Pemahaman dan Praktik Toleransi Berdasarkan Kitab Suci
Riset SosialArtikel berjudul “Understanding and Practice of Religious Tolerance: A Study of the Living Qur’an in Madura, Indonesia” merupakan karya Mohammad Takdir dan Umi Sumbulah. Tulisan ini terbit di Ulumuna: Journal of Islamic Studies tahun 2024. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui bagaimana umat Islam memahami dan mengamalkan ajaran toleransi beragama dengan umat beragama lain di Madura, Indonesia. Pengetahuan dan bentuk-bentuk praktik toleransi dalam dinamika kehidupan masyarakat yang berbeda agama di Pamekasan, Madura, dipaparkan dalam penelitian tersebut dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif-deskriptif. Penelitian tersebut menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengkaji data empiris di lapangan. Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, bukti masyarakat Madura sebagai masyarakat toleran. Ketiga, pemahaman masyarakat Madura terhadap ajaran agama terkait toleransi. Keempat, bentuk praktik toleransi beragama dalam dinamika kehidupan masyarakat Madura. Kelima, faktor pembentuk praktik toleransi beragama.
Pendahuluan
Konflik agama mengancam keamanan dan kedamaian masyarakat dalam membangun hubungan dengan sesama manusia. Meskipun suatu daerah memiliki keberagaman agama dan pemahaman keagamaan yang berbeda, namun tetap berusaha menjaga kerukunan dan menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama. Realitas ini menunjukkan bahwa setiap daerah pasti menghadapi tantangan yang cukup berat dalam menjaga kerukunan antarwarga yang berbeda keyakinan dan pemahaman agamanya. Setiap daerah di Indonesia memiliki cara dan mekanisme yang berbeda dalam menangani konflik dan mengamalkan ajaran toleransi kepada seluruh warga negara tanpa terkecuali, dengan harapan setiap warga negara peduli untuk menjaga kerukunan tanpa memandang latar belakang agamanya.
Keberagaman agama di Indonesia merupakan anugerah luar biasa yang dapat menjadi potensi persatuan antar seluruh umat beragama. Hal ini dapat dilihat dari keberagaman masyarakat muslim di Pamekasan, Madura yang dihuni oleh banyak agama dan golongan yang berbeda. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Pamekasan, jumlah pemeluk agama Islam (87%), Kristen Katolik (5%), Kristen Protestan (4%), Buddha (2%), Hindu (1%), dan lain-lain (1%). Keberagaman agama tersebut dapat mempengaruhi struktur fisik suatu wilayah, misalnya munculnya bangunan-bangunan baru yang bernuansa keagamaan. Misalnya dengan munculnya rumah-rumah ibadah kaum minoritas yang letaknya berdekatan, sehingga tidak ada sekat antara tempat ibadah yang satu dengan yang lainnya.
Realitas ini menunjukkan adanya pertemuan antar kelompok agama yang berbeda dan interaksi budaya serta adat istiadat yang melekat pada masing-masing agama. Hal ini memiliki potensi yang sangat besar untuk membangun interaksi yang lebih intim antar masing-masing agama dan membangun dialog yang lebih interaktif antar sesama warga negara yang berbeda keyakinan sehingga tidak ada jarak atau hambatan yang menghalangi mereka untuk hidup bersama dalam keberagaman. Hal ini karena isu-isu yang paling sensitif dalam masyarakat berkaitan langsung dengan isu agama, yang sering kali memicu konflik antar umat beragama. Hal terpenting dalam keberagaman agama adalah bahwa setiap orang dapat menerima dan menghargai perbedaan serta senantiasa menjunjung tinggi persahabatan yang lebih erat untuk menciptakan kerukunan yang sejati bagi sesama. Tentu saja, semangat tersebut harus dibarengi dengan tuntunan dari para tokoh agama atau ulama agar lebih mengutamakan persaudaraan dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai sarana membangun kerukunan antarwarga.
Bukti Masyarakat Madura Sebagai Masyarakat Toleran
Keberadaan Islam sebagai agama mayoritas di Pamekasan yang jumlahnya hampir 90% tidak serta merta menimbulkan kekhawatiran dari para tokoh agama dan masyarakat muslim sendiri. Keberadaan komunitas agama lain merupakan cerminan dan simbol kerukunan antar umat beragama. Hal tersebut tidak membuat hubungan dan komunikasi antar umat beragama di Pamekasan menjadi renggang atau terputus. Masyarakat Madura sangat menitikberatkan etika sebagai bagian dari adat dan sebagai pembelajaran dalam setiap lembaga pendidikan Islam.
Baca Juga : Selamat Mengabdi Prof. Muzakki, Terima Kasih Prof. Masdar (1)
Data tentang kuatnya praktik keagamaan di kalangan masyarakat Madura membuktikan bahwa Pamekasan tidak mempermasalahkan segala bentuk perbedaan agama. Akan tetapi, harus diakui bahwa agama-agama lain mulai tumbuh subur dan berkembang di Pamekasan dengan varian dan coraknya masing-masing. Perkembangan lain yang muncul dalam kehidupan masyarakat Madura, khususnya di Pamekasan adalah pembangunan rumah ibadah yang mencakup semua agama. Kenyataan mengenai munculnya bangunan-bangunan baru yang bernuansa keagamaan, termasuk rumah ibadah, merupakan keniscayaan historis yang terus ada dalam kehidupan beragama masyarakat. Misalnya, dengan munculnya rumah ibadah kaum minoritas yang letaknya berdekatan, tidak ada sekat antara tempat ibadah yang satu dengan yang lainnya. Fenomena unik dalam kehidupan beragama di Pamekasan Madura adalah keberadaan Pura Avalokitesvara yang berada di Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan Madura. Keberadaan Pura ini terletak sekitar 17 kilometer dari Kota Pamekasan yang dibangun pada abad ke-17 Masehi. Pura ini menjadi primadona bagi masyarakat karena selain sebagai tempat beribadah juga sebagai wisata religi yang memiliki keunikan dan keistimewaan dibandingkan dengan tempat lainnya.
