(Sumber : Generate AI)

Agama, Media Sosial dan Kebencian Sosial

Opini

Jika kita ingin masuk dalam dunia keributan, masuklah di dalam hiruk pikuk media social. Khususnya youtube. Di sini apa saja disajikan. Bisa nasehat keagamaan, bacaan Alqur’an, kajian hadits, dan kajian fiqih serta berbagai informasi yang menyesatkan, informasi yang membuat dampak psikhologis, hingga pembunuhan karakter. Tidak hanya ini, juga konten-konten yang merusak prilaku masyarakat, juga tersaji dengan transparan. Era sekarang memang bukan era searching atau era ingin memperoleh informasi, akan tetapi era exposing atau era semuanya serba ada. Tinggal kita akan memilih mana konten yang mendidik atau konten yang merusak. Serba ada. Orang bisa bebas mau mengakses apa saja. Tidak ada yang melarang. Memang sekarang adalah era kebebasan berekspresi dan kebebasan untuk mengakses produk ekspresi. Yang tersisa hanya kemampuan untuk memilah dan memilih, mana yang dianggap bermanfaat dan mana yang tidak. Sekaranglah saatnya, rational choice sedang  menemukan tantangannya.

  

Media social sedang memanjakan mata kita. Media social sedang meninabobokkan telinga kita. Begitu mudahnya kita dapat mendengarkan lagu-lagu pada tahun 1970-an hingga lagu-lagu tahun 2026. Lagu dengan berbagai genrenya tersaji dengan apik. Begitu mudahnya kita mengakses informasi di masa lalu hingga kini. Begitu mudahnya orang mengakses tayangan-tayangan yang bisa merusak moral. Begitu mudahnya orang menyajikan berita-berita yang tidak sesuai faktanya. Sungguh kita sedang berada di era, kebebasan tanpa batas, yang ditandai dengan betapa permissiveness-nya media social di tengah kehidupan sosial. 

  

Di dalam kasus akhir-akhir ini, misalnya tayangan ulang peristiwa masa lalu, yang kemudian diungkap lagi dan menjadi viral lagi. Kasus imam shalat, kasus Ba’alawi, kasus guru ngaji dan sebagainya yang menjadi trending. Kasus-kasus tersebut diungkap dengan mengedepankan tema-tema sensitive yang melibatkan agama, relasi social dan respon social yang sangat kuat. Dibalik semua itu sesungguhnya terkait dengan perebutan otoritas yang sedang trending. Misalnya kasus Bang Haji Rhoma Irama sebenarnya peristiwa lama, tahun 2023, yang dapat dikaitkan dengan masalah merebaknya kasus penilaian ulang atas kepastian nasab yang tersambung secara genealogis dengan Rasulullah SAW. Kasus Ba’alawi. 

  

Dapat dipahami sebab di dalam kehidupan ini tentu ada pilihan rasional, dan Bang Haji Rhoma Irama memang berseberangan dengan para muhibbin, yang selama ini menyatakan dirinya sebagai keturunan Rasulullah. Sedemikian kuatnya konflik antara Bang Haji dengan para Muhibbin, di antaranya adalah Habib Rizieq dan Bahar bin Smith, maka kemudian muncul tayangan-tayangan yang menyudutkan Bang Haji, khususnya terkait dengan bacaan Qur’annya pada waktu menjadi imam shalat. Inilah yang kemudian digoreng untuk menjatuhkan kewibawaan Bang Haji dalam penguasaan ilmu agama, khususnya ilmu Al-Qur’an.

  

Bagi saya, Bang Haji bukanlah sekedar seorang penyanyi dangdut, akan tetapi raja penyanyi dangdut Indonesia. Melalui peran Beliaulah  music bergenre dangdut yang semula dianggap sebagai music kampungan maka menjadi go international. Music dangdut terkenal di Amerika Serikat dan juga Eropa. Selain itu beliau juga seorang agamawan yang banyak memberikan taushiyah tidak hanya melalui syair-syair lagunya, akan tetapi juga berdakwah secara langsung kepada masyarakat dalam berbagai level dan strata sosialnya. 

  

Bahkan ada banyak murattal Qur’an yang ditayangkan oleh para penggemarnya. Ada banyak tayangan bacaan Qur’annya sewaktu menjadi imam shalat. Semua dapat didengarkan dengan seksama tentang kualitas bacaan Qur’annya. Tentu ada bacaan asli yang diperdengarkannya melalui tayangan yang jujur dan bisa juga, sekali lagi bisa juga, ada tayangan yang sudah direkayasa untuk dipersalahkan atau agar menjadi salah. Bukankah di dunia media social itu suara dan gaya bacaan Alqur’an serta kualitas bacaan Alqur’an bisa diubah yang jelek menjadi baik dan yang baik menjadi jelek. Serba mungkin. Serba bisa. 

  

Media social memang merupakan arena pertarungan yang melibatkan mereka yang sedang berkonflik apalagi konflik tersebut melibatkan tokoh-tokoh besar dalam masyarakat di Indonesia. Melalui tayangan di media social, kita tentu tahu siapa dibalik yang menyerangnya dengan tayangan-tayangan yang membunuh karakternya dan siapa-siapa yang berusaha untuk menjelaskan apa adanya atau ada juga yang membelanya. Semua akan bisa dirunut dari siapa actor-aktor dan agen-agen di belakangnya.

  

Lagi-lagi kita memang harus prihatin, bahwa media social yang sesungguhnya merupakan media yang value free, tetapi kemudian dimanfaatkan kebebasan nilainya tersebut menjadi ajang untuk saling bertempur untuk kepentingan kelompoknya. Manusia memang harus memilih atas prilaku yang dianggapnya benar dan sesuai dengan akalnya untuk dipilihnya. Tidak ada manusia yang tidak melakukan pilihan di dalam hidupnya. Bang Haji memang memilih prilaku untuk melawan atas otoritas habaib. Dan inilah yang menjadikannya harus berhadapan secara head to head dengan kelompok ini.

  

Oleh karena itu, tayangan di media social tentu tidak ada yang bebas nilai. Semuanya berbasis pada pilihan rasional dan bahkan juga pilihan supra rasional atau supra rational choice, yang telah menjadi pilihannya. Hanya saja yang tetap harus menjadi bahan keprihatinan adalah banyak tayangan tersebut yang membully dengan konsep-konsep agama.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.