UIN Sunan Ampel Surabaya: Sudah 56 Tahun (Bagian 3)
KhazanahSalah satu persyaratan agar IAIN Sunan Ampel bisa mendapatkan loan IsDB dan berubah status menjadi UIN adalah telah memiliki aset berupa tanah seluas 20 hektar. IAIN Sunan Ampel hanya memiliki tanah seluas 9 hektar di Kampus Jl. A. Yani 117 Surabaya dan tanah di Wiyung kira-kira seluas 6 hektar. Maka program pada tahun 2010 adalah mengupayakan agar IAIN mendapatkan tambahan asset tanah untuk menggenapi aset tanah seluar 20 hektar.
Dalam perjuangan yang panjang dan dengan dukungan Komisi VIII DPR RI dan Kemenag RI, maka diberikan peluang untuk membeli tanah. Kita semua tentu bersyukur meskipun melalui jalan bekelok-kelok, akhirnya IAIN Sunan Ampel memperoleh tanah yang sangat strategis di Gunung Anyar yang sekarang menjadi Kampus II UINSA. Letak tanah itu sangat strategis sebab berada di jalur menuju ke Bandar Udara Juanda Surabaya di Sidoarjo. Siapapun yang akan ke dan dari Bandara Internasional ini, dipastikan akan melihat bangunan keren aset UINSA. Allah memang menakdirkan UINSA menjadi ikon Surabaya Selatan, baik kampus I maupun kampus II. Tanah strategis itu dibeli tahun 2010/2011. Jadi, patutlah warga UINSA sekarang berbangga dengan kehadiran kampus II UINSA.
Peluang untuk membangun proyek besar seperti kampus II juga tidak sederhana, sebab tidak mungkin dengan menggunakan dana rutin APBN dalam penganggaran di atas 100 milyar rupiah. Dipastikan harus menggunakan pendanaan luar negeri, maka pilihannya dengan anggaran loan dari IsDB. Prof. A’la selaku Rektor UINSA dan Dr. Zumratul Mukaffa selaku Warek II pun mengerahkan tim untuk pendanaan luar negeri. Berkali-kali mereka datang ke ruangan saya di Sekretariat Jenderal Kemenag. Ada pertimbangan yang luar biasa sulitnya, yaitu ketidakmungkinan memberikan pembiayaan lewat IsDB kedua kali secara beruntun kepada UIN Sunan Ampel, sedangkan UIN Malang saja belum juga disepakati untuk pendanaan kedua kalinya. Melalui perjuangan yang keras, akhirnya UINSA bersama IAIN Lampung, IAIN Banten, IAIN Jambi, dan IAIN Banjarmasin akan mendapatkan proyek IsDB. Saya tanda tangani persetujuan loan IsDB untuk pengajuan ke Bappenas.
Bappenas menyetujui loan dan mengajukannya ke Kantor IsDB di Jeddah setelah memperoleh persetujuan dari Kemenkeu. Meluncurlah proposal loan lima PTKIN dari Kemenag. Lama sekali tidak terdengar beritanya, akhirnya terjadi perubahan pada struktur kepemimpinan di IsDB dan melalui pemetaan loan luar negeri maka semua program loan dinyatakan cancellation. Semula saya mengira hanya ditunda, tetapi ternyata dibatalkan. Semua rektor yang akan memperoleh loan menjadi pusing. Sudah diberitakan pada masing-masing kampusnya bahwa akan mendapatkan loan secara total kurang lebih 28 trilyun. Lalu, dilakukanlah rapat di Kemenkeu, yang dipimpin oleh Prof. Mardiasmo, Wamenkeu dengan segenap jajaran Bappenas dan Kemenag. Saya hadir selaku kapasitas Sekjen Kemenag dan Prof. Kamaruddin Amin selaku Dirjen Pendidikan Islam. Akhirnya disetujui diganti dengan anggaran berbasis Surat Berharga Sukuk Negara (SBSN) meskipun jumlahnya berkurang menjadi sekitar 24 Trilyun. Pada waktu itu ada tawaran ke Saudi Fund, tetapi karena belum ada contohnya, maka dipilih melalui SBSN. UIN Malang juga disetujui sebagai percobaan ke Saudi Fund. Akhirnya Saudi Fund juga merealisasikannya ke UIN Malang. Saya teringat Prof. Moh. Mukri, Rektor IAIN Lampung dan sekaligus Ketua Forum Pimpinan PTKIN nyaris setiap hari datang ke kantor untuk membicarakan persoalan tersebut. Beliau merasa ikut bertanggung jawab atas kesuksesan pendanaan untuk pembangunan fisik di PTKIN. Program pembangunan fisik pun akhirnya terealisasi pada tahun 2019 melalui skema SBSN. Pembangunan UINSA untuk kampus II terjadi pada saat kepemimpinan Rektor, Prof. Masdar Hilmy.
