Kiai Muda dan Pengarusutamaan Ekoteologi Islam
Riset AgamaArtikel berjudul “Environmental Activism in Indonesian Presantren: The Role of Lora in Mainstreaming Islamic Eco-theology in Tapal Kuda, East Java" merupakan karya Nor Hasan, Masyithah Mardhatillah, Moh. Manshur Abadi dan Ainur Rahman Hidayat. Tulisan ini terbit di Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam: Teosofi tahun 2022. Kiai muda yang dikenal dengan “lora” dalam budaya Madura di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur semakin terlibat dalam isu lingkungan, namun tidak sepenuhnya terkoordinasi atau terorganisir. Penelitian ini berusaha memberikan gambaran singkat mengenai bentuk moderat dari lingkungan religius. Selain itu, berupaya mengidentifikasi faktor-faktor yang bertanggung jawab atas gerakan lingkungan ini dan dampaknya di Jawa Timur. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, profil dan faktor penentu eko-aktivisme di Tapal Kuda. Ketiga, tipologi eko-aktivisme lora. Keempat, dampak eko-aktivisme di antara upaya lora di Tapal Kuda.
Pendahuluan
Sampai saat ini, pesantren dikenal sebagai lembaga pusat pengajaran dan pembelajaran ilmu keIslaman sekaligus “tulang punggung” pembentukan karakter Islami di Indonesia. Namun, beberapa tahun terakhir, pesantren telah memperluas peran tradisionalnya dan secara aktif terlibat dalam masalah di luar lingkup biasanya, seperti pengembangan ekonomi masyarakat dan menjaga lingkungan. Muncul beberapa istilah baru seperti pesantren hijau, pesantren ramah lingkungan, dan lain sebagainya. Tren ini bisa jadi merupakan hasil dari program bersama bernama “eco pesantren” yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama dan Kementerian Lingkungan Hidup yang diresmikan tahun 2008.
Jawa Timur merupakan wilayah dengan jumlah pesantren terbanyak ketiga setelah Jawa Barat dan Banten. Selain itu, Jawa Timur menjadi pusat pesantren sebagai hasil jaringan Ulama Nusantara melalui sosok Kiai Kholil Bangkalan. Kawasan Tapal Kuda memiliki posisi yang strategis, baik secara spasial maupun geografis, dan lokus budayanya. Mayoritas penduduk Tapal Kuda adalah orang Madura.
Selain ajaran Islam yang disebarluaskan di pesantren, para kiai muda yang dikenal dengan lora juga terpapar pemikiran progresif, salah satunya isu kedaulatan alam dan pelestarian lingkungan. National Front for Natural Resource Sovereignty (NFNRS) atau Front Nasional untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) adalah organ otonom Nahdlatul Ulama (NU). Anggota NFNRS adalah mantan santri yang terlibat dalam aktivisme lingkungan dan dipimpin oleh lora. Para kiai aktivis lingkungan adalah cendekiawan Islam yang dihormati dengan otoritas agama di komunitasnya, tapi tidak ahli dalam bidang teknik lingkungan. Namun, mengingat status sosialnya, mereka mampu mempengaruhi opini publik dan mengangkat profil kelompok aktivis lokal dengan menunjukkan dukungan dan bergabung dengan perjuangan mereka.
Profil dan Faktor Penentu Eko-aktivisme di Tapal Kuda
Terdapat tujuh lora dalam gerakan lingkungan lokal yang disebabkan status sosial dan tingkat akses yang lebih tinggi. Terdapat beberapa variabel penentu lora sebagai aktivis lingkungan sebagaimana dibuktikan dalam profil pribadi mereka. Secara umum, unsur penentu tersebut kemudian diklasifikasikan sebagai faktor internal dan eksternal.
Pertama, Lora Tsabit dari Pesantren al Yasini, Pasuruan. Ia lulus dari pesantren dan melanjutkan pendidikan tinggi Islam dai STAIN Malang. Pesantrennya memberikan wewenang guna menyelenggarakan pengabdian masyarakat sebagai kepala Divisi Humas dan Pengabdian Masyarakat. Salah satu masalah lingkungan yang menjadi pusat perhatian dan harus ia selesaikan adalah volume sampah yang dihasilkan sangat tinggi.
