(Sumber : siedoo)

Persoalan Ketidaksiapan Menjadi Orang Tua dan Dampaknya pada Pembangunan

Informasi

Eva Putriya Hasanah 

  

Pertanyaan dan tekanan mengenai memiliki anak seringkali menjadi topik yang sensitif bagi banyak pasangan. Meskipun memiliki anak adalah pilihan pribadi dan bergantung pada berbagai faktor, banyak orang yang belum siap menjadi orang tua seringkali menghadapi tekanan sosial yang tidak menyenangkan. Fenomena ini terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

  

Banyak pasangan yang belum merasa siap untuk memiliki anak, baik itu karena alasan finansial, karier, atau bahkan alasan pribadi yang lainnya. Namun, mereka seringkali diberikan pertanyaan yang memburu-burui dan tekanan dari lingkungan sekitar mereka. Fenomena ini menunjukkan kurangnya pemahaman dan penghargaan terhadap pilihan hidup seseorang.

  

Salah satu faktor yang bisa menjadi pertimbangan seseorang dalam memilih untuk memiliki anak adalah terkait dengan kesiapan pasangan untuk menjadi orang tua yang baik dan tidak ingin gagal dalam mendidik anak-anak mereka. Data menunjukkan bahwa rata-rata IQ orang Indonesia tercatat sebagai yang paling rendah di Asia Tenggara. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan masyarakat dalam menghadapi tanggung jawab sebagai orang tua. Ketidaksiapan seseorang memiliki anak bisa berdampak pada masa depan anak yang lahir ke dalam lingkungan yang belum siap, baik dalam hal pendidikan maupun kesejahteraan mereka.

  

Selain itu, masalah stunting juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi ketidaksiapan seseorang untuk memiliki anak. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang ditandai dengan pertumbuhan fisik yang terhambat pada anak. Data menunjukkan bahwa jumlah kasus stunting di Indonesia masih cukup tinggi, hasil survei menunjukkan satu dari lima anak Indonesia mengalami stunting. Masalah ini erat kaitannya dengan faktor gizi dan kesehatan yang buruk. Ketika seseorang menyadari betapa pentingnya memberikan perlindungan dan pemenuhan kebutuhan yang baik bagi anak, mereka mungkin memilih untuk menunda keputusan memiliki anak sampai mereka merasa lebih siap.

  

Budaya Siklus Menikah, Setelahnya Harus Segera Punya Anak?

  

Pernikahan dan keinginan untuk memiliki anak adalah dua hal yang seringkali dianggap tak terpisahkan dalam budaya kita. Namun, apakah benar-benar ada kewajiban untuk memiliki anak segera setelah menikah? Apakah siklus ini masih relevan di zaman modern ini? 

  

Pada masa lalu, memiliki anak segera setelah menikah dianggap sebagai langkah yang wajar dan diharapkan oleh masyarakat. Hal ini karena adanya ekspektasi bahwa pasangan yang menikah harus membentuk keluarga dan melanjutkan garis keturunan. Tetapi, perubahan sosial dan perkembangan budaya telah membawa kita ke zaman di mana pilihan hidup pasangan tidak hanya terbatas pada memiliki anak.


Baca Juga : Dramaturgi Dakwah Millennial

  

Penting bagi kita untuk mengubah kultur yang mengasumsikan bahwa memiliki anak adalah satu-satunya jalan yang benar setelah menikah. Setiap pasangan memiliki kebebasan untuk memutuskan kapan mereka ingin memiliki anak. Beberapa pasangan mungkin ingin menikmati masa-masa pernikahan mereka tanpa beban bertanggung jawab sebagai orangtua terlebih dulu, sementara yang lain mungkin memiliki pertimbangan pribadi atau profesional yang membuat mereka memilih untuk menunda kehamilan.

  

Kita juga perlu menghargai bahwa tidak semua pasangan memiliki kesempatan atau kemampuan untuk memiliki anak secara fisik atau biologis. Mengharapkan atau menekan pasangan yang mengalami kesulitan dalam hal ini hanya akan menambah beban emosional dan mental yang mereka hadapi.

  

Mengimbangi Pertumbuhan Populasi dengan Kesiapan yang Matang

  

Kesiapan pasangan dalam memiliki anak dan mendidik mereka dengan baik adalah sebuah persoalan yang penting dan kompleks. Ketidaksiapan seseorang memiliki anak bukan hanya menjadi masalah individu, tetapi juga berdampak pada pembangunan masyarakat. Ketika lebih banyak pasangan memutuskan untuk menunda memiliki anak, hal ini berarti populasi anak-anak yang lahir menjadi lebih sedikit. Populasi yang rendah dapat berdampak pada pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya suatu negara. Lalu, apakah dampaknya selalu buruk?

  

Bonus demografi merujuk pada keadaan di mana jumlah penduduk usia produktif dalam suatu negara melebihi jumlah penduduk yang bergantung pada mereka. Dalam teori ekonomi, bonus demografi dianggap sebagai peluang emas bagi negara untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang pesat. Namun, hal ini tidak selalu berdampak baik jika tidak diimbangi dengan kesiapan yang matang.

  

Melihat contoh Pakistan, negara ini telah menyalip Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun, pendapatan perkapitanya tidak sampai sepertiga dari  Indonesia, bahkan negara nya berkali-kali hampir bangkrut. Lebih dari 40 persen penduduknya tidak bisa baca dan tulis. Hal ini menunjukkan bahwa memiliki populasi yang besar saja tidak cukup untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang signifikan. 

  

Selain itu, India juga telah melampaui China sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia. Namun, India masih menghadapi masalah kemiskinan yang besar dan pertumbuhan ekonominya tidak sampai seperempat ukuran ekonomi China. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun memiliki populasi yang besar dapat memberi keuntungan dalam hal sumber daya manusia, namun tanpa kesiapan yang matang dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan pembangunan sosial, potensi bonus demografi tidak dapat sepenuhnya dimanfaatkan.

  

Penting untuk memahami bahwa bonus demografi bukanlah jaminan keberhasilan ekonomi. Dalam menghadapi bonus demografi, negara harus mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa populasi yang besar didukung oleh kebijakan dan program yang tepat. Ini termasuk investasi dalam pendidikan dan pelatihan untuk mempersiapkan tenaga kerja yang terampil, menciptakan lapangan kerja yang cukup, meningkatkan akses ke layanan kesehatan dan sanitasi, serta mempromosikan inklusi sosial dan ekonomi.

  

Selain itu, perlunya diversifikasi ekonomi juga menjadi penting. Tidak hanya bergantung pada sektor tertentu, negara harus mengembangkan sektor ekonomi yang beragam sehingga dapat menciptakan lebih banyak peluang kerja dan meningkatkan produktivitas. Ini akan membantu mengurangi tingkat kemiskinan dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.