(Sumber : https://nursyamcentre.com/)

Paguyuban Keluarga Ronggolawe: Halal Bihalal Kebangsaan

Khazanah

Oleh: Prof. Dr. Nur Syam, MSi

  

Jika ada orang Indonesia yang merasa tidak nyaman hidup di negeri ini, atau ada orang yang ingin melakukan perubahan secara mendasar terhadap negeri ini, misalnya mengganti dasar negara dan bentuk negara, maka orang itu selayaknya tidak menjadi warga negara Indonesia. Orang-orang semacam ini sungguh tidak bisa bersyukur atas nikmat Allah menjadi orang yang lahir dan hidup di Indonesia dan kemudian menjadi warga negara Indonesia. Juga orang yang  lahir di negara  lain,  tetapi orang tuanya  menjadi penduduk Indonesia, atau bahkan orang dari negara lain yang menjadi warga negara Indonesia, maka orang-orang yang sudah memantapkan menjadi warga negara Indonesia, maka seharusnya menjunjung tinggi keindonesiaan tersebut.

  

Ungkapan ini merupakan inti dari ceramah saya pada acara Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Paguyuban Keluarga Ronggolawe di Surabaya dan sekitarnya. Acara ini diselenggarakan di Hotel Narita Surabaya, 26 Mei 2021. Acara diikuti oleh seluruh anggota Paguyuban Ronggolawe, yaitu paguyuban yang menghimpun orang-orang yang lahir di Tuban, Jawa Timur dan kemudian mendedikasikan hidupnya di Surabaya dan Sekitarnya. Karena anggota paguyuban ini merupakan orang-orang yang lintas etnis dan agama, maka sengaja saya pilih tema “Halal Bihalal Kebangsaan”.

  

Paguyuban ini didirikan tahun 1960 dan hingga tahun 1985 dengan nama Toeban Bond. Pengurus pertamanya adalah Kabul Ichsanpuro, R. Soekardjo, Soetomo, Sudjiman dan Surjanto. Pada tahun 1985 diubah namanya menjadi Paguyuban Keluarga  Ronggolawe di Surabaya dengan pengurusnya adalah Gembong Suprodjo, Hari Sanjoto, Sumarjono, Endro Siswantoro dan Gatot Surjono. Pada tahun 2007-2017 dipimpin oleh Irawan, dan pada tahun 2020 dipimpin oleh Subiantroro dan nama Paguyuban menjadi Paguyuban Keluarga Ronggolawe Tuban di Surabaya dan Sekitarnya (PKRTS). Sebuah perkumpulan yang menghimpun warga Tugan di mana saja. Semula memang di Surabaya, akan tetapi kemudian berkembang di Malang, Jember, Yogyakarta dan Jakarta. Paguyuban Kelauarga Ronggolawe di Surabaya kemudian berkembang menjadi Paguyuban Keluarga Ronggolawe dan sekitarnya, yaitu Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto dan Bangkalan.

  

Paguyuban ini bercorak sukarela, siapa saja yang merasa dilahirkan di Tuban, pernah menjadi pejabat di Tuban, pernah sekolah di Tuban, bersuami atau beristri orang Tuban, maka dapat menjadi anggota paguyuban. Melalui perluasan keanggotaan ini, maka sebenarnya anggota Paguyuban Keluarga Ronggolawe menjadi sangat banyak. Melalui kriteria di atas, maka siapa saja yang merasa berada di dalam kriteria tersebut dapat mengindentifikasi dirinya di dalam Paguyuban Keluarga Ronggolawe. Di dalam acara ini, saya sampaikan tiga hal, yaitu: Pertama, kita sudah selayaknya bersyukur kepada Allah Swt, Tuhan yang Maha Kuasa, sebab masih dikaruniai kesehatan. Sebuah kenikmatan yang luar biasa. Meskipun kita ini sudah senior, akan tetapi masih sehat-sehat semua. Paguyuban ini merupakan Paguyuban Para Aki-Aki (PPAA) atau Paguyuban Para Senior (PPS) atau Paguyuban Orang Tua-Tua (POTT). Yang hadir kebanyakan sudah berusia di atas 50 tahun bahkan kebanyakan para pensiunan dengan ragam pangkat dan jabatannya di masa lalu. Nikmat kesehatan itu luar biasa, sebab ada sebuah pepatah Arab yang menyatakan Qalbun salim fi jismin salim atau pepatah dalam Bahasa Latin Men sana in corpore sano. Yang artinya sama, bahwa di dalam badan yang sehat terletak jiwa yang sehat. Jika badan kita sehat, maka pikiran, hati dan perasaan serta jiwa kita sehat. Oleh karena itu, marilah kita bersyukur, sebagaimana ayat yang dibacakan oleh Qari’ kita, “lain syakartum laazidannakum wa lain kafartum inna adzabi la syadid”, yang artinya “jika kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmatnya dan jika kita mengingkari nikmatnya maka Allah akan memberikan adzabnya”.

  

Kedua, kita bersyukur bisa dipertemukan dengan saudara kita Orang Tuban di Surabaya dan sekitarnya. Melalui acara halal bihalal, maka kita bisa bergembira, menyanyi, dan menari bersama. Saya sungguh menikmati nyanyian “Keroncong Pertemuan” lagunya Koes Plus, lagu-lagu campur sari dengan irama yang rancak, dan music gamelan dengan irama khas Tubanan. Apalagi juga ada beksan yang indah untuk dinikmati. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, kala masih di pedesaan Tuban dengan menikmati acara tayuban atau wayang kulit. Banyak di antara para senior Paguyuban yang sungguh-sungguh bisa menyanyi. Senang mendengarkan para sesepuh ini menyanyi dengan semangat “keremajaan”.

  

Ketiga, kita bersyukur karena menjadi orang Indonesia. Menjadi orang Jawa Timur, menjadi orang Tuban. Kita tidak pernah tahu bahwa Allah SWT mentakdirkan kita lahir di bumi Tuban dan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Tidak kita bayangkan andaikan kita dilahirkan di Kroasia, di Afghanistan, di Irak dan Syria dan negara lain yang terus menerus dilanda konflik antar warga negaranya. Dengan menjadi orang Indonesia,  maka kita bisa menikmati hidup apa adanya. Bisa makan pecel, lodeh, garang asem, dumbeg, kucur, dan minuman legen yang menyejarah tanpa ada rasa takut ada senapan yang menyalak atau bom yang jatuh.

  

Kita harus mensyukuri kenikmatan yang sudah dihantarkan oleh para pendiri bangsa ini dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan NKRI sebagi bentuk negara. Indonesia ini negeri yang sangat plural dan multicultural. Suku bangsa, etnis dan agama yang bervariasi tetapi semua di dalam kerukunan, keharmonisan dan keselamatan. Bahkan di dalam paguyuban ini ada etnis Jawa, ada etnis Madura, ada Etnis China dan lain-lain, tetapi semuanya bisa bergembira, tersenyum  dan tertawa bersama. Kita bisa  melihat mereka menyanyi, menari dan canda ria bersama. Inilah wujud keindonesiaan kita.

  

Oleh karena itu, marilah kebaikan bersama ini kita tularkan kepada anak cucu kita, agar di manapun mereka belajar, ada yang di Eropa, Amerika, Timur Tengah dan China tetapi mereka tetap berada di dalam satu kesatuan untuk menegakkan Pancasila dan NKRI. Jadi para generasi muda harus diajari sejarah bangsa agar mereka tetap menjadi bagian bangsa Indonesia.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.