Baca Juga : Banjir Hoaks Covid-19 di Media Sosial, Empat Cara Ini Gencar Dilakukan JAPELIDI
Kedua, Lora Aso dari Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo. Ia memiliki latar belakang pendidikan tinggi dari Institut Agama Islam al-Ibrahimy dan kemudian menjadi dekan Fakultas Sosial dan Humaniora di Universitas Ibrahimy. Pesantren ini melaksanakan berbagai program lingkungan yang diprakarsai pengurus pesantren, salah satunya soal sampah. Banyaknya sampah yang dihasilkan oleh pesantren mendorongnya untuk bekerja sama dengan warga setempat untuk mencari solusi. Hasilnya, ia berhasil membangun tempat pembuangan sampah.
Ketiga,Lora Muqit dari Pesantren al-Falah, Jember. Ia lulusan dari Pesantren Annuqayah, Sumenep. Ia sempat menjadi Wakil Bupati Jember 2016-2021 yang memungkinkannya menjalin hubungan dengan penjaga hutan setempat. Keterlibatan lingkungan Lora Muqit terinternalisasi sebagai hasil dari keadaan internal dan kegiatan pesantrennya.
Empat, Lora Fahri dari Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Badan Konservasi Lingkungan Hidup (BKLH) Nurul Jadid. Pesantren ini bekerja sama dengan 16 pendidikan formal yang merintis program pelestarian lingkungan. Salah satu masalahnya adalah pesantren ini kekurangan akses air bersih dan menghadapi ancaman abrasi.
Lima, Lora Fayyadl dari Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo. Ia adalah seorang penulis dan pembicara dalam forum diskusi, serta banyak berpartisipasi dalam masalah lingkungan. Gagasan utamanya adalah pelestarian lingkungan merupakan bagian dari fikih politik Islam.
Keenam, Lora Faizi dari Pesantren Annuqayah, Sumenep, Madura. Ia memiliki kesadaran pribadi yang kuat mengenai produksi dan pengolahan sampah, serta pelestarian lingkungan, khususnya di pesantren. Ia berpandangan bahwa masalah lingkungan di Pesantrennya diakibatkan volume sampah yang besar dan kurangnya literasi terkait daur ulang, pemilahan dan pengolahan sampah.
Ketujuh, Lora Musholli dari Pesantren Nurud Dhalam, Sumenep, Madura. Ia mendirikan sebuah pengajian yang disebut “Tanbyh al-Ghyfilyn” dan disiarkan secara berkala melalui media online. Secara pribadi, ia terlibat dalam pelestarian hutan karena berperan sebagai “juru kunci.”
Pandangan lingkungan dan aktivisme lora di Tapal Kuda, didorong oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi latar belakang pribadi, pola pikir, dan tugas pokok serta peran dalam struktur organisasi pesantren. Sedangkan, faktor eksternal terkait literasi masyarakat mengenai masalah lingkungan, volume sampah, dan faktor geografis. Para lora menunjukkan sikap moderat dalam pemahaman mereka mengenai aktivis lingkungan dengan terlibat dalam aktivisme lingkungan yang radikal atau ekstrem. Semangat moderasi dalam aktivisme lingkungan di Tapal Kuda dapat dilihat dari cara mereka mencapai keseimbangan antara orientasi duniawi (pengolahan sampah) dan non-duniawi (arahan untuk mengembangkan kesalehan lingkungan melalui nilai-nilai agama).
Baca Juga : Politik Agama Para Habaib di Jawa Timur
Tipologi Eko-aktivisme Lora
Terdapat tiga tipologi eko-aktivisme lora. Hal ini mengingat kesamaan misi dan tujuan, tujuh lora di atas ternyata memiliki perspektif dan strategi teknis yang berbeda, meskipun tidak bertentangan. Pertama, lora yang bertindak sebagai simpatisan, pendukung atau aktivis. Tipe ini agak pasif dan tidak mengatur sendiri atau bukan aktor utama pada agenda eko-aktivisme. Melainkan, program lingkungan berjalan lancar dengan dukungannya dan dijadwalkan pada waktu yang berbeda dari agenda lain yang rutin dilaksanakan. Kedua, tipe penggagas yakni mereka terlibat aktif dalam membangun kesadaran komunitas pesantren. Ketiga, tipe penggiat yakni lora yang terlibat aktif dan praktis dalam eko-aktivisme dan menginisiasi program-programnya.