Jika dilihat dari tampilan fisik, maka UINSA sudah lebih dari memadai. Artinya sudah tidak perlu lagi untuk melakukan pembangunan fisik. Semuanya sudah lengkap. Lalu yang tentu diperlukan adalah pembangunan SDM, baik dosen, tenaga kependidikan dan terutama mahasiswa. Percepatan program guru besar harus terus dilakukan, sebab kehebatan sebuah PT tentu ditentukan oleh banyaknya profesor dengan karya akademik unggul. Di Oxford University, program doktoral banyak diminati mahasiswa bukan karena biayanya murah, akan tetapi karena banyaknya profesor dengan kehebatannya masing-masing. Yang tidak kalah penting adalah penguatan lulusan. Sekarang sudah dilakukan upaya evaluasi manajerial pada masing-masing Fakultas untuk mendeteksi penerapan manajemen kinerja atau performance management, dengan cara memastikan sasaran program, indikator, target dan sasaran. Jika upaya ini terus dilakukan maka akan terukur program dan hasilnya, apakah sudah sesuai antara target dan capaiannya.
Jika kita melihat tantangan universitas dewasa ini, maka ke depan harus dirancang secara memadai untuk menjadi Smart Campus. Untuk ini perlu dipetakan secara mendasar bagaimana posisi kita sekarang dan bagaimana kira-kira ke depan. Bagi saya untuk menjadi Smart Campus, maka harus memenuhi tiga hal, yaitu: infrastruktur, SDM dan sistem. Anggaran UINSA harus didorong ke sini, bagaimana belanja infrastuktur IT, SDM berbasis IT dan sistem yang mapan. Jika perlu harus outsourcing SDM untuk mendukung infrastruktur dan sistem. Kita harus memperhatikan prediksi Prof. Clayton Christenson, Guru Besar Business School pada Harvard University, bahwa dalam jangka waktu 10 sampai 15 tahun ke depan, yang akan eksis adalah PT berbasis IT. Kita harus menentukan kapan UINSA bisa menjadi Smart Campus. Buat perencanaannya dengan menentukan sasaran dan indikatornya, bagaimana target dan kapan dilakukan dan apa yang dicapai pada tahun yang sudah ditentukan tersebut. Kita harus memegang teguh, apa program piroritasnya, bagaimana melakukannya, kapan tercapainya dan apa implikasinya bagi upaya peningkatan kualitas UINSA.
UINSA sudah terakreditasi A secara institusional, maka yang juga menjadi prioritas adalah bagaimana UINSA bergerak ke Akreditasi internasional. UIN Malang sudah memiliki dua program studi yang terakreditasi di AUN-QA. UINSA harus menuju ke sana, harus mendorong program studi yang terakreditasi A yang secara pengalaman akademis dan administrasi sudah mencukupi, maka harus didorong untuk meningkatkan akreditasinya. Jumlah doktor, profesor, dan jurnal UINSA “Journal of Indonesian Islam” sudah menduduki peringkat Q1 dengan SJR yang sangat baik. Lalu jurnal-jurnal yang lain perlu ditingkatkan pengakuannya, baik Scopus, WoS, atau Sinta sehingga akan turut serta dalam peningkatan kualitas UINSA.
