(Sumber : World Pranic Healing Foundation)

Pentingnya Spiritual Healing

Riset Sosial

Artikel berjudul “ Spiritual Healing: Kajian Terapi Refleksologi Sufi Modern di Indonesia” merupakan karya Mohammad Rindu Fajar Islamy, Yedi Purwanto, Usup Romli, dan Alwan Husni Ramdani. Tulisan ini terbit di Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam: Teosofi. Penelitian ini mencoba menelusuri proses konversi dan dinamika perkemabnagn penyembuhan ala sufi, berdasarkan studi kasus praktik terapi sufi yang dilakukan Akang Syamsudin di kawasan Limbang Garut, Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan lanskap Miles dan Huberman. Data diperoleh melalui wawancara dan observasi, serta dokumentasi. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, sekilas Akang Limbangan dan terapi sufi refleksiologinya. Ketiga, refleksiologi dalam tinjauan medis. Keempat, persinggungan antara keyakinan dan pengobatan. 

  

Pendahuluan

  

Dua dekade terakhir, terapi sufi menjadi sesuatu yang semakin popular di mana penyembuhannya telah diperkenalkan dalam terapi medis. Di Malaysia, para peneliti telah mendokumentasikan efektivitas metode terapi sufi dalam pengobatan kecanduan narkoba. Studi tersebut melibatkan 19 pecandu narkoba yang menjalani 12 sesi terapi spiritual dengan menginternalisasi nilai agama dan ajaran spiritual, sehingga mengikis pengaruh narkoba dan mendukung proses rehabilitasi. Denis Haviland melakukan studi di Inggris yang berfokus pada tradisi dan praktik pengobatan spiritual yang telah diperkenalkan sejak tahun 1980an. Setidaknya 7000 terapis terlihat dalam pengobatan spiritual. Karim Mitha, seorang ilmuwan kontemporer menyimpulkan bahwa praktik Islami seperti zikir dapat “dilapisi” dengan prinsip psikologis kesadaran dan mengungkap titik temu antara sipirtualitas dan kesehatan mental. Pemikiran yang sama juga disampaikan oleh Amber Haque bahwa intervensi yang berorientasi spiritual disertai dengan terapi sufi dapat dirancang menjadi unit perawatan yang diselaraskan dengan unsur kognisi, kecenderungan perilaku dan spiritualitas manusia. 

  

Di Indonesia, terapi sufi berakar kuat di masyrakat muslim. Terapi sufi tidak lepas dari praktik ritualnya yang selaras dengan tradisi di Indonesia. Atika Ulfia pernah mempelajari Yayasan Jalmah di Desa Bulungkulon Kudus yang menangani pasien penderita skizofrenia dengan treatment spiritualitas neurosains. Di Pekalongan, ajaran Tarekat Qadiri Naqsybandi memiliki pengaruh positif yang terukur terhadap kecerdasan emosional dan spiritual jamaahnya. Contoh lain, Abdullah Gymnastiar, seorang pendakwah terkenal dari Bandung mendirikan Manajemen Qolbu dengan ajaran tasawuf dalam membentuk perilaku generasi muda. Hal ini terntu semakin mempertegas minat besar masyarakat modern untuk menggunakan metode penyembuhan sufi sebagai alternatif pengobatan modern. Terapi spiritual yang bersandar pada nilai-nilai yang menghubungkan kembali sifat spiritual seseorang, sekaligus mendapatkan kembali keseimbangan batin, dan menarik energi baru. 

  

Sekilas Akang Limbangan dan Terapi Sufi Refleksiologinya

  

Akang Syamsudin bin Tatang Sopandi atau dikenal dengan Akang Limbangan lahir kurang lebih 40 tahun lalu. Rumahnya berada di Desa Cikendal, Leuwigoong, Limbangan Garut, Jawa Barat. Terapi pijak refleksi sufi adalah metode pengobatan dengan gabungan konsep medis dan nilai spiritual yang terkandung dalam ajaran sufi. Ia menggagas ide ini setelah mendapat “ilham” dari ilmunya bahwa menurut tradisi Islam, setiap penyakit ada obatnya, bahkan dalam diri sendiri. Hal ini mendorongnya untuk lebih banyak belajar tentang alam dan Tuhan. 