Dampak Eko-aktivisme di antara Upaya Lora di Tapal Kuda
Pengarusutamaan wacana lora dan tercapainya konsensus komunitas untuk menjaga lingkungan menerapkan strategi yang berbeda, namun memiliki dampak yang terukur bagi pesantren dan masyarakat luas. Dampak ini bisa bersifat immaterial, seperti peningkatan kesadaran, literasi masalah lingkungan, dan kerja sama dengan pihak terkait saat membangun sistem baru pengelolaan sampah, atau dampak material seperti pengadaan fasilitas pendukung. Hasil nyatanya tidak hanya beragam tapi juga didukung keterlibatan pihak ketiga, seperti pihak pesantren, masyarakat, tetangga dan orang luar.
Dampak eko-aktivimse lora bervariasi di setiap kasus dan berdampak pada lingkungan sekitar pesantren, serta masyarakat luas. Masyarakat sekitar pesantren berubah menjadi ramah lingkungan yang dilengkapi dengan fasilitas pendukung untuk memilah sampah dan daur ulang. Selain itu, inisiatif pesantren memiliki dampak jangka panjang melalui pembentukan organisasi pecinta lingkungan dan penciptaan fasilitas pemilahan serta pembuangan sampah.
Pada skala yang lebih luas, dampak eko-aktivisme pesantren dirasakan dalam bentuk pendapatan tambahan bagi masyarakat sekitar, melalui daur ulang dan peningkatan interaksi antara pesantren dan warga sekitar. Alhasil, ada hubungan simbiosis yang berkembang antara kedua belah pihak, untuk saling menguntungkan. Selain itu, terdapat tantangan yang harus dihadapi para lora. Mereka terpaksa menghadapi tantangan tertentu mulai dari gaya manajemen tradisional pesantren yang “top-down,” sikap santri, dan pembagian pesantren dalam blok-blok otonom. Struktur hierarki pesantren tidak memungkinkan melakukan unduksi pengetahuan, penyadaran dan advokasi di antara kiai yang lebih senior. Selain itu, advokasi tidak selalu dapat dilakukan secara langsung dan konfrontatif, sebab harus dilakukan sesuai dengan kesopanan dan tata krama. Selain itu, para lora berusaha membentuk kebiasaan para santri yang ramah lingkungan sekaligus Islami, sehingga landasan normatif ini dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Secara garis besar penelitian ini mengkonfirmasi temuan dari para peneliti sebelumnya, mengenai peran pesantren dalam mengarusutamakan isu lingkungan. Meskipun pesantren Indonesia pada dasarnya adalah lembaga pendidikan Islam tradisional, mereka telah menjadi pusat aktivisme lingkungan baru. Gambaran singkat tentang sosok lora sebagai kiai muda diberikan untuk menggambarkan peran mereka dalam membawa perubahan dan dengan sabar mendidik santrinya dan masyarakat luas dalam tanggung jawabnya terhadap lingkungan. Terlepas dari kontribusi akademisnya, penelitian tersebut dibatasi oleh jumlah studi kasus dan perspektif moderasi, karena berpendapat bahwa strategi Lora berasal dari sintesis antara ekologi dalam dan ekologi dangkal. Oleh karena itu, diperlukan pengujian teoretis yang menyeluruh. Peran lora juga patut dicermati terhadap kontribusi ning atau ibu nyai (perempuan ulama, pasangan lora atau putri kiai), dengan segmen sasaran yang berbeda, atau dari perspektif ekofeminisme dalam konteks pesantren. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mendapatkan wawasan yang lebih dalam dan komprehensif tentang fenomena eko-aktivisme berbasis teologi eko-Islam.

