(Sumber : www.nursyamcentre.com)

UIN Sunan Ampel: Sudah 56 Tahun (Bagian 1)

Khazanah

IAIN Sunan Ampel berdiri tanggal 5 Juli 1965. Angka ini bagi saya merupakan angka keramat, sebab 1965 juga menjadi suatu tahun peristiwa besar bagi bangsa Indonesia, yaitu terjadinya Pemberontakan G30S/PKI. Hanya beda bulan saja. Suatu peristiwa yang paradoks dan bertentangan. IAIN (kini UIN) Sunan Ampel diresmikan sebagai institusi Pendidikan Tinggi Islam oleh Menteri Agama RI, Prof. KH. Saifuddin Zuhri, sesuai dengan SK No. 20 tahun 1965, yang ditandatanganinya pada tanggal 13 Mei 1965. Artinya IAIN Sunan Ampel sudah berdiri 20 tahun pasca Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Pada waktu itu baru terdapat tiga IAIN saja, yaitu IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta , IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IAIN Sunan Ampel. Jika dihitung secara kalenderikal, maka IAIN Sunan Ampel termasuk memiliki usia yang sangat dewasa, yaitu 56 Tahun, pada tanggal 5 Juli 2021. Sebuah usia yang bisa dinyatakan sebagai usia yang sudah dewasa. Sudah setengah abad lebih.

  

IAIN Sunan Ampel semula menjadi bagian dari IAIN Sunan Kalijaga, sampai kemudian dinyatakan sebagai institusi yang berdiri sendiri. Jika IAIN Yogyakarta dan IAIN Jakarta merupakan lembaga pendidikan tinggi yang didirikan sebagai bentuk penghargaan atas peran serta umat Islam dalam kemerdekaan, sama dengan didirikannya Universitas Islam Indonesia (UII) yang juga menjadi hadiah bagi peran serta umat Islam Indonesia. UII disahkan oleh Menteri Agama, Prof. Dr. Fathurrahman Kafrawi, mantan Bupati Tuban dan menjadi institusi Pendidikan Islam pertama di Indonesia. Sedangkan IAIN Yogyakarta berdiri 26 September 1951 dan IAIN Jakarta tanggal 1 Juni 1957. Maka IAIN Sunan Ampel didirikan tentu juga berkaitan dengan peran serta umat Islam, khususnya para kiai yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. 

  

IAIN Sunan Ampel menjadi pusat dari berbagai IAIN Cabang di seluruh Jawa Timur, NTB dan Juga Kalimantan. IAIN Sunan Ampel meliputi IAIN Cabang Malang, Ponorogo, Kediri, Tulungagung, Jember, Pamekasan, Mataram, Banjarmasin, Samarinda, Palangkaraya dan Bojonegoro. Sayangnya bahwa IAIN Cabang Bojonegoro tidak berlanjut karena ada masalah teknis yang tidak terpenuhi. Di Surabaya ada empat Fakultas, yaitu Fakultas Adab, Fakultas Dakwah, Fakultas Syariah dan Fakultas Ushuluddin. Sedangkan khusus Fakultas Tarbiyah ditempatkan di Malang. Maka, sebagai akibat dihentikannya Fakultas Tarbiyah di Bojonegoro, maka IAIN Surabaya kemudian mendirikan Fakultas Tarbiyah. KH. Drs. Abdul Jabbar Adlan adalah salah satu di antara pencipta yang mendirikan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pada saat Prof. Malik Fajar, MSc menjadi Menteri Agama, maka seluruh AIN Cabang diubah statusnya menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), dan berdiri sendiri. Saat masih menjadi IAIN Cabang, maka Rektornya di IAIN Sunan Ampel, lalu IAIN Cabang yang dipimpin Dekan. Wisudanya harus ke IAIN Sunan Ampel. STAIN yang dipimpin oleh Ketua dan memiliki otoritas yang lebih luas, baik dalam administrasi maupun akademik. Seluruh STAIN telah menjadi IAIN dan bahkan IAIN Jember dan IAIN Tulungagung sudah menjadi UIN, pada tahun 2021. Malang sudah terlebih dahulu menjadi UIN bersama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Berturut-turut kemudian UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Sultan Syarif Qasim Riau dan UIN Alauddin Makasar. 

