(Sumber : nursyam centre)

Khaul Syekh Boqa-Baqi: Wali dalam Islamisasi Pedesaan

Khazanah

Kita harus bersyukur di hadapan Allah SWT karena telah mengirim orang-orang terbaik di dalam pemahaman dan pengamalan Islam di Nusantara.  Melalui perannya dalam menyebarkan ajaran Allah SWT, agama Islam, kepada umat manusia maka Islam berkembang pesat di Indonesia. Kita ini bisa menjadi pemeluk Islam yang taat tentu merupakan sumbangan tidak bisa dinilai harganya dari para waliyullah dimaksud. Nusantara atau Indonesia sekarang bisa menjadi wilayah dengan pemeluk Islam terbanyak adalah karena kontribusi para waliyullah yang secara ikhlas telah mengabdikan hidupnya untuk masyarakat Indonesia di masa lalu.

  

Inilah inti dari ceramah saya pada acara “Sedekah Bumi dan Khoul Syekh Boqa Baqi”, salah seorang waliyullah yang menjadi penyebar Islam di telatah pedesaan, khususnya di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo Merakurak Tuban. Acara ini diselenggarakan di area terbuka makam di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Merakurak, pada 27 Agustus 2022. Sebagaimana biasa acara pengajian ini diselenggarakan ba’da Isya’, didahului dengan shalawatan, dan acara ceramah  dilaksanakan pada jam 21.00-23.30 WIB. Ceramah inti oleh KH. Agus Said dari Pondok Pesantren An Najah Bangilan, Tuban. Acara ini diikuti oleh kurang lebih 200 orang lelaki dan perempuan. Kebanyakan adalah anggota Jam’iyah Tahlilan Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Merakurak. 

  

Pada intinya, saya menyampaikan tiga hal, yaitu: Pertama, kita hendaknya bersyukur kepada Allah SWT karena bisa menjadi bagian dari  umat Islam di Indonesia. Untuk berislam, ada beberapa cara yang diperoleh. Yaitu melalui “keturunan”. Karena orang tua kita Islam maka kita bisa menjadi Islam. Kita semua ini menjadi umat Islam karena factor keturunan. Yang lain menjadi Islam karena “usaha” sehingga bisa menjadi umat Islam. Jadi ada orang Islam karena keturunan dan ada orang Islam karena usaha.  

  

Di antara  yang menjadi Islam karena usaha, contohnya adalah Leopold von Weiss, seorang sarjana dari Eropa Timur yang kemudian menjadi Islam karena belajar Islam dan memperoleh hidayah dari Allah SWT. Setelah menjadi Islam  namanya berganti menjadi Mohammad As’ad. Dia menjadi bagian umat Islam karena usahanya untuk mempelajari Islam.  Leopold von Weiss kemudian menulis pengalaman untuk menjadi Islam dalam rekaman pengalamannya yang tertuang dalam buku berjudul “The Road to Mecca”, atau “Jalan Menuju Mekkah”.

  

Lalu ada juga orang yang belajar Islam tetapi hanya menjadi “pengetahuan”. Contohnya adalah Annemarie Schimmel, orang yang belajar Islam dan memahami Islam dengan sangat baik, seperti memahami kitab-kitab klasik, hafal Matan Alfiyah, berbahasa Arab dengan sangat baik tetapi tidak menjadikannya sebagai Muslimah. Bahkan pamanda Nabi Muhammad SAW, orang yang sangat dekat dengan Baginda Nabi Muhammad SAW, bahkan dituntun sendiri oleh Nabi Muhammad SAW untuk menjadi Muslim tetapi menolak, sehingga Abu Thalib wafat dalam keadaan tidak Islam. Dengan demikian sangat pantas kita bersyukur kepada Allah SWT karena bisa menjadi Islam karena faktor keturunan dan lingkungan.

  

Kedua, hari ini kita memperingati atas jasa leluhur kita, melalui acara khaul. Acara ini dilakukan  setiap tahun, pada bulan yang sama. Bulan Muharram. Siapa sebenarnya Kanjeng Eyang Syekh Al Baqi atau dalam bahasa local disebut Mbah Boka Baki.  Saya tertarik melakukan kajian tentang siapa Syekh Al Baqi. Akhirnya saya temukan satu symbol atau lambang segi tiga terbalik pada nisannya. Sebagai peneliti tentu ini merupakan temuan berharga. Dari sini lalu saya berupaya untuk menelusuri secara arkheologis. Dan akhirnya ditemukan bahwa lambang tersebut ada pada beberapa makam wali. Misalnya Makam Syekh Jumadil Kubro, makam Kanjeng  Sunan Ampel, makam Kanjeng Sunan Bonang, makam Kanjeng Sunan Drajat.  Sementara  itu makam  Mbah  Banjar dan Mbah Mayang Madu tidak didapatkan tanda atau lambang tersebut. Padahal makam-makam tersebut berada dalam satu wilayah di petilasan Drajad. 

  

Berdasarkan atas kajian ini, maka dipastikan bahwa Syekh Boqa Baqi adalah salah seorang waliyullah, yang memiliki hubungan genealogis atau keturunan dari para waliyullah lainnya. Di antara makam lain di Merakurak,  Mbah Gajah atau Syekh Thahir memiliki genealogi kekerabatan dengan para wali lainnya. Selain itu juga didapati  penelusuran lewat metode barzakhi atau penelusuran berbasis pada kekuatan batin untuk melihat masa lalu, khususnya para waliyullah. Jika metode ini yang digunakan, maka yang bisa memahami hanyalah orang tertentu yang waskita dengan dunia masa lalu. Melalui penelusuran artefak atau bukti-bukti nisan tersebut, maka kepastiannya lebih memungkinkan untuk dikaji lebih jauh.

  

Ketiga,  acara khaul itu dilakukan dalam kerangka untuk memahami peran penting seseorang, bisa waliyullah, para ulama atau kyai yang di masa lalu memiliki peran penting dalam kehidupan sosial keagamaan. Acara semacam ini bukan dimaksudkan untuk meminta pertolongan kepada orang yang diyakini sebagai wali atau mengkultuskan seorang alim, tetapi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah yang memberikan peran tersebut kepada orang tepat. Jadi, jika seseorang nyekar atau ziarah ke makam para wali juga jangan diartikan sebagai permohonan kepada wali dimaksud, akan tetapi untuk berdoa kepada Allah melalui washilah atau perantaraannya. Logikanya sederhana saja, bahwa para waliyullah itu orang yang tingkat kedekatannya kepada Allah luar biasa, sehingga di kala kita meminta kepada Allah melalui perantaraannya, maka peluang untuk terkabul itu lebih besar. Sekali lagi peluang bukan kepastian. Karena yang memiliki kepastian hanyalah Allah SWT. 

  

Acara sedekah bumi dan khaul bagi orang NU tentu merupakan suatu hal yang dianggap sebagai kebolehan, meskipun ada kelompok lain yang mengharamkan atau membidh’ahkan. Mereka yang menyatakan adalah kelompok Islam ala ahli Sunnah dan bukan kelompok Islam ala ahli sunnah wal jamaah. Kita ini adalah penganut Islam ala ahli sunnah wal jamaah. Dan acara seperti ini tentu kebolehan. Melalui acara khaul ini, kita bisa mendengarkan taushiyah kyai dan juga silaturahmi dengan sesama umat Islam. Jadi acara ini perlu dilanjutkan sampai kapan pun.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.