Megengan Sebagai Tradisi Persiapan Menuju Puasa
KhazanahSaya tidak menduga bahwa tulisan saya tentang “ Tradisi Megengan di Jawa” yang saya tulis pada tanggal 28 September 2009 di nursyam.uinsby.ac.id ternyata masih tersimpan di Google sehingga masih bisa dibaca orang yang memerlukan tentang fenomena megengan tersebut. Tiba-tiba saja saya dikontak oleh Mas Bintang dari Radio Suara Surabaya terkait dengan upacara tradisional orang Jawa dalam menyambut bulan puasa atau bulan Ramadlan. Mas Bintang membaca tulisan saya tentang megengan dan ingin memperoleh penjelasan secara lebih mendalam. Siaran radio ini diselenggarakan pada hari Jum’at 1 April 2022, pukul 20.15 WIB.
Saya jelaskan tiga hal terkait dengan “megengan”, yaitu: pertama, megengan berasal dari Bahasa Jawa, megeng yang secara harfiah diterjemahkan sebagai menahan. Misalnya megeng nafas artinya menahan nafas. Megeng babakan hawa sanga artinya adalah menahan atas sembilan lubang dalam diri manusia, yaitu lubang mulut, dua lubang telinga, dua lubang hidung, lubang anus, lubang kelamin, dan dua lubang mata. Di dalam tradisi Jawa, maka ketika seseorang melakukan semedi atau upacara penghayatan atas Gusti Allah dengan segenap jiwa, raga dan rohnya, maka semua lobang tersebut harus ditutup atau ditahan agar tidak melakukan kesalahan.
Puasa dalam Bahasa Jawa atau ramadhan dalam Bahasa Arab adalah upacara ritual yang diselenggarakan untuk menahan hawa nafsu dari nafsu kebinatangan atau makhluk biologis menuju nafsu muthmainnah atau nafsu yang berkecenderungan kepada Ketuhanan. Sebagai upaya menahan segala nafsu amarah atau nafsu kebinatangan untuk menuju nafsu berketuhanan tersebut maka bagi orang Jawa yang selalu menggunakan simbol-simbol atau lambang-lambang berupa upacara megengan. Jadi megengan merupakan simbol atau lambang persiapan untuk menahan nafsu jahat kepada nafsu kebaikan.
Kedua, di dalam tradisi Jawa megengan menggunakan makanan atau jajanan apem, selain makanan lainnya, misalnya nasi dengan segenap lauk pauknya dan juga jajan pasar lainnya. Apem merupakan jajanan yang terbuat dari tepung terigu, gula dan telur yang dikocok kemudian dicetak dalam bentuk mangkok sehingga ketika dipanaskan maka yang bagian atas berwarna putih dan yang bawah berwarna coklat kemerahan. Apem bisa saja merupakan perubahan ucapan dalam Bahasa Jawa dari Bahasa Arab yang berbunyi afwan, dan di dalam pengucapan orang Jawa berubah menjadi apem. Menariknya adalah apem merupakan jajan inti di dalam berbagai upacara lingkaran hidup, khususnya upacara kematian. Pada upacara tiga hari , tujuh hari, 40 hari, 100 hari, mendak (setahun) dan upacara seribu hari, maka apem menjadi kue intinya. Hal ini bisa dimaknai sebagai lambang bahwa di dalam upacara-upacara kematian tersebut, maka orang yang meninggal mohon dimaafkan oleh Tuhan atas segala kesalahannya. Jadi, apem menjadi makna dari afwan sebagaimana yang tertera di dalam teks-teks suci Islam, sebagaimana doa kita: “allahumma innaka ‘afwun karim” yang artinya: “Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah yang memberikan ampunan yang sangat besar”.
Masyarakat Jawa, sebagaimana yang diungkapkan oleh Clifford Geertz (Agama Jawa) adalah masyarakat yang paling banyak menyelenggarakan upacara slametan. Hampir setiap peristiwa kehidupan diupacarai dengan slametan. Upacara lingkaran hidup mulai dari upacara perkawinan, kelahiran sampai kematian, lalu upacara pertanian, misalnya mulai dari upacara menanam sampai upacara mengetam tanaman, misalnya jagung atau padi, upacara petik laut, upacara sedekah bumi atau nyadran dan sebagainya. Upacara-upacara ini pada waktu Geertz melakukan penelitian masih merupakan upacara dalam tradisi local, tetapi di dalam penelitian saya (Islam Pesisir) sudah terjadi banyak perubahan menjadi tradisi Islam local, yaitu upacara yang di dalamnya terdapat muatan-muatan ajaran Islam. Misalnya, upacara di makan dengan yasinan, tahlilan, demikian pula upacara di sumur dan di laut. Tradisi Islam local semakin dominan dewasa ini seirama perkembangan masyarakat yang makin berperilaku agamis.
Ketiga, berbagai upacara yang diselenggarakan orang Jawa terutama terkait dengan upacara megengan hakikatnya merupakan cara penerimaan orang Jawa atas ajaran Islam yang sudah diyakini kebenarannya. Upacara megengan merupakan kreasi para waliyullah, khususnya Sunan Kalijaga dalam proses penyebaran agama Islam pada Orang Jawa. Masyarakat Jawa memiliki cita rasa ketuhanan yang khas, sehingga memerlukan cara-cara yang khusus dalam penyebaran Islamnya. Masyarakat Jawa yang menyukai olah batin, maka juga diperlukan lambang-lambang yang sesuai dengan dunia ritual dan olah rasanya. Di sinilah peran penting para waliyullah dalam Islamisasi di Nusantara. Menyerasikan antara ajaran Islam yang formal dengan spirit keagamaan yang esoteris yang juga menjadi ciri khas masyarakat Jawa akhirnya menghasilkan Islam khas Jawa, yang di luar tampak berbeda dengan tradisi besar di Tanah Suci (Makkah dan Madinah) tetapi secara mendalam sesungguhnya sama sekali tidak ada perbedaan. Islam itu universal dalam pola umumnya dan special dalam pola khususnya. Islam Jawa hakikatnya bukanlah Islam baru akan tetapi Islam juga dengan ciri khas yang dimilikinya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