Dari sisi WEB UINSA sudah mendahului PTKIN di Indonesia. Tahun 2010 UINSA sudah masuk ke Webometric. Posisi pertama dalam penilaian berbasis Web ini harus direbut kembali dengan memaksimalkan peran para dosen UINSA. Kekayaan file hanya bisa diperoleh jika semua dosen menulis dan terus menulis. Semua karya dosen maupun mahasiswa harus terupload di repository UINSA. Tidak boleh ada yang tercecer. Universitas Petra, Universitas Diponegoro dan UI pernah menjadi PT dengan repository terbaik. Kapan UIN akan memasuki hal ini? Termasuk juga HAKI yang juga harus dipastikan bahwa semua karya dosen sudah memiliki HAKI serta paten. Perlu manejemen jemput bola jangan menunggu.
Yang tidak kalah penting adalah konvergensi Tri Darma Perguruan Tinggi. Diperlukan upaya untuk melakukan rekonstruksi kurikulum yang mengadaptasi kemenyatuan pembelajaran, riset dan pengabdian masyarakat. Diperlukan upaya-upaya untuk mengembangkan bahwa setiap program pembelajaran yang menghasilkan konsep akan dapat dijadikan sebagai bahan dasar penelitian dan kemudian ditemukan relevansinya dengan pengabdian masyarakat. Dosen dan mahasiswa bisa bekerja bersama untuk mengaktualisasikan hal ini. Melalui konvergensi Tri Darma Perguruan Tinggi maka akan dihasilkan lingkungan akademik yang kondusif bagi institution culture. Budaya menulis, penelitian, pengabdian dan lingkungan sosial yang islami perlu mendapatkan ruang yang memadai.
Last but not least, pada ulang tahun UINSA ke 56 ini, kita harus mengapresiasi semua civitas akademika UINSA, yang telah bekerja keras untuk pengembangan UINSA. Tidak saya sebutkan semuanya, karena beberapa nama sudah saya sebut sebelumnya, para guru besar: Prof. Ahmad Zahro, Prof. Ali Mufrodi, Prof. Aswadi, Prof. Burhan Jamaluddin, Prof. Juwariyah, Prof. Damanhuri, Prof. Imam Ghozali, Prof. Ali Mudhafir, Prof. Ma’shum, Prof. Abu Azam, Prof. Sahid HM, Prof. A. Zakki Fuad, Prof. Alfin, Prof. Imam Mawardi, Prof. Fathoni, Prof. Masruhan, Prof. Biyanto, Prof. Kusairi, Prof. Suhartini, Prof. Yasid, Prof. M. Sholeh, Prof. Idri, Prof. A. Kadir Riyadi, Prof. Ali Mas’ud, Prof. Titik Tri Wulan Tutik, Prof. Husniyatus Salamah Z, Prof. Abdul Hadi, Prof. Mas’an Hamid, Prof. Hussein Aziz, Prof. A. Khozin Affandi, Prof. M. Tholhah, Prof. Zuliati Rohmah, dan juga Rijalul Faqih, pejabat yang banyak saya ajak diskusi dan Rofik yang selalu saya complain jika Web UINSA ngadat. Termasuk Dr. A. Zaeni, yang sering saya panggil “mister IDB” dan juga para dekan di lingkungan UINSA yang tentu berkontribusi bagi pengembangan UINSA.
Tugas kita masih banyak untuk pengembangan UINSA ke depan. Semua harus bergerak sinergi dan tanpa henti untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi pengembangan UINSA lima sampai 10 tahun ke depan. Jangan pernah berhenti, siapa yang berhenti meskipun sejenak akan tergilas. UINSA usianya sudah 56 tahun sehingga harus menggambarkan prestasi yang aduhai.
Wallahu a’lam bi al shawab.

