(Sumber : Bulaksumur Plus )

Ekspresi Religiusitas Mahasiswa Non-Muslim di UIN Sunan Ampel Surabaya

Informasi

Oleh: Eta Emala Husniya

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Kampus UINSA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya) memiliki lingkungan yang beragam dan terdapat mahasiswa non muslim yang juga aktif dalam kehidupan kampus. Dalam artikel ini, kami akan menjelajahi perspektif seorang mahasiswa non-Muslim bernama Jose Frangelino Borges Fernandes mahasiswa non-Muslim yang berasal dari Brazil. Jose akan berbagi pengalaman dan pandangannya tentang penghakiman terhadap mahasiswa muslim di UINSA, serta mencermati berbagai model yang ada.

  

Jose Frangelino Borges Fernandes adalah seorang mahasiswa non-Muslim yang telah tinggal di Surabaya selama 17 tahun. Dia telah menguasai Bahasa Jawa dan Indonesia sejak lama. Sebagai mahasiswa aktif di UINSA, Jose memiliki pandangan yang menarik tentang berbagai model mahasiswa Muslim yang ditemui di kampus tersebut. Dalam wawancara ini, Jose menyampaikan pandangannya tentang tiga model mahasiswa Muslim di UINSA. Model pertama adalah orang Muslim yang acuh dan tak acuh terhadap kehidupan orang lain dan kegiatan kampus. Jose memberikan contoh temannya, Zuzi (nama insial), yang lebih fokus pada kuliah sebagai penyelesaian pendidikan dan kurang mengikuti kehidupan kampus secara intens.

  

Model kedua adalah orang Muslim yang semi peduli namun sering merendahkan orang lain setelah mengetahui kenyataannya. Mereka mungkin tertarik pada kehidupan orang lain, namun cenderung memandang rendah setelah mengetahui bahwa orang tersebut tidak sesuai dengan harapan mereka.

  

Model terakhir adalah orang Muslim yang benar-benar peduli pada sesama manusia dan mengamalkan ajaran Islam yang sejati. Mereka biasanya lulusan pesantren dan menghargai orang lain secara manusiawi, mengikuti ajaran Presiden keempat, Gus Dur, yang mengatakan bahwa kebaikan tidak perlu ditanyakan mengenai agama seseorang. Jose juga mengikuti UKM Silat PSHT UINSA, Jose menganggap Di UKM inilah dia diakui keberadaanya dan lebih di hargai atau bisa disebut memanusiakan manusia.

  

Jose berpendapat bahwa hanya sekitar 20 persen dari mahasiswa Muslim di UINSA yang benar-benar menerapkan ajaran Islam yang sejati. Menurutnya, pengaruh zaman modern dan media sosial, seperti TikTok dan Instagram, telah menggerus nilai-nilai tersebut. Banyak orang lebih mengutamakan kesan visual dan hedonisme daripada mencari pemahaman yang mendalam, mencintai sesama manusia, dan menghargai keragaman.

  

Pandangan dan Pengalaman Jose

  

Jose Frangelino Borges Fernandes juga berbagi beberapa perasaan dan pengalamannya di UINSA. Pertama, ia merasa kecewa melihat sebagian mahasiswa di UINSA yang acuh dan tak acuh terhadap kemajuan bangsa serta kurangnya sikap saling menghargai dan mencintai sesama manusia. Menurutnya, banyak dari mereka merasa paling benar dan lebih dari orang lain, serta hanya memperlakukan orang lain ketika mereka membutuhkan bantuan atau untuk kepentingan pribadi. Jose menganggap sikap tersebut sebagai sikap yang kurang membangun dan tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang sejati.

  

Kedua, Jose mengakui pentingnya menyikapi kehidupan dengan dewasa dan bijaksana. Meskipun ia telah menghadapi berbagai tantangan dan menguji mentalitasnya, ia berusaha tetap tegar dan kuat. Baginya, ujian hidup adalah kesempatan untuk tumbuh dan menjadi pribadi yang lebih baik dan dewasa.

  

Ketiga, dalam hal penilaian terhadap dirinya sendiri, Jose mencintai Islam, UINSA, dan UKM PSHT UINSA dengan sepenuh hati. Ia menghargai semua orang tanpa memandang agama atau latar belakang mereka. Baginya, penting untuk mencari kedewasaan, mencintai sesama manusia, dan belajar untuk menghargai dan merendahkan orang lain, terlepas dari bagaimana mereka memperlakukan kita.

  

Melalui wawancara dengan Jose Frangelino Borges Fernandes, seorang mahasiswa non-Muslim aktif di UINSA, kita mendapatkan wawasan yang menarik tentang ekspresi religiusitas mahasiswa non-Muslim di lingkungan kampus Islam. Jose berbagi pandangannya tentang berbagai model mahasiswa Muslim yang ada di UINSA, serta menyampaikan pengalaman dan pemikirannya tentang sikap acuh tak acuh, pentingnya sikap dewasa dan bijaksana, serta penghargaan terhadap orang lain. Dengan perspektifnya yang unik, Jose memberikan gambaran yang menarik tentang dinamika kehidupan kampus dan pentingnya membangun hubungan yang baik antara sesama manusia tanpa memandang agama atau latar belakang.

  

Kesimpulannya, pandangan Jose Ranginoborges Fernandes memberikan perspektif berharga tentang ekspresi religiusitas mahasiswa non-Muslim di UINSA. Ia memiliki tantangan dan kesempatan yang dihadapi dalam membangun kerukunan antarumat beragama, betapa pentingnya sikap orang dewasa dan bijaksana dalam menyikapi kehidupan, serta nilai-nilai universal seperti menghargai dan memperlakukan orang lain. Melalui pemahaman dan penghormatan terhadap perbedaan, diharapkan ekspresi religiusitas di lingkungan kampus dapat menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antara mahasiswa non-Muslim dan Muslim, menciptakan lingkungan yang inklusif, toleran, dan saling menghormati.