  

Menurut Akang, terapi refleksi sufi cocok untuk pasien yang mengalami stroke atau menderita penyakit ginjal, jantung, hati, kista, kanker, kandung empedu dan penyakit kronis lainnya. terpainya mirip dengan pijat refleksi pada umumnya yang fokus pada kaki dan tangan pasien. Tepatnya, pada titik saraf di kaki pasien. Kaki manusia adalah salah satu pusat saraf tubuh. Terapi ini dalam perawatannya melibatkan aspek fisik dan psikilogis. Setelah sesi berakhir, Akang akan memberikan nasihat dengan kata penyemangat dan doa untuk para pasiennya. Terapi Akang tidak hanya melibatkan hubungan horizontal dan fisik antara penyembuh pasien, melainkan hubungan spiritual vertikal yang mengarah kepada Tuhan.   

   

Refleksiologi dalam Tinajauan Medis


Baca Juga : Orasi Ilmu Hukum: Dr. Ibnu Elmi As Pelu dan Dr. Ahmad Dakhoir Peroleh Gelar Profesor

  

Pijat refleksi merupakan metode penyembuhan Asia Kuno. Menurut Embong dalam tulisannya berjudul “Revisiting Reflexology: Concept, Evidence, Current Practice, and Practitioner Training” menjelaskan bahwa pijatan semacam ini sudah dikenal di Mesir Kuno, namun berasal dari Tiongkok sekitar 5000 tahun lalu tepatnya abad 14. Refleksiologi terkenal dengan “zone therapy” di Eropa. Akhir-akhir ini, refleksiologi mendapatkan kembali popularitasnya karena manfaatnya yang terukur. Pijat ini dapat membantu mengurangi nyeri melalui relaksasi otot dan membantu pikiran rileks. Bahkan, menurut Ausee Wanchai dalam tulisannya berjudul “A Systematic Review Association of Reflexology in Managing Symptoms and Side Effects of Breast Cancer Treatment: Reflexology & Breast Cancer,” pijat refleksi dapat digunakan untuk mengurangi gejala kanker payudara dan efek samping penggunaan obat.

  

Pakar kesehatan seluruh dunia telah mengidentifikasi manfaat pijat refleksi. Beberapa di antaranya adalah meningkatkan kesejahteraan anak dalam mempertahankan homeostasis, mengurangi pendarahan dan nyeri setelah melahirkan, mengurangi kecemasan dan meningkatkan kualitas tidur untuk penderita kanker, mengilangkan rasa sakit pada pasien luka bakar, mengurangi waktu ekstubasi setelah operasi jantung, mencegah penyakit kuning neonatal, mengurangi rasa sakit pada pasien pasca operasi, mengurangi sindrom coroner akut, dan menghilangkan rasa sakit setelah operasi Caesar.

  

Persinggungan Antara Keyakinan dan Pengobatan

  

Akang Syamsudin adalah seorang terapi religius yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan meditasi, berdo’a dan membantu mereka yang membutuhkan. Ia juga tidak meminta bayaran, ketika melihat pasiennya sakit parah dan tidak mampu membayar. Bersikap baik dan murah hati adalah bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Artinya, metode terapi yang digunakan Akang mengandung aspek religi yang kuat seperti ia yang sering mengingatkan pasien untuk bersabar dan tidak pernah kehilangan harapan. 

  

Pendekaran penyembuhan terkait erat dengan keyakinan seseorang. Pertama, di dalam Islam ada keyakinan bahwa setiap penyakit ada obatnya. Pada bidang psikologi, dikategorikan sebagai sugesti positif. Berdasarkan teori hipnotis Freud dalam terapi Berberichh dalam tulisannya berjudul “Attending to Suggestion and Trance in the Pediatric History and Physical Examination: A Case Study,” menemukan adanya hubungan antara sugesti verbal dan non verbal dengan dorongan positif untuk pemulihan pasien. Salah satu metode yang sering digunakan adalah hipnoterapi guna menghasilkan sugesti positif. Metode ini tampaknya telah berkembang di bidang medis, namun aplikasi praktisnya meluas pada bidang pendidikan.

