Betapa pun Kecilnya Para Alumni IAINSA Bermanfaat Bagi Umat
KhazanahTanpa terasa usia kita sudah semakin beranjak dewasa. Jangan sebut tua. Tua itu jika sudah di atas 80 tahun. Padahal rata-rata yang mengadakan reuni alumni IAIN Sunan Ampel kira-kira 65 tahun. Ya ada yang sudah usia 82 tahun, Angkatan tahun 1964, dan ada yang Angkatan 1983. Rata-rata memang sudah berumur akan tetapi masih tampak sehat wal afiat. Masih waras wiris.
Mereka inilah yang pada Hari Ahad, 27 Agustus 2023, mengadakan kegiatan reuni. Acara ditempatkan pada Pondok Pesantren Bahrul Huda di Tuban. Sebuah pesantren yang didirikan oleh KH. Fathul Huda, mantan Bupati Tuban dua periode, tahun 2011 sampai 2021. Pondok ini memiliki Lembaga Pendidikan mulai dari TK, SD, SMP dan SMA. Ada Sebagian siswanya yang mondok di pesantren. Kira-kira sebanyak 500 orang yang menetap di pesantren dan 1000 lainnya tidak. Lembaga pendidikan ini merupakan lembaga pendidikan unggulan di Kabupaten Tuban dengan mengusung misi pendidikan bagi kelas menengah ke atas. Tentu ada yang dari kelas menengah ke bawah dengan skema yang ditetapkan oleh kepempimpinan lembaga pendidikannya.
Cukup banyak yang hadir, 136 orang. Ada yang menggunakan kendaraan pribadi dan ada yang menggunakan bus dari Surabaya ke Tuban. Gayeng juga. Lama tidak bertemu rasanya seperti berada di masa lalu. Ada banyak yang wajahnya masih bisa dikenal tetapi namanya sudah lupa. Kala disebut namanya, maka langsung menerawang pikiran kita ke masa lalu, masa ketika masih sama-sama belajar di IAIN Sunan Ampel.
Benar apa yang dinyatakan oleh Pak Isa Anshori, sebagai pembawa acara special yang menyatakan bahwa “di forum ini sepertinya kita kembali pada masa kita kuliah dulu, jadi tidak ada yang bergelar professor, pejabat, dosen, guru, pengusaha dan sebagainya. Akan tetapi kita memiliki kesamaan sebagai alumni IAIN Sunan Ampel. Di forum ini kita dapat kangen-kangenan tentang apa yang pernah kita lakukan di masa lalu, seperti masa perpeloncoan, siapa panitia yang paling keras, tetapi semuanya dilakukan untuk memperkuat mental para mahasiswa. Dan terbukti hasilnya adalah kita semua.” Sebagai bentuk pelestarian tradisi, maka juga dilakukan pembacaan tahlil yang ditujukan kepada muassis IAIN Sunan Ampel dan juga para sahabat yang sudah mendahului ke alam kubur yang dipimpin oleh Dr. H. Sujak, MAg.
Acara ini disusun dengan pidato masing-masing perwakilan alumni. Alumni Fakultas Syariah diwakili oleh Prof. Dr. HM. Ridlwan Nasir, MA, Fakultas Dakwah diwakili oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, MAg., Alumni Fakultas Adab diwakili oleh Ustadzah Dra. Sakinah Ma’shum, Fakultas Ushuluddin diwakili oleh Drs. Wahib Hasan, dan Fakultas Tarbiyah diwakili oleh Drs. H. Maschun. Yang pidato selaku Shahibul Bait adalah KH. Fathul Huda, dan yang mewakili shahibul inisiator adalah Abdul Ghafar Nafchuka, alumni Fakultas Dakwah IAINSA.