Pemahaman Masyarakat Madura Terhadap Ajaran Agama Toleransi
Toleransi adalah menerima pandangan yang berbeda dan menghargai pandangan, pendapat, dan keyakinan masing-masing. Jadi, orang yang toleran dapat menghargai dan menghargai pandangan yang berbeda mengenai sikap terhadap sesuatu. Toleransi sering diterjemahkan sebagai kesabaran dan keluasan pikiran. Menunjukkan toleransi yang baik berarti menunjukkan kesabaran dan keluasan pikiran secara total. Makna toleransi dalam Islam mencerminkan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan sebagai dasar utama dalam berinteraksi dengan sesama. Toleransi erat kaitannya dengan sikap rendah hati, murah hati, ramah tamah, dan sopan santun dalam menghargai sesama sebagai sesama manusia atau makhluk Tuhan.
Di Pamekasan, kegiatan pengajian yang dilaksanakan di desa, lembaga pendidikan, pondok pesantren, dan kegiatan masyarakat memiliki pemahaman yang sama dalam mengamalkan ajaran toleransi yang terkandung dalam al-Qur’an. Selain itu, masyarakat Pamekasan juga memiliki pemahaman ketika menafsirkan ayat toleransi menurut al-Qur’an. Misalnya, Q.S Al Baqarah ayat 25 yang menegaskan bahwa setiap orang berhak memeluk agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing, dan setiap orang berhak menentukan keyakinannya tanpa paksaan dari orang lain. Lalu, Q.S Al Mumtahanah ayat 8-9 yang menegaskan bahwa Allah tidak melarang umatnya untuk membantu dan bekerja sama dengan umat agama lain selama mereka tidak mencampuri urusan agama.
Bentuk Praktik Toleransi Beragama dalam Dinamika Kehidupan Masyarakat Madura
Terdapat beberapa kegiatan sosial dan kemanusiaan yang menunjukkan bagaimana toleransi beragama dilakukan secara berkelanjutan dan menjadi ajaran yang diwariskan kepada generasi muda. Pertama, keberadaan rumah ibadah dalam satu kompleks. Interaksi antara masyarakat muslim di Pamekasan dengan masyarakat agama lain dalam hal toleransi beragama di wilayah tersebut dapat dikatakan cukup harmonis. Kedua, dalam berbagai kegiatan sosial budaya masyarakat Pamekasan turut terlibat dan mengajak pemeluk agama lain untuk turut berpartisipasi. Di antaranya adalah acara pernikahan, acara adat tetangga, dan lain sebagainya. Ketiga, dalam berbagai kegiatan lintas agama dan budaya, masyarakat Pamekasan juga aktif memeriahkan acara-acara yang mengundang umat agama lain, seperti perayaan Natal, Imlek, dan Waisak. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Pamekasan memiliki kesadaran dan pemahaman yang tinggi akan pentingnya toleransi dan menghargai perbedaan. Keempat, selain menjalankan toleransi beragama, interaksi antara masyarakat muslim di Pamekasan dengan pemeluk agama lain juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dalam berdagang atau berbisnis, masyarakat Pamekasan berinteraksi dengan pemeluk agama Islam dan pemeluk agama lain. Jadi, tidak terjadi diskriminasi atau perlakuan tidak adil berdasarkan agama atau kepercayaan. Kelima, masyarakat Pamekasan juga terbuka terhadap perbedaan budaya. Misalnya, dalam acara adat atau tradisi lokal, seperti rokat tase' dan rokat sabe, umat beragama lain juga diajak untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut.
Faktor Pembentuk Praktik Toleransi Beragama
Terdapat beberapa faktor yang memperngaruhi praktik toleransi beragama di Pamekasan. Pertama, penanaman nilai-nilai toleransi. Ormas dan lembaga keagamaan, seperti FKUB, menjadi pemandu nilai-nilai toleransi bagi umat Islam di Pamekasan Madura. Kedua, kegiatan dialog antarumat beragama gencar dilakukan, didukung oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FUKB) dengan masyarakat lintas agama. Organisasi dan lembaga keagamaan juga kerap menggelar dialog antarumat beragama. Ketiga, kerja sama antarumat beragama. Organisasi dan lembaga keagamaan juga kerap membantu membangun kerja sama antarumat beragama. Keempat, penyelenggaraan kegiatan bersama antarumat beragama. Organisasi dan lembaga keagamaan kerap kali menyelenggarakan kegiatan bersama dengan umat beragama lain, seperti perayaan keagamaan, kegiatan sosial, atau acara lainnya. Kelima, penyediaan tempat ibadah bagi pemeluk agama lain. Organisasi dan lembaga keagamaan juga kerap menyediakan tempat ibadah bagi pemeluk agama lain.
Kesimpulan
Temuan signifikan penelitian di atas di antaranya adalah masyarakat Pamekasan memiliki pemahaman dalam mengamalkan ajaran toleransi yang terkandung dalam Al-Qur’an. Selain itu, toleransi antar masyarakat terwujud dalam bentuk kegiatan sosial dan keagamaan, seperti perayaan hari besar keagamaan, bakti sosial, kegiatan usaha, dan ritual budaya. Toleransi yang dimaksud adalah keberadaan rumah ibadah dalam satu kompleks, nilai-nilai kearifan lokal, serta peran serta organisasi dan lembaga keagamaan pada masing-masing agama.

