(Sumber : doct. penulis)

Muhammad SAW Sebagai Insan Penyayang

Khazanah

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

  

Rasanya kurang afdhal, jika pada Bulan Rabiul Awal atau Bulan Mulud lalu kita tidak menyelenggarakan peringatan Hari Lahir Junjungan Kita Nabi Besar Muhammad SAW. Ada yang kurang. Oleh karena itu, Jamaah Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency dan RT 05/RW 08 bekerja sama menyelenggarakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, pada Jumat, 27/09/2024, pukul 19.00-21.00 WIB. Acara ini dihadiri oleh para Ketua RT di RW 08 dan juga warga perumahan Lotus Regency dan sekitarnya. Meriah!

  

Penceramah pada acara ini adalah Ustadz Dr. Cholil Uman, MPdI, dosen pada Jurusan Bimbingan dan Konseling pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Pak Cholil begitulah terbiasa saya memanggil merupakan da’i yang andal dan sering memberikan pengajian rutin Selasanan Ba’da Salat Shubuh. Jamaah Ngaji Bahagia (KNB) merasa puas dengan ceramah-ceramah yang dilakukan oleh Pak Cholil. Ada keunikan yang berbeda dengan da’i pada umumnya. Ada tiga hal yang disampaikan oleh Pak Cholil.

  

Pertama, kita mencintai Nabi Muhammad SAW. Melaksanakan acara peringatan Mulid Nabi merupakan ekspresi kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Kita cinta kepada keluarga lalu kita memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada seseorang di dalam keluarga tersebut dengan misalnya membuat tumpeng atau menghidangkan roti ulang tahun dan juga ucapan-ucapan selamat kepadanya. Atau misalnya kita melaksanakan khaul atau peringatan atas wafatnya orang tua, kakek nenek, ulama, kyai dan orang-orang terhormat sesungguhnya merupakan ekspressi atas kecintaan kita kepada orang-orang tersebut. Bukan mengkultuskan atau memuja-mujanya, tetapi bentuk kasih sayang kita kepadanya. 

  

Oleh karena itu, jika kita menyelenggarakan acara peringatan Maulid Nabi, maka sesungguhnya kita mencintainya. Memang Nabi tidak mekakukan acara peringatan hari lahirnya, dengan upacara ulang tahun, tetapi para tabi’in telah melakukannya sebagai ekspresi atas kehadiran junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Upacara ini dilakukan oleh seorang pahlawan Islam, Salahuddin Al Ayyubi pada saat terjadi peperangan dengan orang Nasrani, dan di dalam kerangka untuk memperkuat mental dan rasa kesayangan kepada Nabi Muhammad, maka dilakukan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Maka jangan dianggap sebagai bidh’ah atau mengada-adakan ajaran Islam baru yang tertolak. Kalau hukumnya mubah saja, dilakukan baik tidak dilakukan juga tidak apa-apa. 

  

Kedua, Rasulullah itu manusia yang tidak menjadi beban bagi orang lain. Rasulullah bahkan tidak membuat ibundanya, Siti Aminah, kalau di Arab disebut Aminah, tetapi di Jawa disebut Siti atau singkatan sayyidati yang berarti junjunganku, kala mengandung sama sekali tidak merasakan berat. Berbeda dengan perempuan lainnya, bahwa mengandung adalah beban berat. Itulah sebabnya Islam mengajarkan agar anak itu menghormat kepada ibundanya, dinyatakan: “siapa yang harus saya hormati, maka Nabi menjawab, ummuka, ummuka, ummuka, dan baru abuka”. Ibumu, ibumu, ibumu dan baru bapakmu. Hal itu menunjukkan betapa kita harus menghormati ibu, karena salah satu di antaranya adalah mengandung kita semua. Dan mengandung itu wahnan ala wahnin, sebuah derita di atas derita, kesulitan di atas kesulitan. Namun demikian, Siti Aminah tidak merasakan kesulitan dan bahkan merasakan kebahagiaan. 

  

Waktu kelahirannya seluruh alam merasakan kegembiraan. Matahari tidak memancarkan sinarnya yang panas, rembulan temaram, angin semilir sepoi-sepoi, semua hewan bertasbih kepada Allah, dan manusia yang memiliki iman yang benar sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim, monotheisme, juga merasakan rasa bahagia. Itulah sebabnya jika kita memperingati Maulid Nabi, maka kita membaca pujian-pujian kepada Nabi Muhammad, membaca shalawat, thala’al badru ‘alaina…, dilanjutkan dengan mahalul qiyam. Diyakini kala kita berdiri di dalam membaca shalawat maka Kanjeng Nabi Muhammad SAW hadir di tengah-tengah kita. Di kala membaca rabbi faghfirli dzunubi Ya Allah, bibarkatin Nabi Muhammad Ya Allah…. Terasa bahwa kita memasrahkan dosa-dosa kita kepada Allah untuk diampuni dan dengan berkah yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, maka kita juga kebagian berkahnya Allah. Mungkin ada di antara kita yang bertanya, “bagaimana Nabi Muhammad turun di dunia, sementara Beliau sudah meninggal?, maka jawabannya sederhana saja, yang turun adalah syafaatnya Rasulullah SAW. 

  

Ketiga, Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang sangat menyayangi umatnya. Beliau adalah wujud Rahman dan Rahim Allah untuk manusia. Sebagai contoh: ada seorang perempuan tua buta beragama Yahudi dan setiap pagi Rasulullah menyuapinya. Dengan penuh kasih sayang Rasulullah melayaninya. Orang itu sangat membenci Nabi Muhammad SAW. Pada suatu Ketika Nabi tidak menyuapinya dan disuapi oleh orang lain, orang tua buta itu kemudian menyatakan kenapa tidak seperti yang setiap hari menyuapinya, maka dinyatakan bahwa yang menyuapi adalah Rasulullah, maka orang itu kemudian bersyahadat, Subhanallah. Jika Nabi akan berperang bersama para sahabat dan pasukannya, maka yang diingatkan adalah jangan membunuh perempuan, anak-anak, orang tua, jangan merusak kebun kurma, jangan merusak tanaman, jangan merusak tempat ibadah. Subhanallah. Begitulah Rasul-Mu ya Allah. 

  

Nabi Muhammad merupakan rasul seluruh alam. Beliau hadir untuk membawa kerahmatan bagi seluruh alam dan bukan hanya kerahmatan bagi umat Islam saja. Beliau merupakan Nabi universal, yang diturunkan oleh Allah untuk membawa kerahmatan dan kebahagiaan bagi yang mempercainya. Alhamdulillah kita mendapatkan hidayah untuk menjalankan ajaran agama Islam sebagaimana ajaran Allah yang diturunkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW.

  

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.