  

Kedua, keseimbangan adalah kunci kesehatan yang baik. Oleh sebab itu, kondisi sepiritual batin seseorang harus selaras dengan kondisi fisiknya. Menurut Akang, timbulnya penyakit disebabkan oleh zat tertentu dalam tubuh yang “melebihi batas.” Ketika salah satu organ melebihi batas alaminya, baik positif maupun negatif, dapat menimbulkan efek yang berbahaya bagi seluruh tubuh. Demikian pula dalam ranah agama, setiap perbuatan yang melampui batas sangat dilarang, termasuk dalam beribadah. Menurut Yusuf al Qardhawi dalam tulisannya berjudul “al-Sahwa al-Islāmiyya bayn al-Ikhtilāf al-Mashrū‘ wa al-Tafarruq al-Madhmūm” menjelaskan bahwa Islam menganjurkan manusia untuk menjaga keseimbangan yang sehat dalam segala hal. 

  

Ketiga, kontribusi faktor spiritual terhadap proses penyembuhan pasien. Kekuatan spiritual menyumbang 70% terapi, dibanding kekuatan fisik dengan jumlah 30%. Menurut pengalaman Akang, kekuatan spiritual pasien dan hubungan dengan Tuhan menjadi faktor kunci kesembuhan mereka. Semakin dekat hati pasien dengan Allah, semakin tawakkal mereka, maka semakin cepat proses penyembuhannya. 

  

Keempat, pembuluh darah memiliki peran penting dalam mengalirkan penyakit dari tubuh dan mencegah “kemacetan” di berbagai tubuh tertentu. Artinya, peredaran darah harus dijaga sebaik mungkin. metode terapi refleksi lebih difokuskan mengembalikan sirkulasi darah ke tingkat normal. Darah adalah pintu masuk berbagai penyakit.

  

Kelima, sugesti positif memainkan peran penting dalam proses penyembuhan. Islam mendorong untuk mengembangkan sikap hidup yang positif. Sebuah hadis menjelaskan bahwa “Allah sesuai apa yang diprasangkakan hamba-Nya.” Artinya, jika seseorang memiliki keyakinan kuat dan positif akan sembuh, maka kemungkinan besar akan sembuh.

  

Keenam, pengobatan medis adalah usaha manusia. Artinya, berhasil atau tidaknya usaha manusia tidak hanya bergantung pada kehendak Allah SWT saja tapi usaha manusia juga. Oleh sebab itu, berdoa untuk kesembuhan penyakit adalah bagian penting dari setiap terapi. Sesuai dengan sebuah hadis yang enyatakan bahwa “Do’a adalah senjata orang beriman.” Kata lainnya adalah doa sebagai sarana menghalau segala macam bahaya dan bencana sebab hasilnya ada di tangan Allah SWT. 

  

Ketujuh, kesabaran dan kegigihan adalah aspek penting proses penyembuhan. Hal ini disebabkan penyakit belum tentu sebagai kondisi negatif melainkan bisa menjadi pengalaman positif. Kehadiran pasien terkadang membantu seseorang untuk menyadari nikmat Tuhan dan lebih bersyukur atas nikmat-Nya. Ada riwayat dari Ali Zainal Abidin, cucu Nabi Muhammad SAW, yang mngingatkan manusia bahwa sehat dan sakit sama-sama nikmat. Saat mendapat nikmat sehat, manusia bisa leluasa menjalankan amalan ketaatannya. Ketika jatuh sakit dan menanggungnya dengan sabar, maka banyak dosa masa lalu akan terhapus. 

  

Kesimpulan

  

Secara garis besar penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengobatan modern telah mengalami kemajuan, namun pengobatan tradisional dengan pendekatan spiritual semakin populer. Hal ini terjadi bahkan di hampir seluruh belahan dunia. fisik dan batin adalah dua unsur penting dalam kehidupan manusia. Segala sesuatu yang terjadi dalam diri manusia terjadi karena sebuah alasan. Catatan penting lainnya adalah implisit penelitian ini seakan membuka paradigma baru di bidang perawatan non-inovasif.