peneliti, etos kerja muslimah penenun songket di Desa Sukarara memiliki etos kerja yang tinggi. Hal tersebut ditunjukkan melalui sikap disiplin, sabar, tekun, dan teliti. Ia juga menyampaikan bahwa etos kerja dipengaruhi oleh beberapa motivasi.

 

"Religiusitas, ekonomi, budaya, dan aktualisasi diri," ucapnya.

 

Selalu Produktif dan Kreatif

 

Perihal etos kerja, Peneliti pun menjelaskan bahwa etos merupakan karakteristik atau sikap seseorang yang bersifat khusus baik secara individu maupun kelompok individu.

 

Selain itu, juga ditemukan bahwa produktivitas muslimah penenun songket di desa Sukarara sangat tinggi. Ha tersebut ditunjukkan melalui beberapa hal, yaitu peningkatan hasil yang dicapai, kemampuan melakukan pekerjaan, semangat kerja, pengambangan diri, mutu, efesiensi dan efektivitas. Sedang, pengaruh etos kerja dan produktivitas terhadap kemandirian ekonomi masyarakat desa Sukarara meliputi beberapa hal, yaitu pemodal kerja, pencari nafkah, tulang punggung keluarga,memiliki kekayaan dalam binsis,mampu mengelola keuangan, siap mental terhadap gangguan finansial, kreatif dan inisiatif, dan mitra suami atau istri.

 

Penelitian disertasi Baiq El Badriati mahasiswi S3 UIN Sunan Ampel Surabaya telah diujikan tepat pada 25 Mei 2021. Dengan beberapa tim penguji, yaitu Prof Dr Aswadi selaku Ketua, Dr. H. Muhammad Lathoif Ghozali Sekretaris, Prof. Dr Nur Syam Promotor, Dr. Sirajul Arifin Promotor, Prof. Dr Babun Suharto Penguji, Dr. H. Iskandar Ritonga, dan Dr. H. Nurhayati Penguji.(Nin)