  

Akhirnya IAIN Sunan Ampel juga menjadi UIN Sunan Ampel. Pengabsahan perubahan ini ditandatangani oleh Prof. Dr. Mohammad Nuh, yang merupakan Menteri Pendidikan Nasional pada Era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Termasuk yang berubah menjadi UIN adalah IAIN Ar Raniri Banda Aceh. Saya tentu mengetahui bagaimana rumitnya perubahan status dari IAIN Sunan Ampel dan IAIN Aceh ini bersama-sama Menpan, Pak Azwar Abubakar. Pak Nuh dan Pak Azwar adalah orang yang berjasa dalam membuka kran perubahan status dari IAIN ke UIN pada eranya. Saya sering berdiskusi dengan Pak Azwar di kantornya tentang masa depan PTKIN. Setelah beliau, maka terjadilah rombongan perubahan dari STAIN ke IAIN dan dari IAIN ke UIN.

  

Peresmian IAIN Sunan Ampel menjadi UIN Sunan Ampel dilakukan oleh Menteri Agama RI, Suryadharma Ali, 4 Desember 2013. Pada waktu peresmian juga dilakukan kegiatan, di antaranya adalah seminar nasional yang dihadiri oleh Ketua Komisi VIII, Ida Fauziyah (sekarang Menteri Ketenagakerjaan) sebagai nara sumber dan saya. Saya masih ingat yang dinyatakan Bu Ida Fauziyah pada saat itu. Beliau menyatakan, “sebagai alumni IAIN Sunan Ampel, maka Ketika Prof. Nur Syam diangkat menjadi Dirjen Pendis, maka saya lalu pindah ke Komisi VIII dan menjadi Ketua Komisi. Biar pengembangan IAIN Sunan Ampel menjadi lebih lancar”. Melalui kehadiran Bu Ida di Komisi VIII, maka dukungan secara positif juga menjadi lebih kuat. Saya ada banyak pertemuan yang dilakukan, misalnya Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VIII DPR RI. Yang saya ingat salah satu kesimpulan RDP tersebut berbunyi: “pada IAIN yang sudah memenuhi syarat administratif dan akademis agar bisa bertransformasi menjadi UIN”. Dorongan Komisi VIII selaku mitra Kementerian Agama tentu juga sangat besar. Dan yang monumental adalah peresmian perubahan status STAIN ke IAIN dan IAIN ke UIN yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, tahun 2014. 

  

Perubahan IAIN Sunan Ampel ke UIN Sunan Ampel tentu bukan perkara mudah. Membutuhkan tenaga ekstra di dalamnya. Beruntung IAIN Sunan Ampel memiliki tim yang sangat kuat. Disiapkan ketika saya menjadi Rektor IAIN Sunan Ampel dengan didukung oleh Tim, Prof. Dr. Abdul A'la, Prof. Abdul Haris, Prof. Saiful Anam, Masdar Hilmy, PhD, Ahmad Muzakki, PhD, Dr. Zumratul Mukaffa, Dr. Nur Asiyah, Dr. Abdul Chalik, Lukman Hakim, MA, Ahmad Zaini, MA dan lainnya yang saya lupa siapa saja namanya. Tetapi yang jelas bahwa kontribusi tim dalam penyiapan proposal yang dapat diterima menjadi layak diapresiasi. 

  

Saya juga tidak lupa untuk menyiapkan proposal perubahan status itu juga menghadirkan para sesepuh dan anggota Senat UIN Sunan Ampel. Peran Prof. Bisri Affandi, Prof. Syaikhul Hadi Permono, Prof. HM. Ridlwan Nasir, Prof. Thoha Hamim, Prof, Imam Bawani, Prof. Moh. Ali Aziz, Prof. Roem Rowi, Prof. Syafiq Mughni, Prof. Jaenuri, Prof. Shonhaji Saleh dan anggota Senat IAIN Sunan Ampel. Pertemuan di WBL Lamongan menghasilkan suatu kesepakatan bahwa memang sudah waktunya IAIN Sunan Ampel menjadi UIN Sunan Ampel. 

  

Kini IAIN Sunan Ampel sudah menjadi UIN Sunan Ampel dan usianya sudah mencapai 56 tahun. UIN Sunan Ampel sudah dewasa. Semoga juga semakin dewasa pula dalam menghasilkan SDM yang unggul, kompetitif dan berakhlakul karimah.

  

Wallahu a'lam bi al shawab.