Chrisye dalam Getaran Lirik Lagu Religius
OpiniPagi itu saya mengantarkan Yuvika dan Arfa untuk Sekolah di SD Al Muslim, dan pulangnya tidak kembali lewat tol tetapi melewati jalan Rungkut untuk menuju ke UIN Sunan Ampel. Pada waktu perjalanan tersebut, saya membuka WAG Sahabat Abah, yang menghimpun aktivis-aktivis NU baik yang structural maupun kultural. Meskipun saya jarang memberi komentar atas konten-konten WAG, tetapi saya membacanya.
Saya tertarik dengan konten Youtube yang berisi lagunya Chrisye, apalagi ada catatan tambahan tentang asal usul lagu religious Chrisye yang sangat fenomenal. Chrisye adalah seorang penyanyi yang sangat legendaris di Bumi Nusantara. Pada zamannya, tidak ada penikmat musik pop Indonesia yang tidak mengenal namanya. Saya merupakan salah seorang yang menggemari lagu-lagunya, misalnya lagu “Pergilah kasih”, “Andai Aku Bisa”, “Kemesraan”, “Damai Bersamamu”, dan “Ke Sekolah”. Chrisye yang bernama asli Christian Rahadi, lalu berubah menjadi Christiansyah Rahadi, lahir pada tanggal 15 September 1949, dan wafat pada 30 Maret 2007. Dari perkawinannya dengan Damayanti Noor, maka melahirkan putra: Rayinda Prahastya Chrismansyah, Randa Pramasha, dan Rizkia Nuranoisa.
Suatu ketika Chrisye meminta untuk dibuatkan lirik lagu religius oleh seorang penyair terkenal Taufik Ismail. Sebagaimana diketahui bahwa Taufiq Ismail merupakan sosok penyair religious dan sangat dikenal dalam dunia kepenyairan di Indonesia. Sebagaimana D. Zawawi Imron, Penyair Celurit Emas, maka Taufiq Ismail dikenal sebagai penyair yang memiliki karya sangat banyak, di antaranya adalah : “Kita adalah pemilik Sah Negeri ini”, “Doa”, “Dari Catatan Seorang Demonstran.”
Taufik Ismail menjanjikan akan membuatkan lirik lagunya dalam waktu satu bulan. Namun demikian, sampai nyaris habis waktu yang dijanjikan, Taufik Ismail tidak juga memiliki ide untuk menulis syair religious untuk lagu yang diminta Chrisye. Taufik Ismail akhirnya menyatakan kepada Chrisye tentang ketiadaan inspirasi untuk menuliskan syair lagu dimaksud. Sampai dalam suatu malam, pada pekan keempat, Taufiq Ismail membaca Surat Yasin, dan kala sampai pada ayat 65: “al yauma nakhtimu ‘ala afwahihim wa tukallimuna aidihim wa tasyhadu arjuluhum bima kanu yaksibun.” Yang artinya: “Pada hari ini kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu dilakukan.” Di sinilah Taufik Ismail berhenti dan menghayati makna ayat tersebut.
Dari ayat 65, Surat Yasin inilah Taufik Ismail memperoleh inspirasi dan kemudian dituangkan di dalam lirik-lirik indah yang dinyanyikan oleh Chrisye. Tetapi keanehan terjadi. Chrisye membaca lirik tersebut, dan kala sampai baris kedua, maka dia tidak bisa melanjutkan membacanya. Dia tidak mampu menyanyikannya. Tiba-tiba air matanya tumpah. Menangis. Itu terus terjadi. Setiap kali menyanyikan lirik lagu itu, maka sesampainya pada baris kedua, maka dia menangis dan tidak mampu lagi meneruskannya. Itu terjadi dalam beberapa hari. Chrisye menelpon Taufik Ismail tentang apa yang dialaminya. Taufik Ismail memberitahunya bahwa lirik lagu itu hasil inspirasi membaca Surat Yasin. Dan Taufik Ismail menyarankannya agar bersabar.
Di dalam rekaman di studio yang diaransemen oleh Erwin Gutawa, maka berkali-kali Chrisye menangis kala sampai pada baris kedua. Melihat kenyataan tersebut, Yanti, istri Chrisye, mengambil wudlu dan melakukan sholat dan berdoa kepada Allah, agar Chrisye diberi kekuatan untuk menyanyikan lagu tersebut. Sampai akhirnya dengan sepenuh kekuatan, Chrisye mampu menyelesaikan lagu itu, dan sekali jadi. Chrisye tidak sanggup untuk mengulangi lagi rekamannya. Menurut penuturan Yanti, semenjak itu Chrisye tidak pernah lagi meninggalkan shalat.
Lagu itulah yang menjadi sangat fenomenal bagi Chrisye. Lagu yang mengantarkannya untuk menghayati nalar agama dengan kecerdasan spiritual. Lagu yang dinyanyikan dengan sepenuh keyakinan dan emosi. Lagu yang mengantarkan pemahaman agamanya yang menjadi tuntas dalam pengalaman beragama. Lagu ini begitu inspiratif bagi Chrisye, dan menjadi bagian dari kesadaran beragama yang total. Sebagaimana penuturan Istrinya, bahwa Chrisye menjadi semakin religius. Dan sebagaimana lirik di dalam lagu Bimbo, bahwa shalat adalah “Sajadah Panjang”, sehingga manusia tidak perlu melompat jika shalatnya dilakukan secara rutin.
Baca Juga : Pemahaman dan Praktik Toleransi Berdasarkan Kitab Suci
Beginilah syair lagu “Ketika Tangan & Kaki Berkata”:
Akan datang hari/mulut dikunci/kata tak ada lagi.
Akan tiba masa/tak ada suara/dari mulut kita.
Berkata tangan kita/tentang apa yang dilakukannya/berkata kaki kita/kemana saja dia melangkahkannya.
Tidak tahu kita/bila harinya/tanggung jawab tiba.
Ho oo ho ho ho hoh.
Rabbana/ tangan kami/kaki kami/mulut kami/mata hati kami/luruskanlah/kukuhkanlah/di jalan cahaya/sempurna.
Mohon karunia/kepada kami/hambaMu yang hina.
Hu u uhu u u hu.
Syair lagu religious yang diciptakan oleh Taufik Ismail dari inspirasi surat Yasin, ayat 65 ini memang menggambarkan suatu masa di mana mulut tidak lagi bisa berbicara. Sebab yang akan berbicara adalah seluruh anggota tubuh kita, yang dilambangkan dengan tangan dan kaki. Tidak ada kebohongan. Tidak ada kepalsuan. Tidak ada dusta. Pada hari mahsyar itu semua bagian dari tubuh kita akan menjadi saksi atas perilaku kita. Allah SWT menyatakan seperti itu.
Rasanya tepatlah apa yang disyairkan oleh Taufik Ismail dan membuat seorang Chrisye berkali-kali menangis kala menyanyikannya. Jika kita mendengarkan lagunya dan meresapi maknanya, maka hati kita juga akan tergetar. Getaran berbasis keimanan kepada Allah SWT dan ketetapan yang digariskan di dalam kitab Sucinya, al-Qur’an.
Wallahu a’lam bi al shawab.