Prof. Ridlwan menyatakan bahwa “alumni IAIN Sunan Ampel sudah membuktikan bahwa apapun gelarnya ternyata yang terpenting adalah memiliki peran social yang memadai. Para alumni IAIN sudah menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat telah dilakukan.” Sementara itu, Prof. Ali Azis menyatakan bahwa “andaikan kita akan mati besuk maka kita harus tetap berpikir untuk berperan bagi masyarakat. Hidup masih akan berlangsung oleh karena itu mari terus kerjakan hal-hal yang baik untuk diri dan masyarakat.” Selain itu, Bu Sakinah juga bercerita tentang “mahasiswi masa lalu itu berpakaian sangat sopan, sementara sekarang nyaris tidak ada bedanya dengan perempuan pekerja di perusahan atau lainnya. Agar cara berpakaian perempuan UINSA (sekarang ini) dipikirkan yang terbaik.” Pak Ghafar mengawali sambutan alumni juga menyatakan: “kedisiplinan adalah kunci utama untuk menggapai cita-cita. Kita ini bisa berada di dalam posisi kita masing-masing karena menjalankan kedisiplinan.\" Pak Ghafar bercerita tentang stafnya yang akan menikah dan dimintanya untuk membaca Surat Alfatihah, karena belum lancar, maka dimintanya untuk belajar surat Alfatihah sampai benar dan jika sudah benar, maka akan dijinkan menikah. Ternyata dengan kedisplinan hanya membutuhkan waktu yang sangat pendek untuk bisa membacanya dengan benar.
Saya diminta juga untuk memberikan ceramah, tentu saja karena saya orang Tuban, sehingga diperlukan untuk mengucapkan sepatah dua patah kata di dalam acara ini. Saya sampaikan tiga hal yang mendasar, yaitu: pertama, perlu bersyukur karena nikmat sehat. Tidak terbayangkan bahwa ada di antara alumni IAIN Angkatan tahun 1964, Kiai L. Murtafik Sufri, yang masih sehat di usia yang ke 82. Sungguh kita semua bahagia melihat guru kita masih sehat wal afiat. Sama seperti yang lain Angkatan 74 dan sebagainya yang juga masih sehat wal afiat. Ini semua kira-kira disebabkan do’a yang diijabah oleh Allah SWT, “Allahumma thawwil umurana wa shahhih ajsadana wa nawwir qulubana wa tsabbit imanana.” Sungguh kebahagiaan di dalam hati akan muncul kala melihat para sahabat dan guru kita dalam keadaan segar bugar dan sehat wal afiat.
Kedua, saya termasuk orang yang menolak pemikiran ahli psikhologi dan pengembangan Sumber daya manusia (SDM), Dale Coleman yang menyatakan bahwa Pendidikan formal atau hard skilled hanya menyumbang 20% kesuksesan seseorang, dan yang 80 persen disumbang oleh soft skilled. Ijazah itu hanya menyumbang 20%, sedangkan yang menentukan adalah soft skilled atau talenta dan pengetahuan dan pengalaman praksis yang didapatkannya di dalam kehidupan. Dale Coleman menyatakan ada banyak variable yang menentukannya, akan tetapi jika diringkas menjadi tiga saja, yaitu kemampuan spiritual atau keyakinan bahwa ada factor yang membuat berhasil di luar hard skilled-nya. Maka bisa dinyatakan bahwa semakin tinggi spiritualitasnya akan semakin berpeluang kesuksesannya. Lalu dimensi komunikasi, seseorang akan sukses jika memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan benar, maka semakin bagus kemampuan komunikasinya akan semakin berpeluang berhasil dan yang penting adalah kemampuan kolaborasi atau bekerja sama artinya bahwa seseorang akan sukses jika kemampuan kerja samanya optimal. Semakin baik kemampuan kerjasamanya akan semakin berpeluang keberhasilannya.
Ketiga, kita juga bersyukur sebab keluarga kita masih berada di dalam pemahaman dan pengamalan beragama yang wasathiyah. Masih NU atau Muhammadiyah. Kita harus mempertahankan Islam wasathiyah ini sebab Islam dengan ciri seperti ini yang akan menyelamatkan Indonesia. Pada masyarakat yang plural dan multicultural, maka yang cocok adalah dasar negara dan bentuk negara sebagaimana yang digagas oleh para founding fathers negeri ini. Pancasila dan NKRI adalah harga mati, dan yang bisa menjadi basis dasar pemikiran dan pemahamannya adalah Islam yang rahmatan lil alamin.
Wallahu a’lam bi al shawab.

