Menyambut Maulid: Tradisi Endhog-Endhogan Pada Masyarakat Osing Banyuwangi
KhazanahOleh : Ro'fat Hizmatul Himmah
(Mahasiswi Progam Doktoral Pasca Sarjana UIN KHAS Jember)
Selamat Maulid Nabi Muhammad Saw. pada bulan Rabiul Awal dalam penanggalan Islam di Banyuwangi mempuanyai tradisi yang sangat unik. Masyarakat Banyuwangi, khususnya suku Using menyebutnya dengan tradisi muludan endog-endogan . Tradisi ini sudah berlangsung puluhan tahun. Budaya ini hanya dimiliki oleh masyarakat Banyuwangi saja dan merupakan salah satu budaya peninggalan para ulama yang menyebarkan Islam pertama kali di Jawa yang dikenal dengan sebuatan Walisongo. Salah satu wali tersebut adalah Sunan Giri. Beliau adalah putra Blambangan, yang mana Blambangan sendiri merupakan daerah yang menjadi cikal bakal kabupaten Banyuwangi. Tradisi endog-endogan sendiri artinya telur rebus yang didinginkan pada sunduk (tusuk) bambu yang dihiasi dengan kertas hiasan, seperti kertas klobot jagung ataupun kertas marmer yang berwarna-warni. Telur-telur yang telah didinginkankan pada sunduk-sunduk bambu itu kemudian ditancapkan pada batang pohon pisang yang juga dihiasi dengan kertas warna-warni. Kemudian pohon pisang tersebut diarak keliling kampung menggunakan becak. Sedangkan sebagian yang lain ada yang diletakan di masjid. Pesta tersebut juga diiringi dengan pembacaan syair pujian pada Nabi Muhammad Saw. yang ada dalam kitab Al-Barzanji. Selain untuk memeriahkan Maulid Nabi Muhammad Saw, tradisi endog-endogan bagi masyarakat suku Banyuwangi Menggunakan dimaknai sebagai simbol dari kelahiran.
Awal kisah dari tradisi endog-endogan di Banyuwangi bermula dari pertemuan antara Mbah Kyai Kholil Bangkalan dengan KH. Abdullah Faqih pendiri ponpes Cemoro Balak Songgon Banyuwangi. Dalam pertemuan tersebut Mbah Kyai Kholil mengatakan bahwa kembange islam wes lahir di Nusantara (Nahdlatu Ulama) yang dipersonifikasikan sebagai endog (Telur), di mana kulit telur melambangkan kelembagaan NU, sementara isi telur melambangkan amaliyahnya. Sepulang dari pertemuan tersebut, Kyai Faqih meneyebarkan amanah tersebut dengan cara mengarak keliling kampung batang pisang yang telah di hias dengan tancapan telur-telur dan bunga disertai lantunan sholawat dan dzikir. Kemudian hal terus-menerus hingga kini dan menjadi salah satu tradisi yang ada di Banyuwangi.
Tradisi endog-endogan memiliki makna filosofi yang mana telur dilambangkan sebagai simbol yang terdiri dari tiga lapisan yaitu kuning telur, putih telur, dan kulit cangkang telur. Kuning telur memiliki makan sebagai embrio dari proses kehidupan dan diibaratkan sebagai ihsan dalam kehidupan. Adapun putih telur melambangkan keislaman, di mana setelah ihsan maka terbentuklah keyakinan berupa Islam. Dan yang terakhir adalah lapisan paling luar berupa kulit cangkang telur yang fungsinya menjaga putih dan kuning telur. Cangkang inilah yang di ibaratkan sebagai iman dalam kehidupan. Sementara itu, batang (gedhebog) pohon pisang sendiri diibaratkan manusia yang mana dalam dirinya terdapat seperangkat qolbu yang dapat ditancapi apa saja, baik itu amal kebaikan maupun amal keburukan. Maka dari itu, iman, islam dan ihsan adalah harmonisasi risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, yang jika ditancapkan pada diri manusia maka akan menjadikan manusia yang kepribadiannya cerminan dari kepribadian Nabi Muhammad SAW.
Tradisi endog-endogan ini juga merupakan bentuk ekspresi kecintaan masyarakat Banyuwangi kepada Nabi Muhammad Saw serta ungkapan rasa syukur mereka akan kelahiran beliau. Selain itu, tradisi ini sarat makna akan nilai-nilai religious yang dapat memperkuat hubungan sosial masyarakat. Hal ini terlihat dari keikhlasan masyarakat ketika menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi dengan tetangga, walau hanya berupa telur. Tidak hanya dalam lingkup lingkungan masyarakat, tradisi endog-endogan juga ikut dimeriahkan di dalam lingkup lembaga sekolah yang ada di Banyuwangi. Dimana tradisi endog-endogan untuk memperingati maulid Nabi Muhammad Saw juga termasuk dalam ranah Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) yang setara dengan perayaan hari besar Islam lainnya seperti hari raya Idul Fitri, Idul Adha, Isra’ Mi’raj, Tahun Baru Islam 1 Muharram, dan lain sebagainya yang mana pada hari-hari tersebut umumnya lembaga pendidikan yang berbasis Islam meniadakan kegiatan pembelajaran. Lembaga sekolah yang turut memeriahkan maulid Nabi Muhammad Saw dengan endog-endogan di Banyuwangi dapat dilihat dari mulai tingkatan TK, MI, MTs, bahkan MA/SMA dengan tata cara masing-masing kebijakan sekolah.
Di lembaga sekolah biasanya tradisi endog-endogan ini dilaksanakan dengan diadakannya beberapa lomba antar kelas, seperti lomba menghias pohon telur, lomba mading (majalah dinding), lomba kebersihan kelas, lomba sholawatan, dan lomba cerdas cermat yang soal-soalnya diambil dari pengetahuan tentang sejarah Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu dalam memperingati maulid Nabi Muhammad Saw. siswa secara tidak langsung diajarkan untuk selalu ingat dan bergembira pada hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, karena dalam sejarahnya saja alam bersuka cita saat Nabi Muhammad Saw terlahir di dunia ini, bumi dan segala hamparannya merekah bahagia karena menjadi tempat manusia paling sempurna ini menjalani kehidupan bahkan menjadikan langit yang terkenal dengan keindahan dan keagungannya iri kepada bumi, maka tidaklah berlebihan dan mengada-ada jika umat Islam turut bahagia setiap memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Selain itu siswa secara tidak langsung juga diajarkan untuk mencintai Nabi Muhammad Saw dengan gemar bersholawat yang terkadang dilakukan dengan membaca burdah, diba'an yang berisi syair pujian kepada Nabi Muhammad Saw, kemudian dilantunkan bersama-sama dengan iringan terbangan ataupun rebana sehingga menambah kemeriahan dan keseruan tersendiri. Siswa juga belajar sifat-sifat beliau yang dapat diketahui dari sejarah perjuangannya, dan yang paling penting adalah siswa dibiasakan untuk berbagaia menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan harapan semoga dengan perantara cinta kepada Nabi Muhammad Saw ini yang menyediakan dalam berbagai metode ini, generasi muda, umumnya seluruh umat Islam yang ada di Banyuwangi dapat meraih syafaat dan barokah dari Nabi Muhammad Saw, baik di dunia maupun di akhirat

